Sudah dua kali kejuaraan Geologi Cup di Bandung, Geologi Cup ke-9 dan ke-10, kami menggunakan nama AIC sebagai nama team kami. Jika ada yang bertanya, kami akan menjawab santun: Alumni ITS. Lha “C” nya? Jawabannya: CLUB, jika yang bertanya masih belum kenal baik. Atau jika sudah kenal dekat, maka seringai tawa menyertai jawaban dari kami: CUK! mosok gak ngerti … Hehehe

Jaman kami masih mahasiswa dulu, AIC memang identik dengan Arek ITS CUK!! CUK sendiri adalah akronim dari Cerdas, Ulet, Kreatif. Selain itu juga menjadi sapaan antar kami, mahasiswa ITS, secara egaliter. Dalam diskusi, dalam pembicaraan sehari-hari. Khas Suroboyo-an.

Meski demikian, ada yang merasa ngeres, ada yang gak pas dengan akronim yang melekat di generasi kami itu. Lantas beberapa tahun kemudian, malah hampir dua dekade-an, lahirlah CAK menggantikan CUK. Amanah menggantikan Ulet.  Amanah yang ‘sekedar’ disisipkan. Asal bukan terdengar CUK yang  identik dengan pisuhan.

***

Jika ada yang pengin tahu sejarah mengapa “Arek ITS CUK”, inilah kisahnya sebagaimana di repost di milis al-its@yahoogroups oleh penulis artikelnya, sekaligus moderator milis tersebut, Cak Sentot Baskoro, senior saya yang justru sebenarnya kelahiran dan dibesarkan di Jakarta.

Arek ITS Cuk! Kebangkitan Yang Semu: Refleksi Budaya ITS Periode Awal 1990-an.
Oleh: Sentot Baskoro (NRP.1871200213)

Pendahuluan

Dalam berbagai sidang diskusi mailing list alumni ITS seringkali disebutkan yel-yel informal Arek ITS Cuk! (untuk selanjutnya disebut AIC). Berbagai sumber mendukung dan menganjurkan agar yel AIC Ini dijadikan yel resmi ITS, namun tidak sedikit pihak yang melihat yel AIC sebagai yel tanda ketidak-beradaban sehingga perlu untuk diganti.

Meskipun pengganti yel AIC belum berhasil (atau belum direncanakan untuk) dirumuskan, namun perlu kita cermati proses pembentukan yel AIC berikut segenap latar belakang sosial budaya yang mendorong populernya yel AIC ini. Makalah ini dibuat sebagai salah satu pembelaan diri atas kecaman yang
dituduhkan kepada saya yang dianggap sebagai pencetus yel AIC ini. Semoga gambaran yang saya sampaikan berikut dapat memperingan “dosa jariyah” saya selama ini.

Kronologis

Yel AIC sebenarnya sudah mulai digunakan secara internal oleh beberapa rekan mahasiswa Arsitektur ITS yg dijabarkan dalam bentuk kaos yang mereka pakai dalam salah satu pameran di Jakarta pada medio 1990. Sangat disayangkan bahwa peredaran kaos tersebut sangat bersifat internal sehingga tidak banyak mahasiswa maupun civitas academica ITS yang menaruh perhatian pada kaos tersebut.

Pada periode 1990-an tersebut pergerakan kemahasiswaan ITS sedang mengalami masa kebangkitan dari era stagnasi yang berlangsung sejak awal 1980-an. Hal itu ditandai dengan adanya diskusi terbuka dikalangan kemahasiswaan ITS yang
sangat intens tentang penerimaan konsep SMTP (Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi) berdasarkan Peraturan Pemerintah no.02/1989 yang kemudian dijabarkan
dalam SK. Mendikbud no.0457 tahun 1990.
Setelah mengalami berbagai kebuntuan pembicaraan, maka pihak Rektorat ITS dalam hal ini Pembantu Rektor III (Ir. Hadi Sutrisno), mengundang segenap pengurus lembaga kemahasiswaan ITS untuk suatu penyatuan visi dalam Rapat
Kerja Bidang Kemahasiswaan ITS yang diadakan di Pacet, Mojokerto, 10-12 Desember 1990.

Pada acara persiapan rapat kerja tersebut salah seorang rekan kami, saudara Noerman Setijadi (Matematika FMIPA) menyanggupi untuk menjadi penghubung ke pengurus KOPMA ITS untuk memperoleh sumbangan berupa kaos bagi para peserta rapat kerja tersebut. Namun disayangkan, pengurus KOPMA ITS kala itu, Saudara Maman (Teknik Industri), memberikan batas waktu penyerahan materi kaos hanya dalam tempo kurang dari 2 (dua) jam saja.

Dengan berbekal semangat untuk mendapatkan bantuan kaos, maka saya bersama-sama dengan saudara Noerman Setijadi, Prahoro Yulianto, Oki Arisulistijanto, Ali Suherman dan beberapa rekan lainnya di ruangan K-202, berupaya membuat disain kaos tersebut.

Pada proses pembuatannya saya melihat salah seorang mahasiswa Arsitektur ITS lewat dengan mengenakan kaos bertulisan AIC tercetak kecil di kerah belakang dengan format huruf balok. Berbekal insipirasi kaos Arsitek tersebut, maka saya buat sketsa disain gambar latar bangunan kampus Sukolilo yang khas dengan tulisan tangan AIC dominan di depan serta keterangan kecil di kanan atas: Rapak Kerja Bidang
Kemahasiswaan ITS, Pacet 10-12 Desember 1990.

Desain yang kemudian menjadi kaos ini kemudian dibagikan kepada seluruh peserta rapat kerja. Saya masih ingat betapa “miris”nya Pembantu Dekan III FMIPA ITS kala itu, Drs. Bambang Sumantri, M.Sc., tatkala membaca yel kaos tersebut. Beliau yang dikenal santri tersebut menyesalkan dibuatnya yel yang terkesan di luar norma kesopanan tersebut. Ironisnya, beliau terpaksa menggunakan kaos tersebut tatkala melihat Pembantu Rektor III ITS dan para aktivis kemahasiswaan yang
ada memakai kaos tersebut dengan kebanggan yang tinggi.

Semenjak itulah yel AIC menjadi populer di seluruh teritorial ITS, bahkan kepopulerannya menjangkau sampai ke beberapa alumni di Jakarta. Saya masih ingat betapa Ir. Aziz Bahalwan (Teknik Elektro) beserta Drs. Toto Tasmara yang kala itu masih bergabung dengan kelompok Humpuss, secara khusus meminta
dikirimi beberapa stiker berthemakan yel AIC tersebut.

Beberapa rekan aktivis dari Teknik Sipil, saudara Djoko Kecil dan M. Buana “Bun-bun” Rochman, mencoba memperhalus kekasaran yel AIC dengan memberi kepanjangan Cerdas Ulet Kreatif bagi C terakhir AIC. Dan ini kemudian dijadikan justifikasi penggunaan C terakhir pada yel AIC oleh generasi
kemahasiswaan berikutnya.

Budaya Transisi

Tidaklah lengkap untuk menilai proses pempopuleran yel AIC jika tidak dilihat situasi sosial budaya kemahasiswaan ITS pada periode tersebut.

ITS mengalami kemunduran pemikiran dan pergerakan kemahasiswaan semenjak didemisionerkannya (namun belum sempat dibubarkan) Dewan Mahasiwa ITS pada awal 1980an. Tidak ada yang tersisa selain keterpecah-belahan antar
jurusan/fakultas dengan sedikit kenangan cerita tempo doeloe dari beberapa mahasiswa veteran yang kesulitan untuk lulus.

Kemahasiswaan diwarnai oleh perseteruan antar jurusan yang tidak sehat dimana masing-masing jurusan berusaha menjadi uber alles dan berhak menyandang predikat wakil dan contoh dari ITS untuk dunia luar. Tercatat beberapa pemimpin jurusan besar yang saling berseteru dimotori oleh saudara
Koentjoro (Teknik Mesin), Susilo Baskoro (Teknik Elektro) dan beberapa rekan dari FTSP (saudara Djoko Kecil).

Satu-satunya kegiatan pemersatuan yang dianggap hampir berhasil adalah proyek Mobil Listrik Tenaga Surya Widya Wahana I (1989) yang dimotori oleh saudara Franciscus Rasdi (FNGT – Perkapalan). Namun sayang sekali kegiatan tersebut lebur ditelan friksi antar jurusan yang telah membutakan kemauan untuk bersatu secara holistik menjadi satu ITS.

Proses degradasi moral ini kemudian mencapai titik balik tatkala isu SMPT merebak di ITS. Semua PTN telah menerima SMPT (kecuali ITB yang baru menerima pada tahun 1992), dan para aktivis kemahasiswaan ITS menganggap perlu untuk melihat SMPT sebagai alat kembali ke kejayaan pemerintahan mahasiswa ala Dewan Mahasiswa yang lalu.

Di antara pergesekan fraksi jurusan/fakultas besar yang saling berebut jatah kursi dalam kepengurusan SMPT tersebut, muncullah beberapa pemikir dari jurusan/fakultas minoritas untuk mengajak berpikir diluar batas-batas fana disiplin dan kesombongan ilmu masing-masing.

Gerakan ini dimotori oleh saudara Rinaldi Idroes dan Oki Arisulistijanto dari FMIPA yang kemudian disambut ide persatuan lintas jurusannya oleh saudara Djoko Kecil (FTSP), Farid Al Fauzy (Teknik Kimia), Agung Marhaenis Mahendra (FTK), Subandi dan Saiful Mahdi (FMIPA) beserta beberapa rekan dari FNGT yang saya lupa namanya satu persatu.

Kesemuanya ini kemudian membentuk aliansi K-202 (disebut demikian karena intensitas rapat yang tinggi di ruangan K-202 tersebut).

Dengan melihat peta kekuatan yang terbagi rata antara jurusan Teknik Mesin,Teknik Elektro, dan Alinasi K-202, maka satu-satunya cara untuk memenangkan pertempuran bagi aliansi K-202 adalah menjalankan politik adu domba dimana dicoba dipecah-pecahkan kekuatan Teknik Mesin versus Teknik Elektro dengan perhitungan suara mahasiswa secara langsung.

Masih belum tergoyahkan, Teknik Elektro terpaksa dilemahkan kembali dengan cara mempengaruhi aliansi utama mereka, Teknik Komputer untuk bersikap netral.

Puncak dari perseteruan aliansi K-202 dengan Teknik Elektro dalam masalah kursi SMPT inilah yang kemudian dipertemukan di rapat kerja Pacet 10-12 Desember 1990 tersebut. Situasi yang memanas tersebut membutuhkan satu pemersatu yang bersifat
lintas disipliner, sangat kedaerahan, informal, bersahabat dan mudah diterima oleh semua pihak. Pilihan itu ternyata jatuh pada penggunaan yel AIC sebagai salah satu faktor pemersatu gerakan kemahasiswaan ITS kala itu.

Yel AIC digunakan untuk menggantikan yel-yel sektoral jurusan yang daat menimbulkan kebencian dari jurusan lainnya. Penggunaan yel AIC yang meluas kemudian menjadikan para mahasiswa ITS seolah mempunyai satu semangat baru
untuk bersatu dan membedakan diri dari perguruan tinggi lain yang ada di Jawa Timur. Hanya ITS yang menggunakan idiom Surabaya kelas bawah dalam yel AIC-nya.

Pasca Sosialisasi

ITS bersatu terlihat hampir menjadi kenyataan yang niscaya tatkala para alumni rapat kemahasiswaan tersebut berhasil mengangkat ketua SM-ITS pertama (saudara Oki Arisulistijanto) dalam suatu rapat penuh kekeluargaan di lantai II, gedung rektorat lama (plaza Dr. Angka) pada medio 1990. Hanya sayangnya kepengurusan tersebut tidak diakui secara resmi oleh pihak Rektorat ITS karena dianggap melenceng dari petunjuk teknis SK Mendikbud no.0457 tersebut.

Meskipun sempat mengalami masa kebersatuan ITS yang pendek (ditandai oleh Bhakti Kampus bersama 1991-1992) dan proyek Widya Wahana II (1992), namun proses pemersatuan ITS tersebut ternyata mengalami kemunduran kembali
tatkala para alumni rapat kerja kemahasiswaan tersebut mulai dikejar target kelulusan perkuliahan mereka masing-masing.

Tercatat kemunduran utama dialamai tatkala saudara Susilo Baskoro menyelesaikan studinya pada tahun 1991 yang kemudian diikuti oleh beberapa rekan mahasiswa lainnya sampai ke suatu titik dimana semangat untuk mempersatukan ITS melemah dikikis habis oleh tradisi bergesekan berfaham sporadisme dan nasionalisme jurusan yang sempit.

Penutup

Dalam beberapa tahun terakhir terlihat adanya keinginan untuk membangun citra kebesaran ITS pada para aktivis mahasiswa yang ada.

Mereka melihat sejarah dan mencoba untuk menghidupkan kembali idiom dan yel AIC, namun ternyata jaman sudah berubah dan bukanlah sambutan yang mereka dapatkan melainkan hujatan yang terutama diajukan oleh kaum beradab
berpendidikan tinggi yang kebanyakan bukanlah dari kalangan marhaen asli Surabaya.

Yel AIC memang harus diganti, namun sudah siapkah kita menggantinya? Sudah siapkah kita dengan momentum untuk sosialiasinya? Sudah adakah “satu alasan untuk bersatu” yang sangat mendesak?

============================================================================

Makalah ini dibuat secara spartan dan ceroboh untuk acara Ceramah Kebudayaan & Diskusi Panel Pengurus Pusat IKA-ITS di Surabaya, 22 Nopember 2001.
Segenap kritik maupun diskusi lanjutan dapat diajukan melalui internet ke alamat sentot@…

***

Jadi pilih yang mana: CUK atau CAK? atau Ah, I see … (tetep, pelafalan AIC).

[kkpp, 20.12.2010]

 


Satu pemikiran pada “AIC

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s