cakdim2Dimas Pridinaryana Putra, biasa dipanggil Cakdim sesuai dengan namanya di forum BIGREDS pun sesuai dengan akun resminya di twitter, adalah presiden terpilih BIGREDS Indonesia’s Official Liverpool FC Supporters Club, untuk periode 2014-2017. Ia menjadi orang kelima, setelah Heri Suherman, Hendra Kurniawan, Andhika Suksmana dan Fajar Nugraha, yang didapuk menjadi nahkoda dari organisasi BIGREDS IOLSC yang berdiri sejak akhir 1999 ini.

Saya bersyukur mengenalnya jauh hari. Meski sama-sama terdaftar sebagai member BIGREDS via regional Surabaya, perjumpaan pertama dengannya malah di National  Stadium of Singapore, 26 Juli 2009 saat Liverpool FC (LFC) melakukan Tour Pra Musimnya di tahun tersebut. Saat pertama bertemu sangat mudah mengidentifikasikannya. Bagaimana tidak, posturnya yang tinggi mudah dikenali dan hanya ia satu-satunya orang yang saat itu menggunakan atribut scarf Persebaya.

Kemarin (8/11), di sela perjalanannya ke Semarang dari Jakarta, untuk menghadiri acara Nobar BIGREDS Pantura Joglosemar sekaligus launching BIGREDS Mobile Apps, saya berkesempatan mewawancarai bapak dari Bill dan Elora ini via WhatsApp.

kkpp: Wes nang sepur? Boleh wawancara via wasap kah? Engkuk malih sido gak turu … [Sudah di kereta api? Boleh wawancara via wasap? Nanti jadinya tidak jadi tidur …]

Dimas Cakdim: Bisa cak

kkpp: Asyeekkkk

Dimas Cakdim: Hahaha

kkpp: Mulai ya …

Dimas Cakdim: Siap.Tes tes *mbecikno mic

kkpp: Hahaha, tak masang recorder sik

Dimas Cakdim: Hahaha. Ok siap *nglurusnokopyah

kkpp: Cakpres, bisa diceritakan kah bagaimana dulu bisa bergabung dengan BIGREDS? Sejak kapan itu?

Dimas Cakdim: Saya bergabung dengan BIGREDS setelah Istanbul, piala dunia antar klub [2005, reds]. Sebelum bergabung sering main-main ke forum [forum BIGREDS, http://forum.big-reds.org, red].

Dulu BIGREDS berdasarkan regional ktp. Saya daftar di Bandung tapi member BIGREDS Surabaya. Starterpack diantar langsung oleh cak Ferhat (perwakilan BIGREDS Surabaya, belum ada regional Surabaya) [yang dimaksud adalah Ferhat Abbas, dengan akun twitter @ferbbas, red]

kkpp: Daftarnya masih online atau titip Cak Ferhat?

Dimas Cakdim: Belum ada daftar online. Lewat form di Bandung (Mas Andiko, perwakilan BIGREDS di Bandung)

kkpp: Masih era daftar langsung ya. Lantas setelah bergabung apa ada kendala, [karena] member ikut ktp Surabaya tetapi aktif di Bandung. Begitupun sebaliknya, apakah ada kendala ketika  ‘nongol’ di kegiatan acara Surabaya?

Dimas Cakdim: Tidak ada kendala, malah 2007-2008 saya dijadikan perwakilan BIGREDS di Bandung, sampai akhirnya 2008/2011 jadi korwil pertama BIGREDS Bandung. Orang Surabaya tapi jadi korwil Bandung. Saya bisa nonggol dimana-mana. Saya saat itu sudah bekerja di sebuah kontraktor telekomunikasi, dengan area kerja Indonesia. Saya biasa muncul dimana-mana. [Waktu itu] BIGREDS belum seperti sekarang

kkpp: Seperti sekarang bagaimana?

Dimas Cakdim: Ya maksudnya BIGREDS belum sebesar sekarang [yang] regional[nya] sudah banyak. Regional-regional seperti menunjukkan ke-aku-annya. Jadi bagus.

Dulu nonbar 20 [orang saja] sudah bagus.

kkpp: Mumpung ngomong soal BIGREDS sekarang nih, bagaimana ihwal cerita menjadi Presiden BIGREDS 2014-2017?

Dimas Cakdim: Sewaktu pengumuman 2014-2017 dibuka, saya tidak mencalonkan diri. Mengumpulkan cv [curriculum vitae] saja tidak. Karena memang tidak berniat. Di sosial media saya mencoba meramaikan dg saat itu hestek #democredscy. Hestek seide dengan Iyan Fagan. Di hashtag itu saya munculkan nama-nama pasangan. Untuk menggugah rasa geli, rasa penasaran dari teman-temanBIGREDS yg ada di twitter, bahwa  kita sedang menghadapi pemilihan presiden baru.

Sampai Mei 2014, dibuatlah sebuah grup yang khusus mencari aspirasi dari teman-teman se-Indonesia yang merupakan admin twitter regional-regional. Grup ini mencoba menyaring suara teman-teman di daerah, menyuarakan bagaimana seharusnya BIGREDS ke depan, bagaimana cara pemilihan, sampai calon-calon yang bakal meramaikan bursa. Grup ini adalah sebuah ikhtiar dalam mengantisipasi tidak ada yang mau mendaftar. [karena] Hampir 2 bulan lagi (Juli) pemilihan presiden tapi satupun tidak ada cv yang diterima. Dari grup itu digali kemungkinan jika jalan lewat cv buntu.

Akhirnya ada tawaran, mau tidak jadi presiden? Saya bantu Daroe saja. Daroe presiden, saya wakil. Secara persyaratan kandidat saya dinyatakan masuk, termasuk opsi bebas narkoba, insya-Alloh [saya] tidak memakai. Secara organisasi dari 2007, 2008-2011 korwil Bandung, 2011-2013 Redpel [redaksi pelaksana] Walk On [majalah resmi BIGREDS]

Jika opsi saya presiden, daroe wakil bgmn? Saya siap karena saya tahu [bagaimana] jadi member, jadi pengurus. Insya-Alloh siap.

Akhirnya di Juli (kalau gak salah) perwakilan BIGREDS rapat. Beberapa nama datang, sesepuh BIGREDS, BOA, pengurus lama (2011-2013), korwil jabodetabek, saya, Iyan Fagan, Daroe. Dan akhirnya saya dipilih presiden BIGREDS.

Wes cak, hahaha, dadi dowo soale pancen ono proses ngono [Sudah, hahaha, jadi panjang lebar karena memang ada proses seperti itu]

kkpp: Yayaya, panjang juga prosesnya. Termasuk pemilihan kali ini menggunakan empat orang vice president (Daru Widagdo, Iyan Rahadian, Debbie Winardi, Fajar Nugraha) juga karena bagian dari proses tersebut atau mengantisipasi kerja pengurus ke depan? Sebelumnya kan satu presiden dan satu vice presiden

Dimas Cakdim: Itu [kebijakan tentang] vp [adalah] kebijakan presiden terpilih. Memilih siapa saja yang dianggap mampu. Ya biar kerja saya enteng saja hehe. Sudah difokuskan masing-masing.

kkpp: Kalau bahasa politik, hak prerogatif presiden terpilih. Begitu ya … Hehehe

Dimas Cakdim: Nah kira-kira begitu

kkpp: Kira-kira, apakah bisa dipahami jika kepengurusan sekarang akan lebih berat dibandingkan dengan jaman Presiden BIGREDS Adhika Suksmana dan Presiden BIGREDS Fajar Nugraha?

Dimas Cakdim: Ya logikanya gini, jaman Mas Deeka [panggilan akrab Andika Suksmana] social media tidak sedahsyat sekarang, yang ada friendster ditambah facebook. Forum jadi alat komunikasi paling efektif. Jaman Ncu [panggilan akrab Fajar Nugraha], social media sedang gencar2nya. Beberapa regional baru terbentuk. Saat ini keinginan terbentuknya regional BIGREDS sudah semakin banyak. Beberapa daerah sudah kirim proposal. Artinya orang yang diurusin kelak bakal makin bertambah.

Catatan dari membership, per 24 Oktober sudah 5000 sekian member. Periode lalu, 3 tahun mentok di 10.000 member plus efek LFC datang. Sekarang tiga bulan sudah 5000 [meski] dengan performa LFC yang semakin tragis.

Maka dari itu muncullah hastag #ayoregroupletsguyub

Tujuannya adalah supaya kami bisa menjangkau teman-teman di daerah

kkpp: Berapa perkiraan jumlah member dan regional selama kepengurusan 2014-2017 ini?

Dimas Cakdim: [jumlah member] 5.756 per 4 November jam 5 sore. Perkiraan 10.001. Melewati kepengurusan sebelumnya. Hahaha.

[kalau] Regional masih belum tahu karena harus dipikirkan betul-betul.

kkpp: Apa yang membuat pertimbangan atas terbentuknya regional? Bakal dipermudah atau dipersulit?

Dimas Cakdim: Aturan lama masih diberlakukan. Misal minimal 10-20 member resmi. Ini menurut kami sudah tidak relevan. Beberapa calon regional, nonbar reguler sudah diatas itu. Sudah tidak relevan lagi. Kami ingin BIGREDS tidak murahan, yang bertebaran di tiap kabupaten.

Pertimbangan-pertimbangan seperti itu yang harus dipikirkan. Kami juga tidak ingin amanah kami diselewengkan oleh regional baru, karena disinyalir penggeraknya akan bermain.

Tidak akan dipersulit cuma kami telisik dengan benar. Contohnya regionalJember. Kami menelisik pergerakan mereka, menanyakan ke regional Surabaya dan regional Malang apakah ada komunikasi. Saling kerjasama dengan regional terdekat. Karena ini ada poin penting.

Analoginya seperti kita punya teman baru, paling tidak kita tahu asal usul dll. Tujuannya apa berteman itu. Apakah memanfaatkan atau menjerumuskan. Analoginya seperti itu

kkpp: Selain member, regional, sosmed, kira-kira apalagi tantangan BIGREDS? Sudah cukupkah dengan upaya-upaya selama ini?

Dimas Cakdim: Tantangan BIGREDS adalah bagaimana keluarga ini tetap harmonis guyub dengan jumlah penghuni yang semakin banyak. Oleh karenanya kami melakukan cara yang kami yakini itu adalah cara mendekatkan

kkpp: Misalkan?

Dimas Cakdim: Misalkan dengan mobile apps yg akan di-launch hari ini. Di dalamnya ada media (bigreds tv, bigreds radio, walk on magz). Di dalamnya ada store. Di dalamnya ada forum (kami ingin membangunkan lagi sarana ini).

Dengan media, member-member BIGREDS akan merasa nyaman. Ada media penyaluran kreatifitas. Yang tadinya malu-malu, muncul di sana. Mobile apps akan banyak keuntungan bagi member. Yang lainnya adalah konsep nonbar roadshow. Keliling. Jakarta – Semarang – Surabaya – Bandung –Jakarta.

Kami ingin lebih dekat dalam bentuk nyata. [bahwa] BIGREDS itu Indonesia

Boleh dicari kapan BIGREDS melakukan acara selain gathnas [gathering nasional, red] [yang] di luar Jakarta. Hampir tidak pernah. Kami coba bongkar sekat-sekat itu. Jika ini berhasil, insya alloh tahun depan merambah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Bali. Roadshow nonbarnya

kkpp: Ah, makanya di periode sekarang baru terbentuk regional Jakarta?

Dimas Cakdim: Itu hak preogatif saya untuk memutuskan: Jakarta harus pisah. Biar mandiri. Dan di kabinet saya hampir semua dari regional-regional.

Tidak menutup kemungkinan periode berikutnya ada presiden dari luar Jawa

kkpp: Bagaimana dengan tradisi BIGREDS terdahulu? Apa saja yang dipertahankan dan apa saja yang perlu ditradisikan?

Dimas Cakdim: Beberapa regional masih memakai pakem BOA sebagai penasehat, pemberi saran. Kalau di LFC ini [dikenal sebagai] LFC boots room. Ex korwil/wakorwil akan memberi saran atau nasehat kepada penerusnya. Ini harusnya dipertahankan. Jadi ada semacam rasa memiliki. Nantinya hubungan ini tidak hanya soal organisasi [tetapi] hubungan sebuah keluarga. Ketika salah satu anggota keluarga sakit atau senang, seluruh keluarga merasakan.

Tidak banyak perubahan. Perubahan yg kami lakukan cenderung ke faktor teknis saja. Contoh vp sebelumnya 1 [orang] saat ini 4 [orang]. Lebih ke teknis.

Kami mencoba melakukan perubahan yang ketika seorang member BIGREDS ditanya, “Kamu dapat apa dari BIGREDS?” Berharapnya adalah aku dapatkan kehangatan sebuah keluarga

Kembalinya adalah ke member, demi umat. [sebagaimana] Ahmad Dahlan quote “demi kepentingan umat”

kkpp: Ciieee, so sweet. Perlukah dikotomi member dan non member, mengingat di beberapa regional tidak memberlakukan pembedaan.

Dimas Cakdim: Pembedaan itu juga ujungnya teknis. Member bayar 150 ribu [rupiah] dengan fasilitas member. Kalau tiba2 disamakan non member dapat fasilitas member, mending gak member. Wong dapatnya sama

Khan bukan itu yang diinginkan. Pembedaan member dan non member adalah soal fasilitas yang didapatkan saja. Kalau lainnya ya sama saja. Sama-sama suka LFC, sama-sama nyanyi YNWA

Kami buat fasilitas-fasilitas yang membahagiakan member.

Misal di apps ini, walk on bisa diakses hanya oleh member yang memiliki no member. Login walk on pakai no member. Tapi apakah non member gak bisa akses yang lain? Masih bisa. Cuma batasan dia ada. Usaha kita adalah menarik non member jadi member dan menyenangkan member

kkpp: Ooo begitu. Bisa diceritakan tentang mobile app ini? Developer, kemudian di platform apa saja?

Dimas Cakdim: Developer dari jakarta, mereka memang fokus di bidang ini. Saat ini bisa diunduh di google play. Bulan depan di ios

kkpp: Kapan mulai bisa di download dan diinstall?

Dimas Cakdim: Mulai nanti malam sudah bisa didonlot [sesudah acara launching di Semarang, Sabtu, 8 November 2014]

kkpp: Mangstab! Ada pesan lagi yang hendak disampaikan?

Dimas Cakdim: Semoga BIGREDS bisa menjadi rumah yang hangat bagi anggota keluarganya. Dan membuat anggota keluarga senang dan bahagia adalah tugas kami pengurus. Doakan kami ya …

[kkpp, 13.11.2014]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s