Cabai Acar dan Seorang Kawan

__temp_saved

Tiba-tiba keriuhan sepakbola menyergap saya, saat saya menatap cabai acar yang menemani kekangenan saya atas cuimie Malang. Sore itu (8/10) saya mampir ke Hot Cuimie di jalan Letjen S Parman Malang dan seperti biasanya semangkok cuimie Malang selalu dikawani cabai acar yang ngangenin.

Keriuhan yang menyergap saya itu datang dari sebuah lapangan sepakbola, jauh sebelum lapangan itu kemudian berubah menjadi deretan ruko yang salah satunya kemudian menjadi resto salah satu cuimie terbaik di kota kelahiran.

Baca selengkapnya

Cadangan

Gak enaknya cadangan, berharap ada apa-apa dengan yang utama.

Begitulah perasaan yang saya alami dan kemudian saya tweet-kan hari Rabu (29/1) kemarin. Bukan, saya bukan sedang menjadi bench-warmer sebuah pertandingan bola. Tetapi waktu itu saya berada di Bandara Soekarno Hatta International Airport, tanpa tiket tetapi berharap kebagian tiket untuk pulang. Baca selengkapnya

Nah kan, Kita (bisa) Juara …

Malam kian larut. Bahkan hari nyaris berganti menjadi hari Senin, hari tersibuk karena menjadi awal pekan.

Namun suasana seputaran Stadion Gelora Delta Sidoarjo malam itu (22/9) masih terasa hingar bingar. Parkiran yang meluber ke sepanjang jalan di area sekitar stadion masih penuh sesak. Kabarnya, situs AFF mencatat 35 ribu orang memenuhi stadion berkapasitas 30 ribu itu.

Penonton yang sudah keluar dari stadion masih terasa enggan untuk meninggalkan stadion, masih terasa lekat dengan rangkaian momen yang tak terlupakan. Belum lagi yang masih meluapkan keriangan bersama sang pahlawan di dalam stadion. Baca selengkapnya

Menikmati Sepakbola

Tanyakan ke penduduk negeri ini tentang sepakbola. Tentang bagaimana memainkannya, tentang bagaimana aturannya, dan segala pernak-pernik tentangnya. Tanpa perlu lembaga survey, rasanya hampir semua orang pasti mengetahuinya. Tak ada popularitas olahraga yang melebihi popularitas sepakbola. Tapi jangan tanya soal prestasi sepakbola negeri ini di antara negeri-negeri yang lain. Itu beda cerita.

Bagi penduduk republik ini, banyak cara menikmati sepakbola. Mari kita tengok satu-persatu.

Pertama, adalah mereka yang bermain, meski temporer tapi mereka menikmatinya. Meski bermain di bawah hujan, ternoda lumpur, tergores kerasnya aspal karena tak bersepatu, tapi mereka bisa tertawa lepas di antara kawan-kawan. Malah mereka tak peduli apakah lawan berjumlah sama dengan timnya atau tidak. Ada beda usia atau tidak. Yang penting bergembira ria.

Kedua, adalah mereka yang bermain secara regular untuk kesehatan raga. Di dalam raga yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Meski belum tentu mereka tergabung dalam klub, setidaknya mereka mempunyai komunitas tertentu yang bermain secara rutin. Karena bagaimanapun juga, sepakbola tidak bisa dilakukan sendirian. Belakangan ini, kategori kedua ini seolah menemukan wahana baru dengan bermain futsal seiring makin banyaknya lapangan futsal yang dikelola secara profesional.

Ketiga, adalah pemain profesional. Mereka ini bermain layaknya profesional. Nafkah untuk keluarga didapat dengan bermain sepakbola sebagai pemain. Mulai level tarkam hingga liga profesional. Sudah ada warga negeri ini yang bermain di liga Eropa meski bisa dihitung dengan jari.

Keempat, adalah penikmat sepakbola. Golongan ini adalah mereka yang bisa jadi salah satu dari ketiga golongan di atas atau malah yang tidak tergolong sama sekali. Mereka bisa menikmati setiap gerakan di lapangan, indahnya umpan dari kaki-ke-kaki, keriangan dan penyesalan dari setiap gol yang terjadi yang bagai dua sisi keping mata uang. Dari gemulainya permainan pemain kelas dunia hingga permainan golongan pertama di aspal, di sawah yang menanti masa tanam, hingga di kolong jembatan layang. Keindahan sepakbola adalah sama bagi golongan keempat ini. Bacaan berita di media cetak hingga tontonan di televisi adalah bumbu aktivitas.

Kelima, adalah penggemar atau fans. Golongan kelima ini adalah mereka yang sebagaimana golongan keempat tetapi sudah berupaya dengan sengaja untuk memilih salah satu tim dalam sebuah kompetisi dan atau memilih menyukai salah seorang pemain, entah karena kemampuannya di lapangan, tampangnya yang imut atau sikap keseharian sang bintang. Kadang, pilihan terhadap suatu tim pun terpengaruh dengan kegemaran sang penggemar terhadap satu pemain tertentu pun sedemikian sebaliknya.

Keenam, adalah pendukung (suporter). Golongan keenam ini adalah sebuah tingkatan lebih dari golongan kelima tadi. Bisa jadi mereka adalah golongan kelima yang bersedia mendukung hingga berdarah-darah, istilah lainnya adalah die-hard. Berdarah-darah di sini bisa berarti dalam makna kiasan pun juga makna harfiahnya. Banyak kisah yang bisa ditulis, tapi tak bakalan cukup dituliskan di sini.

Ketujuh, adalah penjahat sepakbola. Mereka ini adalah sisi lain dari sepakbola, yaitu mereka yang mengambil keuntungan secara jahat dengan memanfaatkan sepakbola. Dalam level terbawah dari golongan ini adalah mereka yang berjudi (untuk beberapa kawasan dan keyakinan tertentu, judi adalah sebuah kejahatan). Level di atasnya adalah upaya menyuap dan mempengaruhi hasil pertandingan untuk keuntungan pihak-pihak tertentu dengan menginjak-injak sportivitas yang seharusnya menjadi ruh sepakbola itu sendiri. Dan di Indonesia, salah satu kejahatan sepakbola adalah mengkorupsi uang negara. Maklum, sebagian besar klub “profesional” menggunakan dana anggaran negara/daerah tetapi pertanggungjawaban kepada rakyat tak pernah secara penuh dipertanggungjawabkan.

Kedelapan, mereka ini adalah profesional di bidangnya, tetapi pekerjaannya terkait dengan sepakbola. Bisa jadi mereka adalah dokter, psikolog, ahli urut, pelatih, wasit, wartawan, fotografer, serta merchandiser. Karena kerja adalah cinta, maka akhirnya pun mereka bisa menikmati sepakbola dengan keprofesionalan mereka.

Kesembilan. Nah golongan ini adalah golongan yang ‘terpaksa’ menyukai sepakbola sebagai bahasa pergaulan. Mereka yang menyukai sepakbola karena lingkungan mereka berbahasa sepakbola. Rasanya tidak pas, dalam obrolan mereka kemudian mereka tidak nyambung dengan bahasan tersebut. Golongan kesembilan ini makin berkembang menjelang event besar macam Piala Dunia yang tahun ini akan digelar di Afrika Selatan.

Hmm, masih adakah golongan yang belum tersebutkan?

Apapun golongan Anda, maka selamat bersiap menikmati Piala Dunia, Juni nanti!

(kkpp, 19.05.2010)

Yang Tersisa dari Indonesian Idol 2007 dan Piala Asia 2007

Musik dan sepakbola. Dua perhelatan yang berbeda rasa telah berakhir. Indonesian Idol dan Piala Asia untuk tahun ini ditutup hanya berselisih hari. Yang pertama diselesaikan pada hari Sabtu, 28 Juli 2007, dengan memenangkan Rini Wulandari. Sedangkan yang kedua, ditutup dengan kemenangan Irak atas Saudi Arabia tepat sehari sesudahnya.

Menariknya, dua perhelatan ini seolah ditautkan dengan kehadiran Sang Indonesian ¬†Idol 2007 langsung tampil di malam final Piala Asia dengan menyayikan “Aku Tetap Milikmu”. Ini adalah penampilan perdana Rini setelah memenangkan gelar dari dukungan 51,2 % sms yang masuk. Bila disetarakan, pada upacara pembukaan Piala Asia 2007 di Bangkok, penyanyi yang tampil adalah Tata Young.

Selain tautan itu, hal yang dinanti sekarang adalah bagaimana dua perhelatan tersebut memberi imbas baik bagi industri musik dan industri sepakbola di tanah air. Musik Indonesia telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Grup dan penyanyi baru senantiasa lahir di antara gemerlap para pendahulunya. Sementara, industri sepakbola bagi Indonesia belum banyak bergerak menuju titik seharusnya. Meski potensi untuk itu sedemikian besar.

Sebagai juara, Rini yang menjadi Indonesian Idol yang keempat -setelah Joy (kemudian digantikan Delon), Mike dan Ihsan- telah dinantikan masyarakat apakah memang mampu menghasilkan karya yang tidak saja layak untuk diapresiasi namun juga mempunyai nilai jual sebagaimana yang telah dilakonin Kelly Clarkson. Jawara American Idol ini, mempunyai album bernilai platinum dan juga mampu meraih Grammy Award.

Selama ini Indonesian Idol menganut penilaian berdasarkan sms yang masuk. Sayangnya prinsip “one man one vote” belum bisa diterapkan. Padahal dengan penerapan prinsip ini akan membuat penilaian terhadap juara akan lebih obyektif, tanpa mendapat halo effect akibat publisitas mengenai kedaerahan pun juga latar belakang si calon idol. Semakin obyektif penilaian, semakin dapat diterima masyarakat, dan sang idol pun menjelma menjadi salah satu pemain di peta industri musik tanah air. Atau haruskah sistem penilaian Indonesia Idol dibalik? Sms bukan ditujukan untuk calon idol yang didukung, melainkan ditujukan ke calon idol yang pantas dipulangkan terlebih dahulu.

Sementara sambil menunggu Rini mewarnai industri musik kelak, bagaimana dengan industri sepakbola Indonesia? Tiga kali perjuangan Ponaryo dkk, telah menyatukan rakyat negeri ini untuk menoleh sesaat, menanggalkan kostum klub lokal dan menggantinya dengan nuansa merah-putih dan garuda. Irak boleh menjadi juara. Namun Indonesia-lah juara tuan rumah setelah bersaing dengan Vietnam. Bersama Vietnam, Indonesia menampilkan kejutan di lapangan, dari underdog hingga menyulitkan tim yang seharusnya sekelas di atas. Keunggulan Indonesia karena di Indonesialah partai final dan perebutan 3-4 digelar. Selain itu, Indonesia hanya kalah dari juara 3 (Korea Selatan) dan juara 2 (Saudi Arabia).

Sukses penyelenggaraan (terlepas dari beberapa ketidakprofesionalan PSSI sebagai panitia lokal) dan sukses di lapangan, secercah harapan akan masa depan industri sepakbola mulai terbersit. Sayang nyatanya keindahan Piala Asia langsung menguap entah kemana. Suporter yang semula bisa bersatu di Senayan, langsung kembali bentrok. Kekecewaan terhadap hasil pertandingan masih menghasilkan sejumlah kekerasan. Tampaknya Liga Indonesia telah kembali ke habitatnya semula. Sayang memang.

[kkpp, 12/08/07]