Masih ingatkah era tahun 80an, saat masyarakat diwajibkan membayar iuran televisi? Bahkan waktu itu ada sweeping segala ke tiap rumah? Saya lupa-lupa ingat. Maklum masih pakai seragam putih merah. Yang pasti sih, televisi di rumah masih hitam putih. Namun dari televisi itulah saya pertama kali jatuh cinta dengan sepakbola Liverpool saat menyaksikan final Piala Champions 1985, yang mempertemukan Liverpool dan Juventus, serta menorehkan tragedi yang tak kan terlupa. Tragedi Heysel.

Waktu itu kita hanya mengenal stasiun televisi milik pemerintah, baik yang ada di Jakarta maupun ada yang berada di daerah-daerah. Lantas kita mengenal televisi swasta. Dari sana kita mengenal sinetron dan juga tayangan langsung sepakbola mancanegara tiap akhir minggu. Dan akhirnya, ada beberapa perusahaan yang mencoba menawarkan tv berbayar ke pasar Indonesia.

Dengan lebih dari 200 juta penduduk, dan tipikal masyarakat yang konsumtif, tentunya Indonesia adalah pasar yang menjanjikan. Sementara di sisi yang lain, masing-masing penyelenggara televisi berlomba mencari materi tayang yang bisa laku. Rating, penonton, dan iklan adalah tuhan-tuhan baru yang terus diburu. Kadang mereka membikin acara sendiri, atau menjiplak mengekor tetangganya, membeli franchise, atau membeli paket tayang yang sudah jadi. Yang penting bagaimana bisa tetap mengudara dan ada cash flow yang menjalankan perusahaan.

Beberapa hari terakhir, Astro, salah satu televisi berbayar dari Malaysia yang baru masuk pasar Indonesia, banyak menerima hujatan dari seluruh penggemar Liga Premier Inggris, EPL (kini punya nama baru, BCL), karena telah membeli hak siar penayangan di seluruh kawasan Indonesia. Langkah Astro tersebut serta merta juga menutup kemungkinan untuk nonton Liga Inggris secara gratisan sebagaimana tahun-tahun yang lalu.

Mana yang kita pilih? Mengikuti tv berbayar atau tv-tv swasta yang telah ada? Sebenarnya sih, berpulang kepada kita. Bukankah kita adalah penonton? Penontonlah yang akan menentukan kemana channel tv akan tampil di rumah masing-masing. Penontonlah yang akan memutuskan apakah tv dalam keadaan hidup atau dimatikan. Terlepas bahwa PLN-lah yang paling menentukan. Tanpa perjuangan PLN, terpaksalah kita akan menonton tv menggunakan genset atau accu …

[kkpp, 16.08.2007]

3 pemikiran pada “Kini Era TV Berbayar?

  1. TV berbayar memang sedang marak di Indonesia. Kelangkaan listrik di beberapa daerah juga menjadi issue tersendiri sebab TV saja pun membutuhkan listrik, apalagi perangkat untuk menangkap siaran TV berbayar. Sebagai penonton kita perlu memilih TV berbayar sebelum memutuskan untuk berlangganan salah satu selain agar kita puas, juga agar produsen puas, sama-sama puas.

    Cermati perkembangan program TV berbayar di

    TV Bayar

    atau

    http://tvbayar.blogspot.com

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s