“Kapan kita main pasangan? Pasti nggak mau ya main sama saya … ,” pertanyaan dari Pak Pur dengan senyum terkekeh khasnya, begitu yang sering ditanyakan kepada saya jika kami bertemu, masih terngiang. Pertanyaan itu biasanya saya iyakan, tapi sudah tak ada lagi yang akan bertanya seperti itu lagi. Beliau sudah berpulang ke Sang Penciptanya, Kamis (8/6), pas di malam ke-14 Ramadan 1438H di RS Haji Surabaya. 

Pertanyaan itu sepertinya juga bukan monopoli saya semata. Kawan-kawan yang lain malah sudah berkesempatan bermain dengan beliau di turnamen-turnamen resmi atau juga di latihan-latihan bersama. Saya belum berkesempatan. Apalagi sejak lima setengah tahun ini saya hanya bermain online sesempatnya dan sudah tak lagi bermain di turnamen-turnamen. Pak Pur, maafkan saya …

Di bridge, berpasangan adalah syarat mutlak. Pun jika tak punya, sebagaimana di bridge online, Anda harus berpasangan, setidaknya dengan robot. Maka, bagi Pak Pur, pertanyaan itu adalah kesiapan untuk berpasangan dengan siapa saja. Kesiapan untuk menerima segala kelebihan dan kelemahan sang partner. Bukan hal yang mudah lho berpasangan dengan siapa saja. Karena berpasangan, haruslah berbekal pengetahuan, berbagi janjian, serta kesiapan menerima kesalahan dari pasangan. Poin ketiga ini yang cukup berat untuk olahraga bridge yang mana kemenangan lawan ditentukan oleh kesalahan kita. Tak semua orang bisa bermain bridge dengan banyak pasangan. Malah kabarnya, ada salah satu maestro bridge yang dikenal hanya berpasangan dengan satu orang saja.

Dari sini saja Pak Pur adalah pribadi yang istimewa. Rendah hati dan open minded. Sebagai pemain bridge, kalau level kita beginner, trus menanyakan kepada siapa saja pertanyaan di atas, ya orang juga tentunya akan bilang: mbok ya mikir … . Tapi ini yang menanyakan adalah Pak Pur, pemegang medali emas PON 1966 yang sudah bermain bridge bahkan sebelum GABSI (Gabungan Bridge Seluruh Indonesia, PSSI-nya bridge kalau istilah yang biasa digunakan Jawa Pos) dilahirkan di tahun 1953. Beliau yang sudah makan asam garam bridge, bersedia menawarkan untuk berpasangan dengan siapa saja, termasuk saya yang skill-nya level junior gak pernah naik tingkat dari tahun ke tahun.

“Saya yakin bridge mampu melatih ingatan saya dan saling toleransi kepada pasangan main” ~ Pur Byantara

Kekaguman saya lainnya adalah perihal kekonsistensian pengabdian dan dedikasi beliau kepada dunia bridge nasional. Khususnya di Jawa Timur. Beliaulah simpul utama dari bridge Jawa Timur. Bahkan beliau begitu identik dengan apa dan bagaimana bridge Jawa Timur itu sendiri. Jika ada anekdot bahwa Gubernur Jatim adalah Gubernur Noer sedangkan yang lain penggantinya, mungkin berlaku pula buat Pak Pur. Pak Pur lah ketua Pengda GABSI Jatim yang lain hanya penggantinya.

***

Masih teringat dulu saat kami bermain bridge tahun 93-an, kami yang hanya biasa main di kantin ITS mulai diajak bermain di Gedung Balai Sahabat Surabaya di jalan Gentengkali. Bridge yang awalnya bagi saya sekedar permainan kartu, ternyata bridge lebih dari sekedar sebuah permainan. Pak Pur-lah yang dengan tegas mengenalkan kepada kami bahwa bermain bridge haruslah bersepatu, tidak boleh pakai sandal jepit. Merokok tidak boleh dilakukan selama permainan. Dua hal yang jelas-jelas menyulitkan bagi beberapa kawan. Bukan hanya kawan, pemain-pemain lain yang lebih senior juga banyak yang terkaget-kaget. Malah ada yang sempat diusir tidak boleh bermain. Begitulah, transformasi budaya bermain bridge kami bisa berlangsung berkat kepemimpinan yang visioner dan tegas dari Pak Pur.

Selain dua hal tersebut, Pak Pur pula yang juga mengajarkan bahwa bridge haruslah tepat waktu. Telat bisa berakibat pengurangan nilai dan pernah sekali berpengaruh kepada hasil tim di meja pertandingan. Jika beliau menjadi pimpinan pertandingan, beliau dengan tegas menghukum, jika beliau menjadi peserta tak segan pula beliau mengingatkan bahkan mengomeli. Walhasil, akhirnya kami bisa juga tertib waktu di tengah era masyarakat Indonesia yang kental jam karetnya.

Saking segannya kepada beliau, kapan hari saya pernah dikerjain oleh seorang kawan. Manager ITS Bridge Team di Kejurnas Bridge 1995, Bali. Sang kawan doktor yang kini sudah menjadi pejabat di rektorat ITS itu, suatu ketika menelpon saya di nomer ketiga saya. Pas karena tidak bisa saya angkat, saya membalas dengan sms: “dengan siapa ini, tadi telpon saya. mohon maaf saya masih meeting”. Dijawab singkat: “Pur”. “Pur siapa?” tanya saya lagi. “Pur Byantara,” jawabnya. Saya kaget, karena tak biasanya beliau kontak saya ke nomer itu. Saya langsung ampun-ampun, …. . Ternyata kemudian chat ampun-ampun itu diskrinsut serta dikirimkan ke group. Matilah saya jadi bahan tertawaan. Buat mengenang peristiwa itu, di hp yang menyimpan nomer ketiga saya tersebut, nama sang kawan masih saya beri identitas nama Pak Pur.

Saya juga tak bisa melupakan kesempatan dari Pak Pur kepada kami. Mahasiswa ITS dan Unair untuk dilibatkan menjadi panitia event international di Bali, 5-18 Juli 1995, tepatnya Kejuaraan Dunia Yunior ke-5, diikuti 12 tim dari berbagai zona di belahan bumi. Pengalaman yang luar biasa. Bahkan saya yang waktu itu harus meninggalkan LKMM Tingkat Menengah ITS (yang pesertanya pilihan) karena jadwalnya pas berbarengan, tak membuat saya menyesali keputusan memilih ikut ke Bali daripada ber-LKMM -ria di kampus.

Banyak hal yang saya dapatkan dari keikutsertaan saya di Kejuaraan Dunia di Bali itu. Pengalaman ramai-ramai dikursuskan Bahasa Inggris secara intensif dengan pengajar native speaker secara gratis, pengalaman ke Bali untuk pertama kalinya (hihihi, ndeso ya), pengalaman mendapatkan pendapatan yang jumlahnya cukup besar di zaman itu dari keringat sendiri, pengalaman berinteraksi dengan pemain-pemain kelas dunia yang saya ingat tentunya si kembar, Justin & Jason Hackett, sang tulang punggung juara kejuaraan tersebut dari Inggris.

Yang menyenangkan saat itu juga adalah saya terlibat menjadi pendamping Bang Mecky Saraun di ruang duplikasi. Bertiga dengan bos kami dari Yunani yang namanya susah dieja, kami mengoperasikan mesin duplimate yang digunakan untuk mempersiapkan board-board yang akan dimainkan di sepanjang kejuaraan. Dengan duplikasi ini, semua meja pertandingan memainkan board dengan distribusi kartu secara bersamaan tanpa perlu antri. Sebelum ada mesin duplimate, duplikasi dilakukan secara manual yang membutuhkan waktu dan ketelitian yang lebih dibandingkan dengan menggunaka mesin.

Sepulang dari kejuaraan dunia itu, spesialisasi sebagai duplikator board terus saya emban hingga sekitar tahun 1998-an. Biasanya tugas itu saya kerjakan di kantor Pak Pur di bilangan jalan Basuki Rahmat, tak jauh dari mall paling ngetop di Surabaya saat itu. Ya lumayanlah, dari tugas itu saya bisa mendapatkan tambahan uang saku yang sangat berarti buat mahasiswa.

Terima kasih, Pak Pur. Terima kasih buat segalanya. Kesempatan, kehangatan, dan keteladanan.

***

Pak Pur dan Ketua Umum KONI-Gabsi
Pak Pur (bersongkok hitam, tengah) berfoto bersama Bapak Tono Suratman, Ketua Umum KONI periode dengan PB GABSI 2011-sekarang, beserta pengurus  PB GABSI (sumber foto: http://bola.liputan6.com/read/2149435/kemenpora-dukung-bridge-di-popnas-2015)

Pur Byantara. Begitu nama lengkap Pak Pur. Tak banyak informasi yang bisa didapati di laman facebook-nya selain beliau menulis berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah. Di laman linkedin, saya juga menemukan beliau dengan keterangan di bio sebagai berikut: Independent E-learning Professional. Meski tak banyak keterangan di sana, tapi saya meyakini bahwa akun di linkedin itu adalah punya beliau, karena saya percaya beliau adalah tipikal yang tak menganggap usia adalah hambatan untuk belajar dan tidak gagap teknologi.

Bagi beliau, akhir Februari yang lalu menjadi peringatan ulang tahun beliau yang ke-87 dan terakhir.

Semoga segala kebaikan almarhum serta keteladanan almarhum yang menginspirasi murid-murid beliau dan kami semua masyarakat bridge Indonesia, akan mendapat ridlo Allah SWT. Semoga pula ampunan dan rahmat Allah SWT atas almarhum.

Tak ada lagi kiriman email-email berisi foto-foto panoramik dan foto-foto human interest yang biasanya beliau kirimkan kepada saya. Foto-foto yang memang kesukaan saya. Tak ada lagi ajakan bermain pasangan. Tapi kenangan akan beliau akan senantiasa abadi.

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun.

Selamat jalan, Pak Pur.

[kkpp, 09.06.2017]

note:

*) Quote di atas adalah pernyataan Pak Pur sebagaimana disampaikan oleh Debora Dea saat bertemu beliau di bulan Oktober 2016. Tulisan lengkap bisa dibaca di sini.

Satu pemikiran pada “In memoriam: Pur Byantara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s