In memoriam: Badrus Syamsi

Bandung. Dua hari jelang pergantian tahun. Sejak siang macetnya ampun-ampun. Perjalanan balik ke Jakarta pun hingga tengah malam belum sampai juga. Seisi mobil sudah tertidur, sementara saya yang di belakang setir mencoba melawan ngantuk dan jenuh. Antara ada dan tiada. Tiba-tiba, kedua lengan bawah tangan saya yang pegang setir terasa hangat, padahal mestinya sama dinginnya dengan temperatur AC mobil. Aneh.

Firasat menyergap dan saya enyahkan segera dari pikiran. Tetapi memang, kehangatan mendadak itu membuat saya kembali terjaga.

Tolah toleh. Tol menuju Jakarta ternyata masih macet.

***

Hari kedua 2019. Untuk kali pertama login BBO setelah hampir semingguan off. Masih gak percaya sudah tak bertemu lagi dengan akun ITS__11 di sana. Selamanya. Yang punya akun sudah berpulang ke Rahmatullah di penghujung akhir 2018. Badrus Syamsi nama lengkapnya. Sempat beberapa kali berpasangan di meja bridge, terlebih sebelum saya memutuskan di tahun 2012 mengambil jarak dengan bridge offline (sebagai istilah untuk memudahkan menyatakan negasi dari bridge online).

Episode awal semester pertama 2018, setelah saya berkantor day to day di Jakarta, beberapa kali sempat bertemu almarhum. “Wes tekan endi? Lek wes tekan stasiun Kalibata kabari yo, engkuk tak papak,” katanya waktu itu. Jika kemudian saya dan Wuryan nonton Liverpool, almarhum sesekali melirik layar televisi sambil tergelak lepas memainkan distribusi kartu bridge di aplikasi BBO. Menipu robot atau ditipu robot, katanya sambil tertawa.

foto terakhir, 5 Januari 2018. Gak sengaja ketemu di kantin ITS

Usai pertandingan Liverpool dan pembahasan ngalor-ngidul lainnya, almarhum mengajak saya untuk kembali turun di pertandingan resmi sebagaimana dulu. Tapi penjelasan saya, panjang kali lebar kali tinggi, membuatnya memahami, keinginan saya sedemikian kuat. Dan waktu ternyata tak cukup bagi saya menyelesaikan apa yang harus diselesaikan, sementara almarhum sudah purna tugas di dunia. Sorry yo Drus …

***

Bandung. Kota favorit saya untuk bermain bridge. Selain kenangan atas Kejurnas Bridge Mahasiswa 2001, juga ada kejuaraan bridge skala nasional di sana. Geologi Cup namanya. Beberapa kali kami turun di kejuaraan itu sebelum saya gantung kartu. Beberapa kisah bisa di baca di sini.

Meski hanya menjadi tim nyaris karena tragis di bawah garis yang lolos babak final, kehadiran Badrus dan Wuryan adalah angin baru buat tim kami. Di saat para alumni bridge ITS lain sudah sibuk dengan kesibukan masing-masing, kehadiran pasangan jangkar Badrus dan Wuryan sungguh berarti. Andai saja mereka sudah bermain bridge sejak level mahasiswa, mungkin kisah-kisah di kejurnas mahasiswa bisa berbeda cerita.

Badrus (dan juga Wuryan), baru bermain bridge setelah ditulari pasangan (hidup) masing-masing yang notabene pemain bridge ITS untuk kejurnas mahasiswa. Keduanya, zaman mahasiswa lebih ngetop sebagai penyiar radio eksperimen di kampus dibandingkan tertarik menekuni distribusi-distribusi kartu bridge. Tapi relasi keduanya seperti mimi lan mintuno. Tumbu ketemu tutup. Bila Wuryan berhalangan, barulah saya menjadi partner pengganti.

Kisah tentang almarhum sebagai penyiar bisa dibaca di sini.

Selain kisah itu, ada satu kisah yang juga saya ingat. Awal perkenalan dengan Badrus dengan kasus yang agak lucu. Jadi ceritanya masih di era Soeharto, Badrus terkena razia polisi di dalam kampus. Tidak terima, ramai-ramai kemudian kami memprotes ke Polresta Surabaya Timur, bahwa tak semestinya polisi bisa seenaknya masuk wilayah kampus. Karena kasus itu pula, saya dan kawan Edo yang kebetulan jadi senator Senat Mahasiswa ITS di komisi pembelaan dan kesejahteraan mahasiswa, menghadap Bapak Moesdarjono Soetojo, yang waktu itu menjabat Pembantu Rektor II ITS, untuk mendapatkan data-data bahwa benar jalan raya ITS adalah lahan kampus dan bukan lahan umum. Dengan data itu, kemudian Badrus banding di pengadilan tilang, dan entah bagaimana ending-nya kemudian.

***

Kepergian Badrus (41 tahun, 1977-2018) sungguh mendadak. Seharian beraktivitas, sempat potong rambut, ambruk dan masuk IGD RS Haji Surabaya, pindah ke ICU, koma, dan berpulang esok paginya, tepat di hari terakhir 2018. Tak ada lagi tawa renyahnya, tak ada lagi celetukan mbanyol-nya, tak ada lagi gojlok-gojlokan yang kadang terdengar bagi orang luar terasa nylekit-nya. Tak ada lagi pembahasan bidding robot yang tak masuk akal. Tak ada lagi: next board please …

Berbahagialah engkau Drus, yang sudah dibebaskan dari tugas dunia. Doa kami atasmu, allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Kewajiban kami menyelesaikan apa yang harus kami selesaikan.

Selamat jalan, partner!!

[kkpp, 03.01.2019]

nb. saya baru ngeh, mengapa almarhum memilih akun ITS__11, dan betapa sedihnya kebetulan-kebetulan atas angka 11 itu …

Satu respons untuk “In memoriam: Badrus Syamsi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s