enes-1

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yangon, Myanmar. Oktober 2014.

Berdua dengan kawan perjalanan, Yunanta Erwahyudi (@Yunthe), kami menjadikan KBRI sebagai tujuan pertama.  Maksudnya sih biar gampang dapat informasi tentang bagaimana mendapatkan tiket untuk pertandingan pertama Indonesia di ajang AFC U-19 Championship 2014. Maklum kami berangkat tanpa memegang tiket pertandingan. Tetapi informasi dari Mbak Lia, salah satu staf KBRI yang bertemu tadi malam di Yangon International Airport, membesarkan hati kami bahwa sepertinya bakal lebih mudah mendapatkannya di KBRI daripada datang langsung ke stadion.

Pagi itu pintu KBRI masih tertutup rapat dengan penjaga warga lokal yang tak bisa berbahasa Indonesia. Untunglah segera diantarkan ke staf KBRI yang ditugaskan untuk hajatan itu. Tak banyak ketemu sesama suporter di sana. Malah lebih banyak ketemu pewarta berita. Salah satunya adalah Enes Teguh Panderman. Dengan senyum lebarnya ia menyapa kami dengan bahasa Suroboyo-an. Rupanya ia sudah mendapatkan kabar kedatangan kami Surabaya-Jakarta-Singapura-Yangon untuk mendukung Evan Dimas dkk.

Itulah pertama kali saya mengenalnya. Ramah, grapyak, dan tak segan berbagi info ini itu yang sekiranya saya dan Yunthe perlukan di negeri orang. Info yang ia sudah dapatkan sebelumnya karena ia datang duluan dan seolah tak ingin kami mendapatkan kesulitan.

Adapun foto di atas adalah foto yang diambil oleh staf kedutaan di halaman KBRI sesaat sebelum Cak Enes dan kawan-kawan wartawan lainnya berburu liputan, sementara saya dan Yunthe diantarkan sopir kedutaan ke lokasi penjualan tiket, karena jatah tiket untuk KBRI sudah kehabisan.

Enes, berdiri paling kiri. Sementara saya, hingga tulisan ini diposting, masih punya hutang tulisan yang masih ngendon di draft tentang kunjungan ke Yangon itu.

***

enes-2

30 Maret 2016.

Berita duka datang membawa kesedihan.

Semingguan sebelumnya, dulur-dulur BIGREDS Surabaya berencana untuk mem-bezoek Cak Enes yang terbaring di RSUD Dr Soetomo karena kecelakaan.

Sedih, mestinya hari itu saya bisa bertemu Cak Enes bareng dulur-dulur BIGREDS. Apa daya, saya sudah tinggal selangkah sudah bisa bezoek dan bertemu Enes, sesaat sebelum tim komplet, telpon dari Bundanya Nuha mengharuskan saya untuk pulang duluan karena Nuha perlu diantarkan ke dokter segera malam itu.

Sejak itu (sebagaimana foto kedua), saya belum berkesempatan bertemu lagi. Malah kalah dulu dengan datanya berita duka itu.

Hanya bisa melantunkan doa untukmu, Cak.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu.

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun.

Selamat jalan, Cak! YNWA!

[kkpp, 30.03.2016]

Satu pemikiran pada “In memoriam: Enes Teguh Panderman

  1. almarhum ini memang supel sekali cak, :’)))
    aku masih inget dulu pas dateng wakilin BR ke acaranya balbalan sampe sempel,
    ramah banget
    eh gataunya ternyata sama kopitesnya, malah jadi akrab deh
    yah semoga beliau dimudahkan jalannya disana.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s