Catatan tentang Corona: Pagebluk

Semalam (19/6) ketika ketiban sampur menjadi moderator diskusi rutin Kelompok Kajian Jumat Malam (K-JAM, tentang aktivitasnya bisa baca di sini), saya diingatkan akan sebuah kata yang nyaris terlupakan: pagebluk. Bang Teddy Wibisina yang malam itu menjadi pembicara tamu, menyampaikan materi tentang kesiapan kesediaan pasokan obat dan APD (alat pelindung diri, banyak yang sering kepleset jadiLanjutkan membaca “Catatan tentang Corona: Pagebluk”

Bertanya

Malu bertanya sesat di jalan. Begitulah nasehat yang sering kita dengar. Nasehat yang mendorong kita agar tidak segan untuk bertanya atas segala sesuatu yang belum kita ketahui agar tidak mengalami ‘ketersesatan’. Tahun 2010, Ajip Rosidi pernah mempertanyakan mengapa nasehat dan juga peribahasa itu masih digunakan, padahal, menurut Ajip lebih lanjut, di masa sekarang peribahasa itu sudahLanjutkan membaca “Bertanya”

Dirgahayu

Mumpung masih bulan Agustus, bulan kemerdekaan republik ini, ada kata yang sering digunakan secara luas di masyarakat Indonesia tetapi banyak juga yang masih salah menempatkannya. Kata itu adalah: DIRGAHAYU. Dirgahayu adalah kata serapan dari bahasa Sanskerta, yang artinya adalah berumur panjang atau panjang umur. Tetapi tidak semata itu. Jika menilik kata aslinya, ada doa dalamLanjutkan membaca “Dirgahayu”

Menjilat Matahari

Frase yang menjadi judul tulisan ini: ‘menjilat matahari’ tentunya dipopulerkan oleh God Bless, salah satu grup musik legendaris tanah air yang identik dengan vokalisnya: Achmad Albar. Menjilat Matahari adalah salah satu lagu di album Raksasa, album keempat God Bless yang dirilis tahun 1989.

140 Karakter yang Menakjubkan

Pada awal kehadiran twitter, saya tak tahu bagaimana menikmatinya. Apalagi bagi saya yang sudah terbiasa dengan Facebook (FB) – setelah meninggalkan akun Friendster, twitter terlihat susah untuk larut  di dalamnya. Sampai kemudian saya menemukan: FIKSIMINI. Menurut salah satu moderator di @fiksimini, Agus Noor a.k.a @agus_noor, melalui blog pribadi, fiksimini adalah fiksi, yang hanya terdiri dariLanjutkan membaca “140 Karakter yang Menakjubkan”

Besar Pasak daripada Tiang

Peribahasa di atas mungkin termasuk peribahasa standar yang diajarkan di sekolah-sekolah kita. Maksudnya standar adalah hampir semua siswa akan mengenali peribahasa “besar pasak daripada tiang” di antara ribuan peribahasa yang kita punya. Artinya pun tentu kita mengetahuinya. Adalah tidak lazim besar pasak daripada tiangnya. Jadi, tidak lazim pula besar pengeluaran daripada pendapatan. Selain itu, peribahasaLanjutkan membaca “Besar Pasak daripada Tiang”

Konsisten (2)

Isi angin, Pak. Berapa? Depan tiga satu (31). Belakang tiga lima (35). Kira-kira, tentang apa dan di mana obrolan di atas? Tepat. Obrolan seorang pengendara yang hendak mengisi ban yang kempes. Obrolan yang biasa kita dengar karena kita memang terbiasa mengisi roda kita dengan angin’ (sebenarnya ‘udara tekan’ adalah istilah yang lebih tepat, karena berasalLanjutkan membaca “Konsisten (2)”