__temp_saved

Tiba-tiba keriuhan sepakbola menyergap saya, saat saya menatap cabai acar yang menemani kekangenan saya atas cuimie Malang. Sore itu (8/10) saya mampir ke Hot Cuimie di jalan Letjen S Parman Malang dan seperti biasanya semangkok cuimie Malang selalu dikawani cabai acar yang ngangenin.

Keriuhan yang menyergap saya itu datang dari sebuah lapangan sepakbola, jauh sebelum lapangan itu kemudian berubah menjadi deretan ruko yang salah satunya kemudian menjadi resto salah satu cuimie terbaik di kota kelahiran.

Keriuhan itu makin menjadi manakala bulan Agustus, bulan mengenang kemerdekaan yang disebut dengan tujuhbelasan. Biasanya di lapangan itu, sepakbola dimainkan dengan kostum khusus. Di sebuah tahun dimainkan dengan para pemain memakai daster, di tahun yang lain para pemain memakai sarung. Seru.

Keriuhan itu menyergap saya. Tetapi lantas dalam sekejap berubah jadi senyap saat teringat di sebelah lapangan ada sebuah rumah peninggalan zaman Belanda, yang sekaligus sebagai percetakan. Percetakan Balapan namanya.

Di rumah itu, saya sering mesin-mesin percetakan yang belajar bersama. Mengerjakan tugas sekolah atau mengerjakan ini itu untuk persiapan rencana perkemahan regu penggalang kami.

Di rumah itu senantiasa memikat saya dengan lukisan-lukisan yang saya tak tahu siapa pelukisnya dari bermacam aliran. Ada yang naturalis ada yang abstrak. Salah satu lukisan favorit saya adalah lukisan tentang Dewi Nawang Wulan. Sementara itu, di rumah belakang, saya juga biasaya dengan takjub mengamati dari balik jendela ukuran besar khas rumah kolonial bagaimana mesin-mesin percetakan itu bekerja mengubah kertas kosong menjadi kertas sebagaimana pesanan pelanggan.

Di tanah sebelah lapangan itu, saya juga menemani keruntuhan rumah kolonial itu dengan menemani sang kawan hampir tiap malam di sebuah tenda, sebut saja begitu untuk bangunan alakadarnya, saat keluarga sang kawan, entah bagaimana ceritanya, harus mempertahankan rumah itu hingga puing-puing terakhir.

Dari kejadian itu saya belajar, bagaimana tidak enaknya menjadi korban penggusuran dan menjadi si tertindas.

Di sisi yang lain pula, sejak kejadian itu saya tak pernah mempahlawankan sosok yang biasanya disebut-sebut saat perayaan hari pahlawan. Apa artinya pahlawan jika keluarga yang ditinggalkannya menggusur orang? Belakangan saya menyadari jika saya salah karena menarik kesimpulan terlalu dini. Tapi kejadian itu sungguh membekas.

Gara-gara cabai acar, saya ingin menyapa: hai kawan, dimanakah dirimu sekarang berada?

[kkpp, 08.10.2016]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s