Tutup

Bertanya

Malu bertanya sesat di jalan.

Begitulah nasehat yang sering kita dengar. Nasehat yang mendorong kita agar tidak segan untuk bertanya atas segala sesuatu yang belum kita ketahui agar tidak mengalami ‘ketersesatan’.

Tahun 2010, Ajip Rosidi pernah mempertanyakan mengapa nasehat dan juga peribahasa itu masih digunakan, padahal, menurut Ajip lebih lanjut, di masa sekarang peribahasa itu sudah tidak tepat lagi.

Baca Selengkapnya

Nanti dan Tunggu

Nanti dan tunggu. Sebagai kata dasar keduanya berbeda. Tetapi jika dilekatkan imbuhan ‘me-‘, maka akan punya makna yang sama. Menanti dan menunggu, keduanya berarti sama: tinggal beberapa saat di suatu tempat dan berharap sesuatu akan terjadi atau berharap sesuatu akan datang. Baca Selengkapnya

Dirgahayu

Mumpung masih bulan Agustus, bulan kemerdekaan republik ini, ada kata yang sering digunakan secara luas di masyarakat Indonesia tetapi banyak juga yang masih salah menempatkannya. Kata itu adalah: DIRGAHAYU.

Dirgahayu adalah kata serapan dari bahasa Sanskerta, yang artinya adalah berumur panjang atau panjang umur. Tetapi tidak semata itu. Jika menilik kata aslinya, ada doa dalam dirgahayu, tidak semata panjang umur melainkan doa agar diberkahi usia yang panjang dan berlimpah energi positif. Sementara banyak yang memaknainya dengan makna yang salah kaprah, karena menganggap dirgahayu adalah sama dengan “selamat ulang tahun”, sama dengan “hari ulang tahun”.  Baca Selengkapnya

Menjilat Matahari

Frase yang menjadi judul tulisan ini: ‘menjilat matahari’ tentunya dipopulerkan oleh God Bless, salah satu grup musik legendaris tanah air yang identik dengan vokalisnya: Achmad Albar.

Menjilat Matahari adalah salah satu lagu di album Raksasa, album keempat God Bless yang dirilis tahun 1989. Baca Selengkapnya

140 Karakter yang Menakjubkan

Pada awal kehadiran twitter, saya tak tahu bagaimana menikmatinya. Apalagi bagi saya yang sudah terbiasa dengan Facebook (FB) – setelah meninggalkan akun Friendster, twitter terlihat susah untuk larut  di dalamnya. Sampai kemudian saya menemukan: FIKSIMINI.

Menurut salah satu moderator di @fiksimini, Agus Noor a.k.a @agus_noor, melalui blog pribadi, fiksimini adalah fiksi, yang hanya terdiri dari secuil kalimat. Mungkin empat sampai sepuluh kata, atau satu paragrap. Tapi di sana kita beroleh  “keluasan dan kedalaman kisah”. Untuk lebih lengkapnya bisa baca di sini.

Meski bukan sesuatu yang baru, para penggagas fiksi mini: Agus Noor, Clara Ng dan Eka Kurniawan, yang juga dikenal sebagai penulis itu, kemudian sering memanfaatkan media twitter untuk menuliskan fiksinya, sebagaimana tokoh-tokoh lainnya yang juga memanfaatkan media twitter sesuai dengan cerminan pribadinya, misalnya untuk memberikan kul-twit (barangkali terjemahan bebasnya adalah kuliah lewat twitter).

Dengan dimoderatori para penggagas di atas, jadilah kemudian akun @fiksimini yang kini follower-nya sudah menjamur dimana-mana, persis layaknya logo fiksimini yang menggunakan jamur.

Awalnya saya cuma menikmati sebagai pembaca apa yang di-RT (baca: retweet) oleh para moderator. Takjub! Mereka benar-benar luar biasa! Dengan hanya tersedia 140 karakter, para penulis fiksimini bisa mengeksplor sebuah kisah dengan segala keterbatasan. Ada judul, ada alur, ada tokoh, persis sebagaimana bentuk fiksi-fiksi yang lain. Tapi yang ini cuma 140 karakter saja!!

Kemudian jadi pengin coba-coba menulis, apa lagi seorang kawan yang baru dikenalkan dengan fiksimini, lantas kemudian menjadi ketagihan menulis, semenjak tulisannya sering mendapat RT. Setelah dicoba, ternyata tantangan tersendiri memang. Apalagi bagi mereka yang menulis tanpa pernah merasakan keterbatasan jumlah halaman, jumlah kata, apalagi jumlah karakter!

***

Aturan dasarnya sih simple saja. Menulis dalam 140 karakter. Mirip sekedar update status di media jejaring sosial. Bila ingin di-RT oleh @fiksimini, maka ada aturan yang harus diikuti:

(i) menulis sesuai dengan topik yang disepakati hari itu, biasanya ada yang mengusulkan topik tertentu, dan dari beberapa usulan topik, moderator kemudian memilih salah satu dan me-RT topik tersebut,

(ii) mengembangkan topik menjadi kisah tersendiri, biasanya dilengkapi pula dengan judul,

(iii) jangan lupa, diberi ruang untuk me-mention @fiksimini, agar karya fiksimini dapat dibaca oleh para moderator dan dinilai kelayakannya untuk di-RT atau tidak. Jika memang dianggap layak, dan kemudian mendapatkan RT-an, rasanya ibarat menemukan tulisan kita disetujui dimuat di sebuah media. Karena, dari pengalaman, tidak mudah mendapatkan lampu hijau RT-an

Sebagai contoh, berikut ini adalah para pemenang fiksimini pada #fiksiminiawards2011, yang diumumkan pada Gathering Nasional Fiksiminier yang dihelat pada awal Januari ini, sebagai berikut:

Kategori Favorit (dipilih berdasarkan vote terbanyak)

@arievrahman SEJAK BERCERAI. Aku dan Ibu mendapat rumah, sedangkan Bapak yang memegang kuncinya.

Kategori Humor

I. @SigitHarjo: TERSESAT. “Numpang tanya, lihat pintu saya?”

II. @frezask: PACARKU NGAMBEK Tak mau diajak malam mingguan, kupikir lg PMS. Ternyata waktunya ganti baterai.

III. @reginahelin MALAM BULAN PURNAMA. Gigi taring Robert mencuat keluar. Bukan, dia bukan werewolf, dia memang tonggos.

IV. @arievrahman: SEJAK BERCERAI. Aku dan Ibu mendapat rumah, sedangkan Bapak yang memegang kuncinya.

V. @socrateslover: OPERASI KELAMIN LAGI. Aku msh tak menemukan kenikmatannya. Kali ini jk tak brhasil kupasang dua2nya.

Kategori Sosial

I. @dabgenthong: Lokalisasi melelang rnjng2 bekas, seorg perempuan tua membeli 1 ranjang. “Ini dulu ranjangku,” ktnya

II. @sisogi: DOA Hanya satu doanya. Tak bertemu siswanya saat jaga parkir.

III. @salmanaristo: MASA DEPAN Dia lulusan terbaik dari sekolah sulap nasional. Bagian pajak negara sudah mengincarnya.

IV. @LVCBV GANTI PROFESI Kmrn aku si gadis desa, hr ini siswi SMA, bsk aku nona perawat. Trgantung prmintaan pelanggan

V. @juneth_7: BATAL MAIN GOLF “Copot siapapun pejabat yg berwenang atas turunnya hujan ini!” perintah Bapak.

Kategori  Sci-fi

I. @ifanhere: QUANTUM EXPRESS TENG TONG TENG TENG “Perhatian. Perhatian. Kereta mnuju thn 4125 akan sgr dberangkatkn

II. @driveAnji SURAT DARI X UNTUK X Aku sedih bila km marah. Trlalu bnyk yg dkorbankn. Lihat, kini hny trsisa 2 planet.

III. @salmanaristo: JAUH Percakapan di sebuah cafe galaksi. “Cintaku jauh sekali.” “Di Mars?” “Bukan. Masa lalu.”

IV. @aku_adityo: KEMATIAN Saat akan didaur ulang robot mengajukn permohonan trkhr. “Jgn diprogram ulang cintaku pdnya.”

V. @LSAMLKASKUS: PEMBANGUNAN. Kini tak sulit lg jln ke desa sbrng. Sjk ada jembatan, tak prlu lg loncat pk tenaga dlm

Kategori Horor

I. @samjunanto: ABORSI. Untuk ke sekian kalinya aku gagal punya anak. Istriku selalu ngidam daging janin

@gayatrilukita: FEAR FACTOR Aku hrs berlomba makan belatung. Lawanku sangat tangguh. Separuh badanku sdh dimakannya.

@ifanhere: ULANG TAHUN Kakak memberiku hadiah. Kepala untuk kerudungku.

@tweet_erland: TELINGA MUNGIL DI SELOKAN. Anting-antingnya menghilang.

@blues8karen: RENCANA. Istrinya dimakamkan bsk. Dia pny waktu 24 jam utk mencari mayat wanita yg mirip dgn istrinya.

***

Nah, bagaimana? Asyik bukan?

Tertarik untuk ber-fiksimini-an? Dapat RT ya syukur, tidak juga tidak apa-apa.

Yang pasti jangan heran, bila kemudian menemukan status saya di FB terasa banget nuansa 140 karakter, soalnya terlanjur suka …

[kkpp, 19.01.2011]

Besar Pasak daripada Tiang

Peribahasa di atas mungkin termasuk peribahasa standar yang diajarkan di sekolah-sekolah kita. Maksudnya standar adalah hampir semua siswa akan mengenali peribahasa “besar pasak daripada tiang” di antara ribuan peribahasa yang kita punya.

Artinya pun tentu kita mengetahuinya. Adalah tidak lazim besar pasak daripada tiangnya. Jadi, tidak lazim pula besar pengeluaran daripada pendapatan. Selain itu, peribahasa tersebut kadang dimaknai lain sebagai ‘boros’. Kalau saya lebih suka memaknainya dengan definisi yang pertama karena lebih luas dibandingkan sekedar ‘boros’.

Meski termasuk peribahasa standar, sayangnya tak banyak orang yang menyadarinya. Padahal, jika berkonsultasi dengan financial planner/financial consultant -pekerjaan yang beberapa tahun terakhir mulai marak ditekuni secara profesional-, prinsip dari peribahasa inilah yang paling mendasar untuk disarankan.

Kegagalan kondisi keuangan kita, baik personal maupun institusi, biasanya karena kegagalan memahami pasak dan tiang. Sebaliknya, kesuksesan seseorang justru karena kemampuan memahami pasak dan tiang tadi.

Mari kita sedikit merenung, seberapa besar pasak kita dan seberapa besar tiang yang kita miliki. Seberapa besar pengeluaran kita dan seberapa besar pendapatan kita.

Sebagai ilustrasi, pernah menengok tenda Pramuka? Berapa besar pasaknya, berapa besar pula tiangnya?

Bila kemudian sudah tidak proporsional, secara matematis, ada dua pendekatan. Membesarkan tiang atau mengecilkan pasak. Atau bisa pula dilakukan keduanya secara paralel.

Mudah secara teori tapi susah di tataran eksekusi. Mengecilkan pasak, selama besar tiang adalah sama, berarti menurunkan level kenyamanan kita. Selama tidak ada penurunan besar tiang, kena PHK misalnya, bagaimana mungkin kita mengubah gaya hidup: misalnya, berubah moda transportasi harian kita, berubah menggunakan merk yang lebih murah, bahkan mengubah gaya makan dan ngopi kita.

Sementara, pilihan memperbesar tiang harus dicermati secara kreatif. Sebagai karyawan, dengan pendapatan yang terbatas, banyak yang memilih untuk kerja sambilan bahkan mulai mencoba berwirausaha. Tapi sayangnya, banyak juga yang mengambil jalan pintas dengan berkorupsi-ria, kucing-kucingan dengan segala aturan selama bisa disiasati.

Jadi, pilihan memperbesar tiang atau mengecilkan pasak adalah berpulang pada mentalitas kita dan prioritas mana yang akan kita pilih. Siapkah mengubah gaya hidup untuk mengecilkan pasak atau berwirausaha untuk perbesaran tiang hingga tak berhingga.

[kkpp, 10.03.2010]

Konsisten (2)

Isi angin, Pak.

Berapa?

Depan tiga satu (31). Belakang tiga lima (35).

Kira-kira, tentang apa dan di mana obrolan di atas? Tepat. Obrolan seorang pengendara yang hendak mengisi ban yang kempes. Obrolan yang biasa kita dengar karena kita memang terbiasa mengisi roda kita dengan angin’ (sebenarnya ‘udara tekan’ adalah istilah yang lebih tepat, karena berasal dari terjemahan ‘compressed air’), atau kini malah lebih ngetren bila diisi dengan nitrogen.

Lantas, sadarkah kita tentang angka tiga satu dan angka tiga lima mewakili apa? Betul. Itu perihal tekanan udara di dalam ban.

Nah, di sini masalahnya. Sebagai orang Indonesia, kita lebih mengakrabi ‘kilogram’ dibandingkan ‘pound’. Lebih akrab dengan ‘centimeter’ daripada ‘inch’ dan ‘feet’. Lebih akrab dengan ‘kilometer’ daripada dengan ‘mil’. ‘Celcius’ daripada ‘Fahrenheit’.

Kita mengakrabinya karena memang Indonesia adalah penganut SI, ‘Sistem Internasional’ (Système International d’Unités – International System of Units) sebagai satuan unit kuantitas dan pengukuran. Sayangnya, meski hanya konvensi, kita tidak cukup konsisten menerapkannya.

Balik ke angka 31 dan 35 sebagai contoh di atas, angka itu adalah tekanan standar untuk roda depan dan roda belakang Toyota Avanza. Angka itu diterakan oleh pabrikan sebagai standar bagi pengendara. Sayangnya angka itu bukanlah bersatuan SI, karena menggunakan psi (pound per square inch), dan bukan kg/cm2 atau menggunakan KPa. Pun sebenarnya juga bisa menggunakan bar yang meskipun bukan satuan SI, tapi sudah diadopsi oleh SI sebagai salah satu standar resmi.

Untungnya meski tak banyak pengendara yang tahu bahwa angka yang disebutkan saat mengisi bannya adalah bersatuan ‘psi’, tak ada yang khawatir bahwa bannya bakal meledak karena sang operator memahami bahwa 31 yang disebutkannya dipersepsikan sebagai 31 bar! Persis sebagaimana tak ada penumpang pesawat terbang yang khawatir saat sang pilot menyebutkan ketinggian pesawat dengan ‘feet’ dan bukannya dengan menggunakan ‘km’.

Di bangku sekolah kita diajarkan tentang SI, tapi di dunia nyata kita tak pernah menerapkannya secara konsisten, semata karena mengikuti barang-barang yang diproduksi oleh negara bukan penganut SI.

Indonesia oh Indonesia.

(kkpp, 05.03.2010)

Konsisten

Berasal dari kata serapan asing, yang menurut Oxford Dictionary berarti (1) always behaving in the same way, (2) happening in the same way and continuing for a period of time, …, konsisten telah menjadi salah satu kata dalam bahasa Indonesia yang cukup sering kita dengar.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, konsisten berarti (1) tetap (tidak berubah-ubah); taat asas; ajek; (2) selaras; sesuai: perbuatan hendaknya — dng ucapan

Meski demikian, kita justru mengakrabi lawan katanya :inkonsisten, tak konsisten: dalam dunia keseharian kita. Lebih mudah mencari perilaku tak konsisten dibandingkan dengan kekonsistenan. Contohnya saja, blog ini, yang tidak ajek di-update secara periodik. Hehehe.

Lebih jauh mencari ke sekeliling kita, semakin banyak ketidakkonsistenan itu. Janganlah dituliskan satu persatu, mintakan saja contoh kekonsistenan. Bisakah? Ada yang tahu?

(kkpp, 06/03/2009)

Nylimur

Nylimur memang bahasa Jawa. Arti bebasnya sih adalah mengalihkan perhatian, mengalihkan pokok pembicaraan sehingga hal utama yang sedang menjadi bahasan terlupakan. Biasanya sih dipakai anak-anak manakala ditanyakan tentang sesuatu hal yang dirasa memojokkannya. Anak saya yang belum genap empat tahun misalnya, saat ditanya siapa yang mencoret dinding, serta merta kemudian nylimur dengan bercerita keinginannya memelihara kelinci. Begitu halnya anak teman sekantor yang seumuran dengan anak saya bila ditanya apakah mau makan apa misalnya, jadinya malah nylimur bercerita tentang mobil bagus yang tengah lewat di jalan.

Sindrom nylimur ini ternyata tidak hanya menjangkiti anak-anak. Beberapa orang dewasa pun ternyata mengidap kebiasaan yang sama. Ketidakmampuan menghadapi pokok permasalahan dialihkan dengan harapan sang audiens akan terlupa pada pokok permasalahan. Bila sang audiens tipe pelupa, atau tipe yang suka larut dalam perbincangan, atau tipe yang tidak fokus pada permasalahan, trik nylimur ini sering berhasil.

Seorang rekan di kantor, bila mendapatkan komplain dari customer, sering menggunakan trik ini. Tekniknya adalah dengan mengetahui benar pokok-pokok apa yang menjadi kesukaan sang pengomplain, sehingga bisa dengan mudah berkelit dari pokok yang dipermasalahkan. Bila tahu benar, seringkali trik ini berhasil dan komplain pun redam dengan sendirinya. Kadang sih tidak berhasil. Tapi tak ada salahnya untuk dicoba. Hehehe.

Dan ternyata bila diperhatikan, kita pun adalah bangsa yang suka nylimur dan di-slimurkan. Contoh sederhana adalah apa yang terjadi pada hari Minggu (1/6) yang lalu. Aksi kekerasan yang dilakukan FPI pada massa aksi yang dilakukan oleh Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang kemudian disebut http://www.kompas.com sebagai Tragedi Monas, kemudian banyak di-slimur-kan dengan isu pembubaran Ahmadiyah, dan juga isu Islam versus Pluralisme. Padahal, terlepas perdebatan panjang tentang isu-isu lain yang terkait, masalahnya sebenarnya sederhana: perbedaan pendapat bukanlah seharusnya dilakukan dengan kekerasan. Titik. Atau dengan kata lain: penggunaan kekerasan untuk menyelesaikan permasalahan bukanlah sebuah cara yang seharusnya dipilih bangsa ini.

Bila Anda tak suka tawuran antar pelajar dan merasa ngeri pada saat berada di antara dua kelompok yang saling lempar batu tersebut, tentunya bisa menerima klausul tadi (baca: kekerasan bukanlah cara yang diambil untuk menyelesaikan perselisihan) terlepas apa penyebab tawuran antar pelajar itu (bisa jadi karena rebutan pacar, rebutan angkot, kalah main bola, dan sejuta penyebab lain yang bisa terkait).

Dalam konteks nylimur itu tadi, bagi penyuka teori konspirasi, jangan-jangan aksi hari Minggu itu adalah salah satu cara pemerintah untuk nylimur dari demo-demo menentang kenaikan BBM, yang belakangan pemerintah kewalahan menanganinya, bahkan upaya nylimur dengan melakukan penggerebekan Bea Cukai oleh KPK pun tidak cukup untuk mengalihkan perhatian.

Bagi media, budaya nylimur ini pun lebih menarik dibandingkan dengan terus mencermati kejadian yang telah berlalu. Bagi mereka, selama bisa jualan sesuatu yang panas, buat apa menjual yang sudah dijajakan kemarin.

Ah, nylimur, nylimur. Ada yang tahu padanan katanya dalam bahasa Indonesia apa?

[kkpp, 05.06.08]

%d blogger menyukai ini: