Kemarin pagi (21/9), lima menit selepas jam kantor dimulai, sebuah foto mampir di handphone saya via sebuah grup whatsapp.


Dilanjutkan dengan sebuah komen provokatif, “Lumayan dibantu Satpol PP, rugi kalau cuti.”

Ada juga yang komen, “Hehehee ya begitulah petahana… #mulaimelanggar.”

Bagaimana menurut Anda pembaca budiman? Apa yang Anda persepsikan dari foto itu di sebuah pagi dimana malam sebelumnya pasangan Cagub-Cawagub Ahok-Djarot dideklarasikan oleh Sekjen DPP PDIP?

***

Selintas, bisa jadi begitu. Tampak dari foto dua orang berseragam satpol PP sedang berinteraksi dengan spanduk Ahok Djarot. Masalahnya, interaksi sang aparat dengan spanduk itu apakah sedang posisi memasang, atau sedang melepas atau malah sedang membetulkan, perlu pengamatan yang lebih jeli.

Foto kejadian itu tentunya dengan gampang dipersepsikan oleh otak manusia. Bagi mereka yang otaknya dibiasakan dengan asupan bahwa petahana identik dengan kecurangan, tanpa hitungan detik melahap demikian saja foto multi-persepsi tadi.

Malah, tak seberapa lama, muncul pula di grup yang sama, meme dari foto itu.

Kata Pramoedya Ananta Toer via Bumi Manusia, seorang terpelajar haruslah adil sejak dalam pikiran.

Tapi tak banyak lagi kaum terpelajar yang seperti itu. Memang semakin banyak kaum terpelajar di negeri ini, tak tak banyak yang masih adil melihat berbagai alternatif sudut pandang. Sedihnya lagi malah ada yang sengaja memanfaatkan ketidakadilan dalam berpikir ini sebagai umpan yang mudah tersulut.

Bagi saya, saya tak punya ktp DKI serta tak juga terlibat dalam relawan manapun kali ini, fenomena foto satpol PP dan spanduk Ahok Djarot yang di-upload di postingan ini, hanyalah masalah persepsi. Persis sebagaimana fenomena segelas air putih yang terisi separuh. Sebagian menganggap itu adalah gelas separuh penuh, sebagian menganggap itu gelas separuh kosong. Persis sebagaimana fenomena Sadiq Khan, sang Walikota London. Kejadiannya sama, sudut pandangnya bisa berbeda-beda. Kisah tentang Sadiq Khan, bisa dibaca di sini.

Kembali ke foto tadi, tanpa tahu cerita yang membuat foto dan obyek fotonya, orang bisa memaknai apa saja. Sah-sah saja sih. Orang bisa sedemikian gampang menjadikan dirinya sendiri sebagai Roy Suryo.

Tetapi tidakkah kita lebih elok jika mencoba adil sejak dalam pikiran? Mencari tahu kebenarannya tanpa menghakimi terlebih dahulu, atau setidaknya tak berkomentar dahulu jika tak tahu apa-apa? Daripada waton njeplak demi faktor kekinian, tapi kalau salah malah malu kemudian?

Atau urat malu itu sudah hilang entah kemana?

[kkpp, 22.09.2016]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s