Tutup

Bukan Spanduk Isapan Jempol

Spanduk di foto tersebut adalah spanduk yang biasa saya baca karena terpasang di lokasi saya biasa lari pagi. Sebuah peringatan buat warga agar hati-hati akan kemungkinan dijambret, dibegal atau dicopet. Entah apakah memang sering kejadian atau bentuk ketidakmampuan aparat. Alih-alih menangkap pelaku dan komplotan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat, rupanya memberikan sebuah himbauan adalah sebuah aksi nyata yang bisa dilakukan saat tersebut.

Yang jelas pagi tadi (2/12), kira-kira sekitaran 500 meter dari spanduk tersebut terpasang, saya menjadi korban entah yang keberapa. Saya yang masih berjalan sambil membaca whatsapp group sisa semalam, sontak dipaksa sprint sambil berteriak: maling, maling ….

Namun pagi masih sepi, hanya ada ibu-ibu berseragam oranye menjalankan tugasnya di ujung jalan yang kemudian meminta maaf karena tidak berani menghadang si penjambret berhelm putih berkaos hitam yang melenggang dan hilang meninggalkan saya terengah-engah. Maklum, saya bukanlah Flash si tokoh superhero yang bisa lari secepat kilat, pun bukan Lalu Muhammad Zohri, sang juara dunia yunior lari 100 meter asal NTB. 

Sambil terengah-engah dan melanjutkan jatah kilometer yang harus saya habiskan pagi tadi, saya kemudian membenarkan kata orang-orang, bahwa kejahatan terjadi saat bertemunya niat dan kesempatan. Niat sang penjambret, bertemu dengan kesempatan saat saya tak waspada. Handphone pun melayang.

Niat jahat dan kesempatan. Saya juga teringat kejadian serupa yang saya lihat sendiri beberapa waktu yang lalu. Bedanya, jika penjambretan menimpa saya pas suasana sepi, kejadian yang saya lihat sendiri justru di tengah kemacetan. Saya yang menyetir berbatasan pembatas busway, asyik menikmati kemacetan dengan ngobrol ngalor ngidul dengan kawan yang jauh-jauh dari Tembagapura, sempat heran dengan motor yang jalan perlahan di jalur busway. Tiba-tiba pas dua mobil di depan saya, salah satu pembonceng motor turun, melompat pembatas, happp … diambillah hape dari mobil yang kacanya diturunkan. Si sopir yang dijambret tak bisa apa-apa menyaksikan si penjambret kabur melenggang di jalur busway yang kosong.

Jakarta memang kejam. Apalagi pas menulis ini dan sambil browsing sana-sini, malah saya menemukan kejadian yang lebih mengenaskan (bisa baca di sini). Bandingkan dengan kejadian yang menimpa saya pas di Bandara Mataram beberapa tahun yang lalu. Saya yang kebingungan mencari handphone sebelum masuk ke ruang tunggu, malah dikagetkan dengan seorang bapak yang terengah-engah dan menegur,” Pak, hape-nya jatuh? Ini pak, saya lihat tadi Bapak menjatuhkannya di parkirannya.” Alhamdulillah … 

Ya begitulah, jadilah hari Minggu ini saya habiskan untuk mengurus nomer sim card ke gerai provider, mencari handphone pengganti, me-recover data dari icloud, yang hingga postingan ini dibuat, masih tersisa whatsapp yang masih loading separuh (hehehe, maklum hampir seratus whatsapp group ada di handphone yang dijambret tadi). Hampir semua beres, tetiba sempat dapat notifikasi, bahwa apple id saya sempat coba diakses dari North Carolina. Istimewa memang orang Indonesia. Saya yang sempat yakin betapa kasihannya si penjambret mendapati barang jarahannya tak bisa diapa-apakan, ternyata masih bisa mencoba men-jailbreak iphone tersebut. Andai dia tahu, bahwa iphone itu memang sudah busuk dan direncanakan untuk diremajakan, mengingat LCD yang rusak, baterai yang mulai soak, sim card kadang tak terbaca, pun chip gps yang tak lagi akurat.

Semoga kejadian tadi pagi menjadi pembelajaran buat saya pribadi dan buat pembaca nan budiman. Waspadalah akan sekitar kita, siapa tahu ada yang sudah berniat jahat dan menunggu kesempatan datang yang kita ciptakan karena kita tak waspada. Lapor polisi? Buat apa. Lha kasus Novel Baswedan saja hari ini tepat 600 hari tak terselesaikan …

[kkpp, 02.12.2018]

About the author tattock

menyukai kata dan perjalanan memperluas cakrawala. lalu sejenak menepi untuk sekedar membingkai hidup yang tak hakiki.

All posts by tattock →

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: