Sejak beberapa hari belakangan ber-sliweran kata “tik tok” di lini masa twitter saya. Saya gak ngeh. Apa sih ini? Cuma ya sebatas itu. Tertarik untuk googling juga enggak. Toh entar penjelasannya juga muncul-muncul sendiri.  Beneran, akhirnya muncul juga jawabannya sore ini (3/7). Apa yang muncul di linimasa kemudian saya baca dan ikuti kemana link-nya. Kaget! (tentang bacaan itu bisa baca di sini.)

Ingin tahu lebih. Klik sana klik sini. Tanya beberapa kawan via whatsapp dan iMessage. Deg! Info dan keterangan yang saya dapat bikin kaget. Jangan-jangan Nuha tahu tentang tik tok ini. Kacau juga bila dia ikutan ber-tik-tok-ria.

“Nu, tahu tik tok?” tanya saya via whatsapp.

“Tau lah. Kenapa emang?”

“Itu apaan?”

“Kayak musically. Tapi versi asia kek nya. Aku gak begitu tau.”

Aku masih gak ngeh musically itu aplikasi apa lagi. Saya langsung merasa bersalah dan gagap teknologi.

Nuha melanjutkan, “intinya, app itu alay.”

Saya menjawab, “Ooooo … .”

“Tumben ayah nanya beginian. Kenapa?”

“Sedang ramai di twitter. Ayah gagal paham,” saya membuat pengakuan.

“Oalaaa. Itu racun itu. Sama kayak micin tapi lebih mematikan,” jawaban akhir dari si sulung yang baru naik ke kelas tiga SMP dan tengah keranjingan k-pop bikin saya ngakak dan juga bersyukur di detik yang sama.

Nduk, nduk

[kkpp, 03.07.2018]