Dibuang Sayang (5)

Melanjutkan dari serial sebelumnya (baca di sini), tentang sampahan di twitter yang justru tak ingin dibuang.

***

#101 – 01/04/11 | Perjalanan tanpa ujung. Berawal darimu. Melintasimu. Berakhir padamu. Aku melompati batas waktu. @sajak_cinta

#102 – 07/04/11 | HURUF dan KATA. Bukan perkara DNA yang identik jika DAN, juga AND merangkai makna yang sama. @fiksimini

#103 – 08/04/11 | aku yg fakir malu, mencoba menawar kadar rindu, menakarnya dengan kelu. saru! @sajak_cinta

#104 – 11/04/11 | MEMANCING dg KANCING. “Done, boss!” Begitu sms dari salesforce-ku yang baru. Aku cuma kasih petunjuk bagaimana melepas kancing. @fiksimini

#105 – 12/04/11 | TINGGAL KLIK. Klik di sana dan klik di ujung rana. Tanpa notifikasi, dalam hitungan detik buyar semua perjalanan karir. @fiksimini

#106 – 14/04/11 | Tak berdaya. Binar matamu kerlip kemewahan yg tak tergapai. Tp tak apa. Aku punya satu, yg kucopet saat pertama kita bertemu @sajak_cinta

#107 – 17/04/11 | datanglah hujan, datanglah bersama sebuah bayang! gemuruh bunyimu di talang membangunkan sekerjap kenangan @sajak_cinta

#108 – 17/04/11 |  kenangan tinggal bersama senja, asa tinggal bersama fajar. sementara kita larut dalam pusaran semburat jingga keduanya @sajak_cinta

#109 – 20/04/11 | ‎menulislah! dari 140 karakter, kemudian 140 kata, 140 alinea, 140 halaman hingga tak berhingga …

#110 – 22/04/11 | ‎memahami perbedaan hanya dengan mengakrabinya

#111 – 22/04/11 | Bagai sandal, aku mengkhawatirkanmu. Bukan karena hilang sepasang, tapi hilang sebelah. Tak tau hendak diapakan yg tersisa @sajak_cinta

#112 – 22/04/11 | ada gelisah yang menyelinap pada cermin, tentang luka yang tak kupunya: masa lalu. Pyarr! cermin pecah. masa lalu gelisah! @sajak_cinta

#113 – 23/04/11 | inilah cerita tentang air mata, yang mengaburkan suka dengan luka. hingga kau datang menengahinya. @sajak_cinta

#114 – 26/04/11 | Kapalku penuh muatan, pantaimu terlalu dangkal. Berlabuh padamu hanyalah karam sebelum tujuan @sajak_cinta

#115 – 27/04/11 | aku setia pada pagi dg kopi ilusi menemani. aroma hingga denting cangkir menautkanku pada kecupanmu yang tak pernah menemani. @sajak_cinta

#116 – 27/04/11 | mengejamu setiap hendak terlelap. musuh kita ialah waktu yg tak ragu bergerak maju. padahal kecupanmu tertinggal di masa lalu @sajak_cinta

#117 – 30/04/11 | sajak ini kutujukan pada sunyi mata hati yang mati. saat kata menjadi janji basi. saat makna tak lagi berarti. @sajak_cinta

#118 – 01/05/11 | di binarmu aku takluk. layaknya lilin tunduk pada api. sekedip leleh @sajak_cinta

#119 – 03/05/11 |  beribu cara berbapak upaya. takkan yatim piatu aku menggamit relung hatimu terdalam @sajak_cinta

#120 – 04/05/11 | rinduku bagai sekam. mendekam penuh geram @sajak_cinta

#121 – 04/05/11 | di sanalah mimpiku bermuara. saat rindu tak lagi jumawa bersuara @sajak_cinta

#122 – 05/05/11 | jika penguasa tak mencoba menempatkan transportasi publik sebagai pilihan utama, maka macet tak bakal terurai

#123 – 05/05/11 | jika laik, layak, cepat, aman dan terjangkau, maka transportasi publik jadi pilihan sadar bukan karena keterpaksaan

#124 – 06/05/11 | cinta dan airmata, ladang kita berkarya. memberi sedikit warna dunia. @sajak_cinta

#125 – 10/05/11 |  kadang rindu menjemputku tiba-tiba. saat hati tak berkemas malah tak sempat keramas @sajak_cinta

[kkpp, 07.02.2012, bersambung]

Dalang Banyak Anak

“Polisi bosok sak bosok-bosok’e,” raung seorang pria muda saat memasuki warung kopi yang tak berbatas. Pengunjung yang tak banyak pada sore itu hanya sekedar menoleh mencari sumber suara, seolah meminta kelanjutan cerita yang hendak diumbar ke segenap penjuru warung.

Mosok, wes sepedaku ilang, malah aku sing dipajeki,” lanjutnya seraya duduk di dingklik yang kelihatan tua tapi telah terbukti kokoh. “Biasane, Cak” katanya lagi pada Cak Rie sang pemilik warung memesan secangkir kopi.

Mben-mben, gak gelem anak turunku ono sing dadi polisi,” gerutuan itu masih berlanjut meski secangkir kopi telah terhidang.

Trus pengin dadi opo lho? Lha wong jaksa, hakim, anggota dewan, dan kiyai sekalipun yo podho bosok’e,” Cak Rie menimpali.

Yo dadi wong apik ae, Cak. Sing soleh, siang taat ambek wong tuwane,” sang pria berkata ringan seraya mencari koran pagi yang telah lusuh di sore itu.

Sampeyan melok ka-be?” tanya seorang pengunjung lainnya sambil mengulurkan koran yang telah dibacanya sejak tadi. Lha kopinya saja  telah hampir mencapai  dasarnya.

Iyo lah, program pemerintah iku. Apik gawe kene-kene sing gajine gak sepiro.

Rugi nek ngono sampeyan. Laopo kabe-kabean barang. Iku ngono mek program dodolane pabrik kontrasepsi ben payu.

Kok iso? Wes gak jamane maneh banyak anak banyak rejeki”

“Lho justru iku. Coba lek sampeyan duwe anak akeh. Kabeh soleh dan taat ambek wong tuwane. Trus sampeyan, kongkon sing siji dadi jaksa, sing siji dadi hakim, sing siji dadi pengacara, sing siji dadi polisi, sing siji dadi kiyai. Sing loro liyane dikon dadi politisi ndhek partai menang, sing siji ndhek partai oposisi. Loro karone mlebu senayan kabeh. Wes rampung negoro iki. Gak ruwet maneh.”

Cak Rie dan sang pria muda menunggu kelanjutan cerocosan si pengunjung lain itu.

“Bingung? Lha, lek iku mau kabeh anake sampeyan soleh dan taat ambek sampeyan kan karek opo jare sampeyan. Sampeyan dadi dalang’e negoro iki. Arep nglakokno lakon opo yo terserah sampeyan. Jaksa, hakim, pengacara, polisi, anggota dewan, kiyai, wes dadi wong apik kabeh dan bisa dikondisikan untuk mbangun negoro iki. Dadi gak perlu sampeyan bengak-bengok nang warung iki. Sakno Cak Rie mumet ngrungokno curhatan ben uwong sing bendino yo iku-iku ae.”

Wes ah, wayahe surup iki, wayahe pemanasan nggawe anak,” lanjut si pengunjung seraya menyorongkan selembar uang  ke Cak Rie.

Lha nek kabeh dadi bajingan?” kata Cak Rie sambil cengar-cengir.

Yo apese sampeyan. Wes dikei anak akeh jik gak pengalaman ae ngrumat anak.”

“Walah, gendheng mangan semir.” 

[kkpp, 02.02.2012 *terinspirasi thread di salah satu milis* ]

Kisah Lama Tak Selalu Usang

Di akhir minggu awal Desember kemarin, saya menghabiskan dua buku lama yang dicetak ulang. Yang pertama adalah komik Tintin edisi ke Sovyet. Sedang yang kedua adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk. Pilihan atas kedua buku itu bersamaan dengan titipan Nuha (aih, merekah juga waktu tahu si sulung mulai gemar membaca) untuk mencarikan salah satu seri dari “Kecil-kecil Punya Karya”. Memang ada beberapa buku lainnya yang juga menarik, misalnya saja biografinya Steve Jobbs atau kumpulan tulisan Dahlan Iskan, atau sebuah novel yang berlatar kisah lumpur Lapindo.

Keterbatasan waktu untuk membaca, tampaknya membuat saya memilih dua buku tentang kisah lama yang tak usang dibandingkan tiga buku baru yang kinyis-kinyis yang bisa ditunda kapan membacanya. Sebuah kebetulan, kedua kisah lama itu pada tahun ini divisualisasikan melalui media film.

***

Kisah Tintin memang seolah datang dari masa lalu. Dulu saya mengakrabinya dari perpustakaan punya sekolah dasar yang sudah lusuh dan robek di sekeliling halamannya. Kadang jika punya uang saku berlebih, saya menyempatkan  untuk sekedar naik bemo ke pusat kota, tempat dimana saya bisa membaca gratis buku-buku yang belum diplastiki. Hehe, maklum, uang saku saya tak sanggup untuk menebusnya dan membaca di rumah.

Meski sudah beberapa waktu yang lalu kisah petualangan Tintin diterbitkan ulang, rasanya tetap menyenangkan menemukan salah satu kisah Tintin bersampul sederhana: putih, di salah satu rak toko buku. Judul lengkapnya adalah Petualangan Tintin Wartawan “Le Petit Vingtième” – di Tanah Sovyet. Buku yang ini rasanya sulit ditemukan di masa-masa lalu. Berkisah saat Tintin bertugas meliput apa yang terjadi di Sovyet, yang mana kemudian banyak mengalami hambatan karena dihadang oleh orang-orang partai komunis yang tengah berkuasa di sana.

Yang menarik pada buku ini, Snowy, anjing putih yang setia pada Tintin, masih dituliskan bernama Milo. Konon, nama Milo ini diambil dari nama pacar yang belum sempat dinikahi sang penulis: Herge. Saat membikinnya, Herge masih berusia 23 tahun.

Gambarnya masih hitam putih dan terasa kasar. Juga masih belum ada tokoh-tokoh yang lain sebagaimana di edisi yang lain. Maklum, inilah Tintin edisi pertama, yang diterbitkan secara bersambung di surat kabar Le Petit Vingtième, Belgia, sejak 10 Januari 1929 hingga 8 Mei 1930. Baru setelah itu, kisah ini dibukukan hanya untuk 500 eksemplar saja.

Pada kisah ini, penggambaran anti komunis sangat terasa seiring dengan hitam-putihnya sketsa Tintin dan Milo yang sedemikian mudah untuk lolos dari berbagai kesulitan berbanding terbalik dengan sedemikian gampangnya para komunis pengejarnya kehilangan buruan.

***

Sebagaimana Tintin di tanah Sovyet yang pernah dimuat secara bersambung, novel dari Ahmad Tohari berjudul Ronggeng Dukuh Paruk, juga berawal dari cerita bersambung yang pernah dimuat di surat kabar. Malah novel ini merupakan penyatuan dari trilogi (mungkin jaman itu istilah novel trilogi masih belum sesemarak saat ini): (i) Ronggeng Dukuh Paruk (ii) Lintang Kemukus Dini Hari, serta (iii) Jantera Bianglala.

Novel ini divisualisasikan menjadi film "Sang Penari", dan karenanya, buku yang saya baca di akhir minggu kemarin adalah buku dengan tambahan sampul sebagaimana gambar di atas yang tengah. Di sisi kiri, adalah sampul asli novel ini, sedang sisi kanan adalah sampul dari edisi bahasa inggrisnya.

Dengan penggabungan ketiga novel menjadi satu dalam Ronggeng Dukuh Paruk, maka semakin kompletlah kisah Srintil dan Rasus, sepasang anak manusia yang dilahirkan di desa miskin di selatan Jawa Tengah, Dukuh Paruk. Berawal dari Srintil yang didaulat menjadi Ronggeng, tradisi yang ternyata tak jadi mati, tetapi di sisi yang lain, Rasus jadi kehilangan sosok Srintil karena menjadi ronggeng berarti menjadi milik semua orang, serta keberhasilan Srintil yang menjadi ronggeng ngetop melampaui dukuhnya yang miskin. Hingga malapetaka yang dialami Dukuh Paruk karena dikaitkan dengan geger politik terkelam negeri ini di tahun 1965, sementara di sisi yang lain, Rasus sudah terlanjur menjadi tentara. Biar hanya berpangkat rendah, seluruh dukuh memujanya.

Ahmad Tohari menggambarkan gejolak hati sepasang anak manusia itu dengan penuh getir, bahwa cinta tak selalu sejalan dengan keinginan masyarakat. Saat keduanya menginginkan, satu dukuh atas nama tradisi menginginkan sang ronggeng yang baru dilahirkan setelah menunggu sekian tahun. Di kemudian waktu, saat dukuh menginginkan sang tentara menjadi pahlawan bagi ronggeng yang telah terstempel ex tahanan politik, sang tentara harus berpikir ulang.

Tetapi yang utama, Ahmad Tohari piawai mendongeng bagaimana kemiskinan itu sedemikian dekat bagi pembacanya. Coba saja lihat beberapa frase di awal kisah sebagai berikut:

Kemiskinan di tangan Ahmad Tohari adalah dongeng nyata di sekitar kita. Kisah lama yang tak usang.

[kkpp, 05.12.2011]

Senyum Temaram

Terbangun pada jelang fajar. Suasana temaram menyapa kesadaran yang belum sepenuhnya terjaga. Ah iya, ini kan di Gili Trawangan, bukan Surabaya. Dilanjutkan tidurnya, sambil memeluk istrinya yang baru dinikahi seminggu yang lalu. Senyum lepas pada wajah terlelap di sampingnya membuatnya segera ikut kembali terlelap.

Gili Trawangan - Suatu Pagi

***

Lima belas tahun yang lalu, senyum itu telah menghantuinya. Temaram malam di malam api unggun tak dapat menyembunyikan keindahannya. Sayang ia tak cukup berani menyapa pemilik senyum dari gugus depan 1) tetangga itu. Hingga akhirnya, suara kakak pembina yang mengasuh acara malam itu membuatnya semakin menggigil, “Radit. Regu Rajawali Gudep Kosong Tujuhbelas. Maju ke depan. Tugasmu berjoget menemani Ratri Regu Melati Gudep Kosong Tigapuluh.” Ya, nama pemilik senyum itu adalah Ratri. Sementara peserta api unggun lainnya kian tergelak melihat tarian robotnya karena sepenuhnya ia menggigil.

***

Dua tahun yang lalu, seorang laki-laki muda merutuk dalam hati, “Ah, angin apa yang membawaku ke tempat gelap ini.”

“Sudahlah, Dit. Tinggal masuk saja. Di dalam mau ngapain terserah kamunya. Namanya juga laki-laki dan wanita di ruang yang sama,” ujar seseorang yag lebih berumur menyemangati laki-laki itu. “Tinggal pilih saja mau yang mana.”

“Ah, Boss saja yang memilihkan. Boss kan lebih pengalaman”

“Haha, soal selera bukan masalah pengalaman, Dit,” katanya sambil menyodorkan daftar kumpulan foto cewek-cewek dengan nomor di bawahnya.

Diamatinya daftar itu. “Pasti banyak tipuan sotosop ini, mana temaram pula,” rutuknya dalam hati. Sementara temannya menggodanya,”Dit, dit, milih cewek gini aja kayak mau milih istri aja. Banyak banget pertimbangannya. Kalau tidak cocok, besok datang lagi, hahaha.”

“Ah, resek loe, boss,” ujarnya sambil tergesa menunjuk nomor tiga puluh ke gadis manis GRO 2) yang menemani mereka berdua. “Baik, mari kami antar ke kamar,” kata gadis itu.

***

Kamar itu cukup bersih. Bahkan boleh dibilang standar hotel berbintang. Tetapi temaram membuat jantungnya berdetak. Seumur-umur baru kali ini dirinya nyasar ke tempat beginian.

“Selamat malam,” seseorang masuk ke kamar setelah mengetuk pintu. “Benar dengan nomor tiga puluh, kan pak? Kok masih belum dibuka bajunya?” lanjutnya tanpa jeda dan terasa ampyang karena terdengar di-riang-riang-kan.

Radit menoleh ke sumber suara. Dandanan dan temaram tak mampu menyembunyikan senyum itu. Senyum yang menghantuinya sejak tiga belas tahun yang lalu, akhirnya diketemukan lagi.

“Ratri?”

[kkpp, 31.07.2011]

1) gugus depan: satuan pramuka, biasanya satu sekolah punya dua nomor berurutan, yang ganjil untuk satuan putra, yang genap untuk satuan putri

2) GRO: guest relation officer