Dua puluh dua puluh bukanlah tahun yang mudah untuk dilalui. Hari ini hari terakhirnya. Di luar sana hujan lebat, air menggenang dimana-mana, menambah kesunyian karena surat edaran Pejabat Bupati menetapkan hari ini berlaku jam malam, sebagaimana dua malam sebelumnya. Jangankan pedagang terompet, toko kelontong nasional serba ada saja sudah tutup sejak maghrib. Begitu halnya, warung kopi dan warung makan. Jam malam menutup malam pergantian tahun.

Jam malam. Istilah yang sudah lama terdengar tapi baru di tahun inilah kemudian terasa diberlakukan. Bukan karena kondisi perang atau kerusuhan, tapi wabah corona tak kunjung terselesaikan. Sejak diumumkan Presiden Joko Widodo untuk kasus pertama di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020, hingga hari terakhir 2020 sudah 743.198 kasus, dengan kasus hariannya sudah tembus 8.000.

Jangan tanya sudah berapa yang meninggal. Sudah terlalu banyak kesedihan sepanjang tahun ini. Whatsapp grup sudah penuh dengan ucapan belasungkawa. Kabar duka datang bergantian. Demikian halnya dengan doa kesembuhan. Meski demikian, kabar duka dan doa kesembuhan tak menghilangkan perseteruan sisa-sisa pesta demokrasi. Ironi, karena yang berseteru face to face di pesta demokrasi itu kini malah berkumpul bersama di kabinet pemerintahan, tepat seminggu sebelum tahun 2020 berganti.

Jangan tanya sudah berapa yang meninggal. Terlalu banyak yang pergi dan harus dikenang. Mereka yang pergi pun tak bisa kita antarkan kepergiannya sebagaimana biasa. Jaga jarak, menghindari kerumunan, adalah cara terbaik melepas mereka yang berpulang.

Tapi tentu saja Tuhan tidak menciptakan dunia dalam satu sisi saja. Dengan segala cerita kesedihannya, buat saya pribadi Tuhan memberi hadiah kesukacitaan dengan Liverpool FC menjuarai Liga Inggris pertama kalinya sejak 30 tahun terakhir. Ya mestinya momen istimewa itu dirayakan dengan sebenar-benar perayaan bersama-sama umat The Reds di seluruh muka bumi. Tetapi karena tahun ini bukan tahun biasa, jaga jarak dan menghindari kerumunan tetap merupakan cara terbaik untuk merayakan gelar juara yang lama diidamkan.

Dua puluh dua puluh. Ia akan segera berlalu. Jalan baru yang baru saja dirintis tiba-tiba saja mesti berhadapan dengan situasi buruk yang bukan hanya saya, tetapi kita semua juga menghadapi masalah yang sama bersama seluruh umat manusia. Tak ada yang mudah, tetapi mestinya selalu ada cara buat mereka yang berupaya mendapatkan cara melalui dua puluh dua satu yang sudah di depan mata.

Bye, dua puluh dua puluh. Selamat datang, dua puluh dua satu.

[kkpp, 31.12.2020]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s