Jaman masa kecil saya, kami tinggal di sebuah paviliun sebuah rumah besar khas peninggalan jaman Belanda yang menghadap salah satu jalan protokol di kota Malang. Kini nama jalan itu menggunakan nama salah satu pahlawan revolusi, dan rumah besar itu telah berubah menjadi deretan ruko.

Dengan tinggal di jalan besar, saya berkesempatan menyaksikan banyak hal. Pawai dan karnaval misalnya, hampir selalu memilih rute melewati depan rumah saya. Demikian halnya, kesibukan manusia yang berlalu lalang di jalan itu.

Salah satu yang mengusik keingintahuan masa kecil saya itu adalah profesi ‘nguthis‘. Entah apa padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesianya. ‘Pemulung’ mungkin agak mendekati, tetapi tidak pas benar. Karena nguthis adalah pekerjaan memungut puntung rokok. Pernah tahu?

Saya pernah mengikuti seseorang yang ‘nguthis‘ tersebut. Bapak separuh baya yang saya ikuti itu berpakaian lusuh. Di tangan kanan berbekal penjepit untuk memungut puntung rokok, sedang tangan kiri berbekal kaleng atau keranjang sebagai tempat mengumpulkan barang temuan di sepanjang jalan yang disusuri.

Pada tengah hari, seluruh temuan ditumpahkan. Kemudian dirobeknya kertas pembungkus rokok untuk mendapatkan tembakau yang tersisa karena belum sempat terbakar habis. Tembakau bekas yang terkumpul lantas dibawa pergi. Entah kemana, mungkin ke pengepul.

Profesi ‘nguthis‘ sudah lama tidak saya temui lagi. Generasi sekarang malah tidak mengenal profesi itu.

Mungkin para perokok sekarang sudah menghabiskan seluruh rokoknya tanpa menyisakan tembakau sebelum dibuang, sayang karena rokok kian mahal. Atau mungkin karena semakin susah mencari puntung berserakan. Atau karena tidak ada lagi yang mau membeli tembakau bekas. Yang pasti, profesi ‘nguthis‘ tak lagi punya nilai ekonomi.

***

Meski (mungkin) sudah punah, profesi ‘nguthis‘ mengajarkan bahwa bangsa kita sebenarnya adalah bangsa yang kreatif. Bangsa yang kuat karena anak bangsanya bisa mencari cara sendiri untuk survive tanpa peran pemimpin negara.

Di kasus lumpur Lapindo, ups, nama resmi yang diakui pemerintah adalah Lumpur Sidoarjo, masyarakat yang terdampak juga secara kreatif mencari cara untuk survive.

Sebelum kejadian, mereka adalah petani ladang, petani tambak, karyawan pabrik, serta sebagian kecil berprofesi pedagang dan pegawai pemerintah. Tak pernah ada yang membayangkan untuk kemudian menjadi pemandu wisata lumpur, pemandu jalan alternatif, serta jadi polisi cepekan di tiap ruas jalan alternatif.

Demikian halnya dengan ribuan profesi lainnya, yang tidak pernah menjadi jawaban saat kita dahulu ditanya tentang cita-cita kita. Profesi yang bisa jadi adalah sebuah keterpaksaan semata untuk tetap dapat survive.

Tak heran, bila beberapa waktu yang lalu di ibukota sempat terabadikan oleh media massa nasional, spanduk yang bertuliskan: “Negeri Autopilot”. Sebuah sindiran, bahwa negeri kita bisa berjalan tanpa kehadiran seorang pilot. Sebuah sanjungan bahwa setiap anak negeri mampu berperan dengan kreativitasnya masing-masing menjalankan peri kehidupan bangsa ini.

Negeri Autopilot. (Sumber: Tribunnews/Wahyu Aji. http://www.tribunnews.com/2012/01/13/menggali-makna-spanduk-negeri-auto-pilot)

Sayangnya pula, kreativitas itu kadang melanggar norma, aturan dan tata masyarakat. Bagaimana bisa narkoba kemudian hadir di penjara, bahkan mafia narkoba digerakkan dari dalam terali besi. Bagaimana bisa, pejabat yang kita percayakan mengemban amanat keuangan negeri ini justru mencari kekayaan dengan mengakali aturan yang mereka buat sendiri.

Saatnya cari pilot baru, eh?

[kkpp, 14.04.2012, Sent from my BlackBerry®]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s