Hari ini, tiga tahun sudah saya berhenti merokok. Jika Anda masih ingat postingan di blog saya kemarin (bisa baca di sini) serta menautkannya dengan keberadaan postingan ini, maka sedikit banyak Anda telah mengenal saya, hihihi.

Ya, Anda benar. Saya memutuskan berhenti merokok pas kejadian tiga tahun yang lalu sebagaimana di postingan saya itu.

Tak ada niatan sebelumnya. Saat itu Jakarta telah larut dan saya sudah berada di luar stadion Gelora Bung Karno Jakarta, masih dengan sensasi yang tak terlukiskan. Sapaan saudara semerah terdengar di sana-sini. Tawa renyah mewarnai udara Senayan. Tak ada sedikit pun terkontaminasi perasaan kecewa.

Sambil menunggu kawan-kawan tret-tet-tet BIGREDS Surabaya (bisa baca di sini),  saya menyalakan rokok yang seolah sejak di dalam stadion tadi terlupakan.

Sebatang rokok terasa cepat hampir habis manakala seseorang menghampiri dan menyapa, “Cak, masih punya rokok?”

Gak ketok sing liyane kah?” jawab saya sambil memberikan bungkus rokok yang saya simpan di saku celana. Ini mah sebagaimana kebiasaan saya, ditanya malah membalas dengan tanya, hihihi.

Sang kawan mengedikkan bahu tanda tak tahu sambil membuka  bungkus rokok yang sudah tak lagi berbentuk kotak.

“Lho cak, karek siji.”

Biasanya sih begitu. Etika di antara kaum perokok.

“Gakpopo. Aku masih punya cadangan.”

Segera saya membongkar tas punggung berisi aneka rupa. Dari kamera, lensa, (yang nyatanya di dalam stadion tadi malah jarang terpakai karena ketenggengen), power bank, hingga beberapa korek. Ya beberapa korek. Karena saking getolnya merokok, tentunya pernah mengalami kan, bagaimana rasanya pengin merokok dan punya rokok tetapi tidak punya korek. Jadilah, saya punya simpanan korek di beberapa tempat.

Satu pak rokok yang masih baru dan utuh ditemukan di dasar tas. Sembari membuka bungkus plastik rokok, saya merasa seperti Profesor Lang Ling Lung yang bohlam lampu di pikirannya tiba-tiba menyala terang: kalau mau berhenti merokok, biarlah ini menjadi bungkus rokok terakhir. Biar bisa mengenang bahwa rokok terakhir adalah pas kedatangan Liverpool ke Indonesia.

Entah siapa yang membisikkan ide itu, yang jelas saya sudah membulatkan tekat.

LFCTour2013
Saat pas di dalam stadion, di hari memutuskan berhenti merokok. Di-candid oleh seorang kawan. Foto oleh Willy Syukran aka @wsyran

***

Saya masih ingat sebuah episode saat bermain dengan almarhum mbah kakung saat liburan ke Yogyakarta. Sekitar usia 6-7 tahunan, saya yang penuh keingintahuan, mengamati prosesi bagaimana mbah kakung melinting rokoknya, dan jadinya kemudian malah ikutan belajar melinting tapi hanya kertas rokok tanpa diisi apapun. Membaui kertas yang harum itu dan pura-pura merokok lantas mencicip dan merasakan bahwa kertas rokok itu manis-manis bagaimana gitu. Tetapi permainan itu tak bertahan lama, karena Ibu segera tahu.

“Bapak iki piye toh, jik cilik kok wis diajari ngrokok“.

Mbah kakung hanya terkekeh dan berucap, “lha mung dolanan wae kok”.

Meski episode itu akan senantiasa saya ingat, tetapi tak sedikitpun cerita itu membuat saya berkeinginan untuk merokok selama masa-masa pelajar. Biar kawan-kawan di masa saya sekolah menengah dulu itu sudah merokok, tapi tak sekalipun saya berkeinginan untuk merokok. Mereka merokok dan saya tidak, kami toh fine-fine saja melewatkan malam minggu hingga subuh untuk berjaga di rumah, eh tenda, seorang kawan yang rumahnya digusur rata dengan tanah.

Saya mulai merokok ketika semester tiga. Gara-garanya pada sebuah kegiatan mengawasi para gundul (baca: mahasiswa baru) yang sedang berlatih untuk mengikuti gerak jalan Mojokerto-Surabaya.

Tak ada paksaan, tak ada iming-iming, bukan pula karena rayuan mbak-mbak SPG. Saya merokok sendiri sebagai sebuah kesadaran.

Dari sebatang, dua batang, lama-lama kemudian jadi kebiasaan. Dari satu merk nyoba ke ke merk lain hingga bertahan sekian lama dengan salah satu merk. Hingga saat terakhir sebelum berhenti, saya bisa merokok enam puluh batang dalam sehari.

Keinginan ingin berhenti datang silih berganti. Ada yang mengingatkan dan ada yang berasal dari keinginan diri sendiri. Di masa semester-semester akhir, pernah mencoba kiat dengan menumpuk bungkus rokok di kamar kost. Lantas sesekali menghitung jumlah bungkus yang sudah terkumpul dan mengalikannya dengan harga perbungkus untuk tahu berapa rupiah yang sudah saya habiskan. Tak menolong. Jadinya kamar malah rusuh.

Pernah juga sampai sakit lambung sedemikian rupa. Dokter menyarankan untuk berhenti merokok dan berhenti ngopi.

Aduh dok, tak kuat jika harus keduanya.

Jadilah saya tetap merokok dan berhenti ngopi. Jika sedang pengen ngopi ya curi-curinya ngopi yang pakai campuran lainya, susu atau creamer.

Pernah juga mencoba berhenti dengan kiat mencari subsitusi. Suatu ketika berhenti merokok, saat pengin merokok tiba digantilah dengan permen, coklat atau ngemil kacang. Tak juga menolong. Hanya mampu bertahan beberapa bulan saja. Saat ditawari rokok oleh relasi pekerjaan leleh sedemikian mudahnya.

Apalagi kiat untuk mensubstitusi menyalakan rokok dengan membauinya saja. Gagal total.

Demikian juga dengan ceramah dan juga tempelan poster di kantor tentang bahaya merokok. Keluar kuping kanan tanpa sempat masuk kuping kiri.

Begitu halnya dengan kiat memperbanyak olahraga akan mengurangi keinginan merokok. Tidak juga. Begitu selesai tenis, menunggu set berikutnya kami malah menghabiskan sebatang dua batang dulu.

Apalagi dengan ancaman: merokok membunuhmu. Ancaman itu sama sekali tak membuat gentar. Lha bukankah ajal sudah ditetapkan? Jika sudah datang ajal, kita bisa apa. Mau merokok atau tidak, ajal emang bisa diatur-atur?

Begitulah. Akhirnya saya bosan untuk berupaya berhenti merokok. Merokok ya merokok saja. Berhenti ya berhenti saja.

Kalaupun kemudian saya berhenti, dan nyatanya hingga hari ini telah berlangsung tiga tahun, semata adalah sebuah kesadaran: jika saya memulai untuk merokok sebagai sebuah kesadaran, maka saya berhenti merokok pun adalah buah dari kesadaran saya sendiri. Bukan karena orang lain, bukan karena ancaman, bukan karena ketakutan.

Semua hal pasti bisa selama kita menginginkannya. Bukan karena orang lain, bukan pula karena yang memotivasi kita adalah motivator ulung yang tarifnya mahal.

Kita bisa jika kita menginginkannya.

Sebuah pelajaran yang saya sarikan dari sensasi tak terlupakan malam itu. Tak pernah terbayangkan kebiasaan suporter Indonesia untuk melibatkan terompet (dan juga alat musik lainnya) bisa dinihilkan pada malam itu.

Bagaimana mungkin, mengubah kebiasaan suporter Indonesia yang membunyikan terompet dan menggantikannya dengan kompak bernyanyi dan nge-chant oleh seiisi stadion yang terisi penuh, tanpa dirigen, tanpa komando, bersahutan dalam satu harmoni yang memabukkan.

Ya, malam itu membuktikan nyatanya bisa. Malam itu, suporter Liverpool yang memenuhi Gelora Bung Karno membuktikan bahwa kita bisa selama kita menginginkannya.

Malam itu, sambil menunggu kawan-kawan yang lain kembali ke bus yang hendak membawa kembali ke Surabaya, bohlam lampu di kepala saya tiba-tiba menyala sebagaimana Profesor Lang Ling Lung. Kalau hampir seratus ribu suporter tiba-tiba saja bisa berubah tabiatnya hanya dalam hitungan jam, mengapa saya tidak bisa? Kata siapa berhenti merokok itu sulit selama kita benar-benar menginginkannya. Mau merokok, mau berhenti, bukankah terserah masing-masing kita?

Yang jelas bagi saya, berakhir sudah riwayat puluhan batang perhari yang telah saya lewatkan selama 19 tahun. Bersambung? Hmmmm ….

Bagi Anda, terserah Anda.

[kkpp, 21.07.2016]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s