Tutup

Tik Tak Tik Tok

Sejak beberapa hari belakangan ber-sliweran kata “tik tok” di lini masa twitter saya. Saya gak ngeh. Apa sih ini? Cuma ya sebatas itu. Tertarik untuk googling juga enggak. Toh entar penjelasannya juga muncul-muncul sendiri.  Beneran, akhirnya muncul juga jawabannya sore ini (3/7). Apa yang muncul di linimasa kemudian saya baca dan ikuti kemana link-nya. Kaget! Baca Selengkapnya

Celoteh Nuha: Ijin Jualan

“Yah, aku boleh minta ijin?” tanya Nuha pada suatu pagi yang sedang diburu mepetnya aktivitas harian yang sudah menunggu.

“Emang mbak mau ngapain?” aku balik bertanya. Sejak keberadaan adiknya tiga tahun yang lalu, kata ‘mbak’ jadi salah satu panggilan bagi putri sulungku yang baru berusia tujuh tahun itu.

“Aku mau jualan pas hari Minggu besok.”

“Emang apa yang mau dijual?”

“Susu kotak.”

“Hah?” aku pura-pura terkejut.

“Iya, bunda kan membelikan aku dan adik susu, nah itu yang mau kujual.”

“Ya jangan dong. Bunda kan membelikan mbak susu kan biar mbak jadi gemuk. Kalau susunya dijual mbak kan jadi makin kurus,” kataku sambil ketawa. “Emang mau dijual berapaan trus buat apa?”

“Seribuan yah, ntar aku masukkan tabungan.”

“Kalau mau jual(an), mbak harus bikin sesuatu. Kayak bunda bikin kue. Kalau jual susu, ya ndak boleh.” Nuha manggut-manggut.

“Mbak jadi bareng ayah apa bunda?” Obrolan harus segera diakhiri karena kami harus segera berangkat sebelum jalanan makin padat.

***

Keesokan harinya, Nuha melanjutkan obrolan, “Yah, aku jadi boleh jualan di hari minggu besok?”

“Emang mbak mau jualan apa?” jawabanku senada jawaban yang kemarin.

“Jual lirik lagu.”

Kali ini aku terkejut beneran. Terkejut atas ide jualan lirik lagu. Terkejut atas kesungguhannya jualan bahkan mencari alternatif jualan selain susu kotak yang telah aku veto kemarin.

Aku lantas menghampirinya yang tengah sibuk menulis.

“Ini aku menyalin lirik, besok aku jual,” di hadapannya ada cover cd yang berisikan lirik lagu anak-anak.

Lapak Nuha di depan rumah

Tak ada lagi yang disanggah. Aku hanya tersenyum, yang cukup diartikan bagi Nuha sebagai pertanda persetujuan.

Pagi ini, Minggu Pon 19 Februari, maka jadilah di depan rumah kami, Nuha membuka lapak, yang diangkatnya sendiri.

[kkpp, 19.02.2012, sent from my BlackBerry®]

Keping terkait:

Celoteh Nuha: Nama Lengkapnya Rotiboy

Celoteh Nuha: Ayah, Jangan Pulang Malam

Celoteh Nuha: Ayam Kakung

%d blogger menyukai ini: