Menjejak Indonesia

… patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat … ~ Soe Hok Gie

Saat membaca kutipan tersebut di awal masa menjadi mahasiswa, pernah terbesit untuk menjejak tanah air untuk mengenal Indonesia dari dekat.
menjejak indonesiaMemaknai “bhineka tunggal ika” hanya bisa dilakukan dengan merasakannya pada tiap perjumpaannya. Tanpa perjumpaan dengan perbedaan, pemaknaan perbedaan hanyalah sebuah wacana yang mengawan.

Baca selengkapnya

Seleb Twitter (2)

Iseng saya menemukan sebuah laman yang mengukur siapa sih pengguna dan pemilik akun twitter yang paling banyak follower-nya. Bisa dibaca di sini. Ya lumayan membantu untuk melihat statistik seleb twitter pada suatu masa. Tiba-tiba saya teringat, dulu saya pernah iseng (juga) membuat postingan tentang seleb twitter Indonesia (bisa dibaca di sini).

Menurut situs tersebut, pertanggal 29 Agustus 2014, inilah top akun twitter dari Indonesia dengan peringkat global: Baca selengkapnya

Nah kan, Kita (bisa) Juara …

Malam kian larut. Bahkan hari nyaris berganti menjadi hari Senin, hari tersibuk karena menjadi awal pekan.

Namun suasana seputaran Stadion Gelora Delta Sidoarjo malam itu (22/9) masih terasa hingar bingar. Parkiran yang meluber ke sepanjang jalan di area sekitar stadion masih penuh sesak. Kabarnya, situs AFF mencatat 35 ribu orang memenuhi stadion berkapasitas 30 ribu itu.

Penonton yang sudah keluar dari stadion masih terasa enggan untuk meninggalkan stadion, masih terasa lekat dengan rangkaian momen yang tak terlupakan. Belum lagi yang masih meluapkan keriangan bersama sang pahlawan di dalam stadion. Baca selengkapnya

Sejuta Hati untuk Gus Dur

Abdurrahman Wahid telah berangkat menghadap penciptanya untuk waktu tak terbatas. Bangsa ini telah kehilangan pahlawan humanis yang tidak mudah dicari penggantinya. Dengan novel ini, kenangan manis terhadap sahabat kita ini akan terus hidup dan segar dalam lipatan kurun waktu yang panjang” – Ahmad Syafii Maarif.

Demikian kutipan Ahmad Syafii Maarif, tokoh nasional sekaligus guru bangsa, yang tertera di sampul buku Sejuta Hati Untuk Gus Dur.

Buku ini saya peroleh hampir tiga bulan sejak kepulangan Gus Dur menghadap Sang Khalik. Baru sadar ternyata hampir lama juga saya tidak mampir ke toko buku.

Sebenarnya waktu itu hampir saja saya memilih buku tentang Gus Dur yang lain, sebelum mata tertumbuk pada kalimat berukuran kecil di bawah judul sebuah buku berukuran 13 kali 20 cm: Sebuah novel dan memorial. Hmm, menarik juga, Gus Dur dalam perspektif novel, pikirku.

Secara pribadi, aku yang bukan dibesarkan di lingkungan NU, merasa kehilangan sosok Gus Dur. Saat mendengarkan doa dari Gus Mus (KH Mustofa Bisri) pada saat pemakaman, meski hanya mendengarkan dari radio saja yang disiarkan secara live di Elshinta, sambil nyetir di tol waktu itu, tak terasa mata ikut berlinang…

***

Menurut penulisnya, Damien Dematra, buku ini memang dedikasikan untuk KH Abdurrahman Wahid, Presiden RI yang keempat, yang meninggal di RS Cipto Mangunkusumo pada hari Rabu, 30 Desember 2009, pukul 18.45 wib.

Penulis mendengar kabar duka pada saat melakukan audisi film, salah satunya adalah Gus Dur: The Movie. Dari script skenario Gus Dur The Movie inilah, novel ini dilahirkan. Sehingga waktu penyelesaian novel ini hanya membutuhkan waktu tiga hari dari hari duka.

Luar biasa! Sebuah kerja keras dan dedikasi melahirkan buku setebal 426 halaman hanya dalam waktu singkat. Rupanya penulis masih terngiang pesan Gus Dur padanya, “Aku sangat suka membaca novel dan menonton film. Aku harap suatu hari kisah hidup aku dapat menginspirasi kamu.” (hal. 288)

Sebagai memorial, buku ini terdiri dari obituari dari Ulil Abshar Abdalla, Sulaiman (asisten pribadi Gus Dur), dan Mgr. Johannes Pujasumarta (Uskup Bandung). Sedangkan kata pengantar disampaikan oleh Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah).

Selepas novel 35 bab, di bagian akhir masih memuat catatan penulis, kutipan lengkap wawancara penulis dengan keluarga Gus Dur, kata penutup dari Alissa Wahid mewakili keluarga Gus Dur. Serta berbagai kesan dari masyarakat yang terwakili melalui facebookers.

Novel sendiri bertutur maju. Diawali dari kisah sang kakek, saat masih di Mekkah akhir abad ke-19, kepulangannya ke tanah air, serta kisah sang bapak yang terlibat di perjuangan kemerdekaan republik ini. Rasanya, membicarakan Gus Dur tak bisa terlepas dari sosok sang kakek dan sang bapak: Hadratussyech Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Cerita kemudian berlanjut hingga ke masa kecil Gus Dur sebagai anak sulung yang juga anak seorang menteri yang suka sepakbola dan membaca, yang berbakat dalam bahasa asing dan jatuh cinta pada musik klasik, hingga saat-saat sulit karena menjadi yatim saat masih terlalu muda.

Saat-saat Gus Dur bersekolah, meniti karir sebagai pengajar, dan kemudian harus ke luar negeri. Kisah cinta hingga kisah sebagai suami dan ayah terwakili dalam buku ini. Sayangnya, kisah perjuangan Gus Dur tentang keindonesiaan dan keislaman, sejak di Mesir dan Baghdad, hingga kepulangan ke tanah air, meretas jalan dakwah melalui diskusi lintas agama, hingga menjadi orang nomor satu di Nahdlatul Ulama, dan hingga menjadi orang nomor satu di Republik Indonesia, kurang tergambarkan secara lengkap. Episode-episode penuh intrik dan konflik, tidak terpetakan secara penuh hingga mampu mengharubirukan pembaca.

Terlepas dari segala kekurangan, sebagai novel dan memorial, buku ini pantas diapresiasi. Sebuah cara baru memaknai salah satu tokoh Indonesia di pelataran sejarah negeri ini.

Ya, sejuta hati kami untukmu, Gus! Bukan semata air mata duka, tetapi keteguhan hati untuk berjuang: tentang keindonesiaan juga tentang keislaman.

(kkpp, 04.05.2010)