Alkisah, lepas larut malam sekelompok aparat pengayom keamanan masyarakat menghabiskan malam. Tak ada yang menduga, entah bagaimana kejadiannya ternyata salah satu diantaranya kemudian mengalami kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit. Tidak terima dengan kejadian yang dialami oleh salah satu kawan mereka itu, beberapa diantaranya kemudian menguber sang tersangka penabrak, dan tanpa ba-bi-bu, tewaslah sang penabrak bersimbah darah karena beberapa peluru yang ditembakkan.

Agar tak menjadi pertanyaan masyarakat, sang atasan bercerita kepada media bahwa tembakan yang dilakukan oleh anak buahnya semata dilepaskan karena tersangka adalah penjahat yang hendak melawan petugas.

Sayangnya, masyarakat terlalu pintar untuk dibodohi oleh cerita tak masuk akal. Fakta kejadian dan sosok korban bagi masyarakat dan tetangga sama sekali tidak terkorelasi dengan cerita rekaan. Maka, bersatupadulah ribuan masyarakat dan tetangga melawan kisah tak masuk akal itu. Turun ke jalan mendesakkan keinginan agar mendapatkan keadilan.

Tak ada cara lain, maka dibentuklah tim pencari fakta untuk menjawab keadilan itu. Benar saja, di ujung kisah, aparat pengayom keamanan masyarakat meminta maaf.

***

Demo warga Sepande, Candi, Sidoarjo saat meluruk ke Mapolres Sidoarjo (31/10). | Sumber foto: http://www.beritajatim.com/

Kisah di atas bukanlah cerita fiktif. Kisah nyata dari desa tetangga saya. Kisah yang barangkali juga sering kita dapati di lain tempat dan di lain daerah. Meski berbeda versi, tokoh dan alurnya, kisah tentang solidaritas sering kita jumpai di keseharian. Solidaritas buruh melawan kesewenang-wenangan pengusaha, tawuran antar anak sekolah, tawuran antar suporter sepakbola, bahkan gesekan yang terjadi antar kesatuan aparat pengayom keamanan dengan aparat pertahanan.

Solidaritas, dengan berbagai namanya, sungguh adalah anak kandung manusia sebagai mahkluk sosial. Solidaritas dikenal juga dengan beberapa kosakata: kebersamaan, kesetiakawanan, dan ‘esprit de corps’.

Mari kita tengok sejenak definisinya di Oxford Dictionary 7th edition, 2010, sebagai berikut:

Esprit de corps | feeling of pride, care and support for each other, etc. that are shared by the member of a group

Solidarity | support by one person or group of people for another because they share feelings, opnions, aims, etc.

Dari kisah di atas, setidaknya ada tiga kisah solidaritas. Pertama, kesetiakawanan beberapa aparat pengayom keamanan atas musibah kawan tertabrak. Kedua, semangat ‘esprit de corps’ sang atasan yang mencoba melindungi bawahannya meski harus memutarbalikkan fakta. Ketiga, solidaritas warga dan tetangga korban atas ketidakadilan yang dialami korban.

Sebuah fenomena yang lumrah bagi manusia sosial. Tidak ada yang salah. Yang salah adalah penyikapan solidaritas yang keluar dari nilai-nilai tata sosial itu sendiri. Kisah solidaritas yang pertama dan kedua adalah contoh bagaimana solidaritas keluar dari nilai-nilai tata sosial. Membalas dendam hingga mencabut nyawa serta melakukan kebohongan publik adalah perbuatan negatif pada nilai-nilai tata sosial yang kita anut.

Sementara kisah solidaritas yang ketiga adalah bagaimana solidaritas berusaha melindungi nilai-nilai tata sosial yang menjunjung asas keadilan bermartabat. Di akhir cerita, berakhir dengan happy ending karena dimenangkan oleh kisah solidaritas ketiga. Solidaritas pada mereka yang tertindas.

***

Saya sungguh berharap, bahwa akhir happy ending ini juga bakal banyak kita temui. Ya, happy ending atas tegaknya nilai-nilai tata sosial.

Tak ada lagi dokter yang melindungi koleganya yang malpraktek. Tak ada lagi perlindungan bagi kolega sejawat yang berbuat kesalahan elementer karena semata mengatasnamakan esprit de corps. Hakim, jaksa, polisi, tentara,  politisi, pejabat pemerintahan, dll, dll, yang seharusnya bagi mereka, kehormatan korps memang segalanya, tetapi kehormatan itu terjaga bukan karena bertindak seolah-olah tidak ada yang salah tetapi bagaimana mereka tidak menolerir sebuah kesalahan bagi anggota kelompok mereka.

Solidaritas bukan mahkluk buta.

[kkpp, 03.11.11]  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s