Catatan Dana Abadi untuk UK Bridge ITS

Jer basuki mawa bea.

Untuk mencapai sesuatu tujuan (kesuksesan, kebahagiaan) diperlukan ongkos (material, immaterial, usaha, pengorbanan). Begitulah pepatah Jawa yang singkat, namun bukan saja pemaknaan, padanannya yang pas pun tak bisa diungkapkan dengan singkat dan lugas dalam bahasa Indonesia.

Ongkos material bukan hal mutlak di sini, tetapi ia adalah salah satu faktor diantara faktor-faktor keberhasilan lainnya. Lanjutkan membaca “Catatan Dana Abadi untuk UK Bridge ITS”

In Memoriam: Tries Dhiman

Jika ada satu nama yang mengajarkan bagaimana menjadi seorang kakak yang baik, bagi saya salah satunya adalah Tries Dhiman. Beliau adalah kakak kelas saya jauh di atas saya, 17 tahun di atas saya. Tapi perjumpaan saya di tahun 1995 dengan beliau benar-benar mengesankan. Bagaimana beliau yang sedikit pun tak mengenal saya dan teman-teman yang sedang mengurus acara seminar nasional yang diadakan oleh himpunan mahasiswa saat itu, tanpa segan menawarkan tempat untuk bernaung beberapa malam selama kami mengurus acara tersebut. Lanjutkan membaca “In Memoriam: Tries Dhiman”

In Memoriam: Ir. Soetjipto

Tokoh, salah satu orang kuat (di/dari) Jawa Timur. Sebagai politisi dia punya sikap dan setia pada pilihan. Sebagai wirausahawan dia berilmu dan ‘utun’. –Fitradjaja Purnama

Insinyur yang berpolitik dan melawan. Mungkin itulah gambaran sosok Pak Tjip, yang tak berbeda dengan tokoh yang ia kagumi, Bung Karno. Selamat jalan Pak Tjip. –detik.com

Pak Tjip, begitu beliau lebih akrab dipanggil, adalah sosok politikus yang dikenal meletakkan dasar-dasar partai PDI Perjuangan. Di awal kelahirannya, PDI-P, memang tidak bisa dipisahkan dari sosok pria kelahiran Trenggalek, enampuluh enam tahun yang lalu itu. Pada masa itu, alumni ITS jurusan Teknik Sipil angkatan kedelapan (S8), memimpin DPD PDI Jawa Timur Pro Megawati melawan kepengurusan PDI hasil campur tangan rezim Orde Baru, Latief Pudjosakti. Karenanya, bagi mereka penentang rezim Orde Baru di Jawa Timur, pastilah mengakrabi istilah ‘posko pandegiling’, yaitu salah satu kawasan di Surabaya dimana pak Tjip berkantor sebagai wirausahawan di bidang konstruksi yang kemudian digunakan sebagai posko menggalang kekuatan rakyat melawan rezim.

Di Posko Pandegiling itulah, saya pertama kali bertemu beliau secara langsung. Waktu itu, saya dan seorang kawan, mewawancarai beliau untuk salah satu artikel yang akan kami terbitkan di media pers mahasiswa, “1/2 tiang”, di medio 1998. Wawancara antara mahasiswa dengan kakak seniornya, walau kami terpisah usia yang cukup jauh. Di sela-sela kesibukan eskalasi dunia politik Indonesia yang tengah bergejolak pada waktu itu, beliau tetap menyempatkan waktu untuk wawancara yang ternyata banyak berisi pesan agar mahasiswa seharusnya senantiasa setia pada peran agen perubahan.

***

Ir. Soetjipto, yang meninggal hari Kamis (24/11) kemarin sore di RS Darmo Surabaya dan dimakamkan di TPU Keputih Surabaya dengan sederhana keesokan harinya, adalah termasuk salah satu dari sedikit alumni ITS yang berkiprah di dunia politik. Bahkan dari yang sedikit itu, bisa dikatakan beliaulah yang terbaik. Meniti karir di PDI-P, beliau sempat menjabat sebagai Sekjen DPP PDI-P periode 2000-2005, kemudian dipercaya menjadi Wakil Ketua MPR RI pada periode 1999-2004, dan sempat mencalonkan diri pada pemilihan kepala daerah Jawa Timur 2009.

Meski beliau lebih dikenal karena karir politiknya, di profesinya di dunia konstruksi beliau juga mencatatkan prestasi menemukan teknologi pondasi sarang laba-laba bersama Ir. Ryantori. Atas temuannya ini, pak Tjip mendapatkan penghargaan Upakarti.

Sungguh, sebuah keteladanan bagi kita semua. Tentang keberpihakan, tentang kesetiaan pada pilihan, tentang profesionalitas.

Selamat jalan, Pak Tjip!

[kkpp, 25.11.2011]

Sila mampir juga ke:

In Memoriam Ir Sutjipto (Pak Tjip)