“Gimana caranya bikin grup?” tanya seorang kawan di sebuah grup whatsApp.

“Grup apa?” kawan yang lain segera menyambar.

“Mau buatin whatsApp grup buat keluarga,” kata sang penanya.

“Ya kudu rundingan rapat keluarga dulu.”

Saya yang hanya jadi pembaca saat berhenti di lampu lalu lintas berwarna merah jadi terbahak. Ngakak.

***

Begitulah obrolan kemarin sore (31/3) di grup menjadi salah satu cara mengisi waktu. Selain membuat terkoneksi dengan teman-teman lama, keluarga serta kolega kerja, kini kehadiran WhatsApp Group sepertinya sudah menjadi aplikasi utama untuk bisa ngobrol bersama-sama di suatu ruang tertentu. Ada aplikasi terdahulu yang merajai, BBM grup, kini semakin tersisihkan.

Sebenarnya, saya lebih senang dengan aplikasi grup di telegram. Tapi bagaimana lagi, gak banyak yang menggunakannya. Sementara line, saya sudah mempensiunkannya sebagai aplikasi chatting saya.

Ada berapa grup chatting yang Anda terdaftar di dalamnya? Ini saya barusan menghitung, ada 42 grup di whatsapp, belum di aplikasi lainnya yang bisa dihitung tangan. Juga beberapa grup yang sudah saya tinggalkan karena alasan tertentu,

Repot dengan sebegitu banyak grup? Gak juga sih. WhatsApp lebih ringan dibandingkan milis, lebih sederhana dibandingkan dengan grup di facebook, juga lebih berdaya jangkau dibandingkan dengan BBM. Apalagi notifikasi dari grupnya bisa di-setting off, biar tidak centang-centung sepanjang waktu. Sedangkan media, kiriman gambar, dokumen juga file video saya setting untuk tidak di-autosaved ke gadget. Cara ini adalah cara hemat kuota, juga hemat space memori di gadget. Juga ada fasilitas clear chat jika obrolannya sudah cukup banyak. Belakangan, dengan whatsapp bisa dibuka via PC/laptop, juga membuat lebih mudah penanganan grup-grup yang sekian banyak itu.

Di luar itu semua, yang terpenting adalah -sebagaimana penggunaan aplikasi social media lainnya- bagaimana menempatkan hp tanpa menyisihkan kehidupan sehari-hari. Misalnya, hp ditengok dengan jadwal yang sudah ditentukan. Atau Anda makin bijak menempatkan diri kapan pantas bermain-main dengan hp dan kapan tidak.

Bukankah teknologi semestinya memudahkan kehidupan manusia dan bukan malah merepotkannya. Bukannya begitu?

[kkpp, 01.04.2017]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s