Malu bertanya sesat di jalan.

Begitulah nasehat yang sering kita dengar. Nasehat yang mendorong kita agar tidak segan untuk bertanya atas segala sesuatu yang belum kita ketahui agar tidak mengalami ‘ketersesatan’.

Tahun 2010, Ajip Rosidi pernah mempertanyakan mengapa nasehat dan juga peribahasa itu masih digunakan, padahal, menurut Ajip lebih lanjut, di masa sekarang peribahasa itu sudah tidak tepat lagi.

Dalam esainya yang dimuat di sini, Ajip Rosidi menyatakan bahwa peribahasa di atas didasarkan pada budaya Melayu dahulu yang masyarakatnya masih sederhana yang semua orangnya selalu bersedia menolong orang lain.

Dikatakannya di esai itu: “Akan tetapi, masyarakat kita sekarang (terutama yang tinggal di kota-kota besar) sudah menjadi masyarakat metropolitan yang orang-orangnya tidak mau tahu dengan urusan orang lain. Di samping itu, telah pula lahir generasi yang bukan saja tidak mau tahu dengan urusan orang lain, melainkan menganggap orang lain sebagai objek yang dapat mereka permainkan.”

Mungkin Ajip Rosidi benar. Esai itu tentunya didasarkan atas pengamatan beliau atas perubahan jaman. Beliau yang dilahirkan tujuh tahun sebelum proklamasi republik ini tentunya punya kacamata yang lebih lebar untuk membandingkan bagaimana masyarakat dulu merespon sebuah pertanyaan dengan bagaimana masyarakat sekarang merespon pertanyaan. Nyatanya di jaman sekarang, beliau pernah dipermainkan ketika bertanya, pun beliau pernah diacuhkan ketika bertanya.

Tetapi beliau mungkin melewatkan satu sisi yang lain. Penanya.

Bagaimanakah masyarakat sekarang? Masih malas bertanya sehingga perlu di-encourage oleh peribahasa dan nasehat: malu bertanya sesat di jalan?

Masih perlukah peribahasa itu dipertahankan di khasanah bahasa kita?

***

Bertanya. Terkesan sebagai hal yang mudah. Tiap hari bukankah kita setidaknya mengajukan sekurangnya satu saja pertanyaan? Tapi mengapa ada sesi pelatihan tentang bertanya? Mengapa cara bertanya yang baik saja perlu dilatih dan dibiasakan?

Saya harus berterima kasih kepada mbak Nani Wijaya, karena beliaulah saya jadi tercerahkan bahwa bertanya itu tidak sesederhana yang dibayangkan. Salah memilih yang ditanyain, bisa jadi tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan. Begitupun jika salah memilih kalimat tanyanya bisa jadi mendapatkan respon yang tidak diharapkan.

Saya termasuk yang setuju jika ada yang menyatakan bahwa untuk bertanya tak sekedar perlu ketrampilan melainkan bertanya memerlukan pemahaman atas seni bertanya.

***

Di era cyber kini, bertanya jauh lebih gampang. Tinggal ketik ke mesin pencari (search engine) semacam google, segala hal langsung didapatkan jawabannya. Tetapi ada yang kurang dengan proses itu. Ada interaksi sosial yang terlewat.

Sering saya menggunakan google. Tetapi terkadang saya masih suka membuka buku edisi cetak. Ada yang saya kangeni dari bunyi lembar halaman yang dibalik untuk mencari atau menandai sesuatu.

Begitu juga ada keingintahuan yang terwakili oleh google, tetapi ada yang berbeda jika seandainya saya mendapatkan jawaban langsung dari narasumber.

Sebuah kejadian. Di awal Agustus 2015, saya bertanya ke seorang kawan tentang arti kata ‘baper’. Waktu itu saya malas nanya ke ‘google’ dan memilih bertanya ke kawan. Eh ternyata di akhir tahun, pertanyaan yang saya tanyakan itu adalah yang tercatat sebagai pertanyaan paling ngehits di tahun 2015. (Tentang apa saja yang sering masyarakat tanyakan ke google di tahun 2015, sila baca di sini).

Begitulah. Begitu gampang kini orang bertanya. Hal sepele hingga yang rumit bisa dicari dalam sekejap. Era sudah berubah. Tetapi ada banyak hal yang tidak ditemukan di dunia cyber. Tentang rasa misalnya, masih sesusah Ebiet G Ade yang harus bertanya kepada rumput yang bergoyang untuk mendapatkan jawaban.

[kkpp, 23.12.2015]

Satu pemikiran pada “Bertanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s