Siapakah Mukidi? Tahukah bagaimana asal mulanya Mukidi kemudian menyusup ke kehidupan kita beberapa hari ini melalui media sosial fesbuk pun juga path, juga bergerilya dari satu grup whatsapp ke grup whatsapp yang lain? (BBM grup mungkin iya, tapi masalahnya, grup BBM saya tinggal beberapa saja).

Siapakah Mukidi? Dari mana asal-usulnya? Dari keluarga baik-baik atau …

Tanpa meng-googgling yang saya tahu Mukidi adalah tokoh yang hadir di cerita-cerita guyonan daur ulang. Guyonan biasa atau guyonan menjurus, kisah lawas yang tokohnya berbeda-beda (bahkan kita lupa dulu siapa sang tokoh itu) tetapi kemudian sontak hadir lagi kisah yang sama tapi dengan berganti nama menjadi Mukidi. Semua tokoh ter-Mukidi-kan.

Sepertinya siapa saja dengan gampang bisa meng-edit kisah copas-an (copy paste, fenomena yang gampang ditemui sekarang), mengganti nama tokoh lawas dengan tokoh utama: Mukidi. Biar lebih keren, bisa ditambahkan mode bold atau italic yang sudah bisa dipakai di whatsapp. Jadilah Mukidi sebagai tokoh nge-hits dalam dua hari terakhir. Bahkan kabarnya mengalahkan elektabilitas cagub ibukota. (Hehehe, saya gak tega meng-upload kabar itu).

Bahkan, tak hanya dalam bentuk copas cerita guyonan, Mukidi yang kekinian juga telah menghantui kita dalam bentuk berbagai meme. Persis meme Valak beberapa waktu yang lalu. Sosok yang mestinya sosok menakutkan dalam film Conjuring 2, malah jadi bahan guyonan.

Mukidi oh Mukidi.

Begitulah ia telah gampang hadir di antara kita. Mukidi telah sukses menepikan sejenak isu-isu yang membuat dunia maya panas. Isu SARA, isu perpolitikan sisa pilpres yang tak kunjung mereda, isu kebijakan-kebijakan publik yang tak berpihak pada publik. Mukidi telah sukses menjadi ice breaker bekunya komunikasi.

Mungkin benar ada sosok yang bernama Mukidi. Mungkin juga Mukidi adalah tokoh rekaan belaka. Googling saja habis perkara. Googling saja toh google bisa menawarkan jawaban atas ke-kepo-an kita.

Tetapi dalam dua hari ini, Mukidi telah gampang hadir di antara kita tanpa kita menyadari dan mencurigai siapa sebenarnya Mukidi ini. Apa motifnya menjadi tak penting lagi. Yang penting virus menyebar, yang penting larut dalam euforia viral.

Mblenger-kah Anda? Bosankah Anda? Atau malah terhibur dan bersemangat ikut menjadi bagian virus Mukidi? Bagian hestek #termukidi atau bagian hestek #kapokmukidikapokmukapan ?

Dua hari ini Mukidi mengajarkan kepada kita, entah siapa yang memulai, jika kemudian semua berada dalam frekuensi yang sama, diulang-ulang, jadilah ia bom fenomenal. Itulah dia kekuatan viral. Kekuatan yang ibarat pisau, bisa digunakan sebagai alat pembunuh atau pun bisa sebagai alat kebaikan, semata berpulang kepada kita sebagai pengguna.

Bagaimana? #termukidi atau #kapokmukidikapokmukapan ?

[kkpp, 26.08.2016]

 

 

Satu pemikiran pada “Terima kasih, Mukidi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s