Melanjutkan dari serial sebelumnya (baca di sini), tentang sampahan di twitter yang justru tak ingin dibuang.

***

#101 – 01/04/11 | Perjalanan tanpa ujung. Berawal darimu. Melintasimu. Berakhir padamu. Aku melompati batas waktu. @sajak_cinta

#102 – 07/04/11 | HURUF dan KATA. Bukan perkara DNA yang identik jika DAN, juga AND merangkai makna yang sama. @fiksimini

#103 – 08/04/11 | aku yg fakir malu, mencoba menawar kadar rindu, menakarnya dengan kelu. saru! @sajak_cinta

#104 – 11/04/11 | MEMANCING dg KANCING. “Done, boss!” Begitu sms dari salesforce-ku yang baru. Aku cuma kasih petunjuk bagaimana melepas kancing. @fiksimini

#105 – 12/04/11 | TINGGAL KLIK. Klik di sana dan klik di ujung rana. Tanpa notifikasi, dalam hitungan detik buyar semua perjalanan karir. @fiksimini

#106 – 14/04/11 | Tak berdaya. Binar matamu kerlip kemewahan yg tak tergapai. Tp tak apa. Aku punya satu, yg kucopet saat pertama kita bertemu @sajak_cinta

#107 – 17/04/11 | datanglah hujan, datanglah bersama sebuah bayang! gemuruh bunyimu di talang membangunkan sekerjap kenangan @sajak_cinta

#108 – 17/04/11 |  kenangan tinggal bersama senja, asa tinggal bersama fajar. sementara kita larut dalam pusaran semburat jingga keduanya @sajak_cinta

#109 – 20/04/11 | ‎menulislah! dari 140 karakter, kemudian 140 kata, 140 alinea, 140 halaman hingga tak berhingga …

#110 – 22/04/11 | ‎memahami perbedaan hanya dengan mengakrabinya

#111 – 22/04/11 | Bagai sandal, aku mengkhawatirkanmu. Bukan karena hilang sepasang, tapi hilang sebelah. Tak tau hendak diapakan yg tersisa @sajak_cinta

#112 – 22/04/11 | ada gelisah yang menyelinap pada cermin, tentang luka yang tak kupunya: masa lalu. Pyarr! cermin pecah. masa lalu gelisah! @sajak_cinta

#113 – 23/04/11 | inilah cerita tentang air mata, yang mengaburkan suka dengan luka. hingga kau datang menengahinya. @sajak_cinta

#114 – 26/04/11 | Kapalku penuh muatan, pantaimu terlalu dangkal. Berlabuh padamu hanyalah karam sebelum tujuan @sajak_cinta

#115 – 27/04/11 | aku setia pada pagi dg kopi ilusi menemani. aroma hingga denting cangkir menautkanku pada kecupanmu yang tak pernah menemani. @sajak_cinta

#116 – 27/04/11 | mengejamu setiap hendak terlelap. musuh kita ialah waktu yg tak ragu bergerak maju. padahal kecupanmu tertinggal di masa lalu @sajak_cinta

#117 – 30/04/11 | sajak ini kutujukan pada sunyi mata hati yang mati. saat kata menjadi janji basi. saat makna tak lagi berarti. @sajak_cinta

#118 – 01/05/11 | di binarmu aku takluk. layaknya lilin tunduk pada api. sekedip leleh @sajak_cinta

#119 – 03/05/11 |  beribu cara berbapak upaya. takkan yatim piatu aku menggamit relung hatimu terdalam @sajak_cinta

#120 – 04/05/11 | rinduku bagai sekam. mendekam penuh geram @sajak_cinta

#121 – 04/05/11 | di sanalah mimpiku bermuara. saat rindu tak lagi jumawa bersuara @sajak_cinta

#122 – 05/05/11 | jika penguasa tak mencoba menempatkan transportasi publik sebagai pilihan utama, maka macet tak bakal terurai

#123 – 05/05/11 | jika laik, layak, cepat, aman dan terjangkau, maka transportasi publik jadi pilihan sadar bukan karena keterpaksaan

#124 – 06/05/11 | cinta dan airmata, ladang kita berkarya. memberi sedikit warna dunia. @sajak_cinta

#125 – 10/05/11 |  kadang rindu menjemputku tiba-tiba. saat hati tak berkemas malah tak sempat keramas @sajak_cinta

[kkpp, 07.02.2012, bersambung]

Satu pemikiran pada “Dibuang Sayang (5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s