(Tetap) Musim yang Pantas Dikenang

Musim ini berakhir bagi Liverpool FC (LFC) Minggu dini hari (27/5) di Kyiv. Tak menyenangkan. Tapi tetap pantas ditempatkan sebagai salah satu musim yang perlu dikenang. Berakhir dengan kekalahan, tetapi bukan kekalahan sembarang, kekalahan di ajang final UEFA Champion League. Ya, inilah final UEFA Champion League ke-8 bagi Liverpool setelah final ke-7 sebelas tahun yang lalu. Sayang memang, gelar keenam tak datang pada musim ini.

IMG_7699

Tapi siapa yang di awal musim menyangka jika LFC  bakal melaju seperti ini? Meski ada tambahan pemain Mohamed Salah sejak awal musim yang diperkirakan menambah ketajaman lini depan, tapi rasanya masih jauh dari memadai. Masih banyak posisi lain yang perlu juga pemain berkualitas untuk bisa menantang gelar juara. Sementara Klopp dan juga FSG sebagai pemilik bukanlah tipe penghambur poundsterling. Dengan kehati-hatian dalam belanja pemain itu datang di awal musim, Alex Oxlade-Chamberlain dari Arsenal.

Mengawali awal musim dengan berbagi enam gol di kandang Watford. Mo Salah mencatatkan gol debut di laga kompetitif hanya dalam waktu 57 menit.

Liverpool v Watford - Premier League

LFC kemudian menghempaskan Hoffenheim, klub asal Roberto Firmino, dengan meyakinkan kandang dan tandang untuk memastikan tempat di UEFA Champion League. Dilanjutkan menghajar Arsenal empat gol tanpa balas, dan hanya bersepuluh pemain, LFC dihajar oleh Manchester City yang kelak menjadi jawara Liga.

thumb_47162_default_news_size_5

LFC versus Arsenal, 27 Agustus 2017

September mencatatkan bukan bulan yang gemilang. Tersendat di fase group UEFA Champion League. Dua kali hasil imbang dengan Sevilla dan Spartak Moscow, imbang pula dengan Burnley serta tersingkir di ajang Piala Liga karena kalah dari Leicester. Satu-satunya kemenangan didapat dengan menghajar Leicester di kandang mereka saat bermain di liga. Nyaris imbang juga jika Mignolet tak berhasil menggagalkan penalti Vardy.

thumb_48651_default_news_size_5

Tendangan bebas The Magician, Coutinho

Oktober diawali dengan dua kali hasil imbang, atas dua united, Newcastle dan Manchester. Hasil dua kali imbang itu, serta hasil selama bulan September, membuat tak ada yang mengira jika LFC kemudian memecahkan rekor gol tandang di ajang Eropa. Tujuh gol tanpa balas. (Kisah lengkap bisa dibaca di sini). Sayang setelahnya, LFC kembali dihajar. Kali ini oleh Tottenham Hotspur, 1-4. Di laga liga berikutnya mengamankan jatah 3 poin dari Huddersfield ditunaikan dengan tuntas.

thumb_49868_default_news_size_5

LFC tandang ke Maribor dan membuat rekor tujuh gol

November tak terkalahkan. Bahkan empat kemenangan dihasilkan dengan masing-masing tiga selisih gol. Selainnya dua kali hasil imbang atas Sevilla dan Chelsea.

Hasil senada berlanjut di bulan Desember. Lima kemenangan, gol berhamburan atas Brighton & Hove Albion, Spartak Moscow, Bournemouth, Swansea dan satu-satunya paket hemat gol atas Leicester. Selain kelima kemenangan, lainnya LFC membuang poin dengan tiga kali hasil seri di ajang kompetisi liga. Sementara di UEFA Champions League, LFC terus melaju.

Januari. Musim transfer ini, akhirnya Virgil van Dijk akhirnya bergabung juga setelah melewati saga sedemikian rupa dan memecahkan rekor transfer untuk pemain belakang senilai 75 juta poundsterling. Kehadirannya menambal barisan pertahanan dan segera terlihat: LFCsempurna di liga meski harus terdepak di FA Cup, kalah 2-3 dari West Bromwich Albion.

Van Dijk datang, Coutinho pergi. Begitulah hukum sepakbola profesional, pemain datang, pemain pergi. Lumrah. Tapi dari kejadian kepergian seseorang pemain itulah, suporter menilai seseorang pemain apakah layak dilegendakan atau tidak.

vandijklfcjpeg

Februari nyaris sempurna. Spurs berhasil memaksakan hasil imbang 2-2. Sementara hasil tak terduga adalah kemenangan lima gol atas Porto di kandang Porto.

Champions-League-Round-of-16-First-Leg-FC-Porto-vs-Liverpool

Sadio Mane, hattrick di Portugal

Maret. Tak mampu mencuri poin dari kantung Mourinho, tapi memastikan lolos ke fase delapan besar meski hanya berbekal hasil kacamata di Anfield.

April. Di delapan besar UEFA Champion League LFC bertemu dengan kesebelasan asuhan Pep Guardiola yang dominan di liga domestik musim ini. Hasilnya? Laga kandang tandang tim yang dominan itu dicuci dan dibilas sekalian, kering dan tinggal dijemur. Salah, Oxlade-Chamberlain, Mane dan Firmino mencatatkan diri sebagai pencetak gol ke gawang Ederson.

thumb_62214_default_news_size_5.jpeg

LFC menghempaskan Manchester City dan memastikan ke semifinal UEFA Champions League

LFC tembus lagi ke semifinal UEFA Champions League setelah satu dekade. Di semifinal LFC menghadapi AS Roma dengan leg pertama di Anfield. Nyaris sempurna. Unggul 5 gol, tetapi kecurian dua gol di sepuluh menit terakhir membuat kemenangan berasa kekalahan. Kekhawatiran AS Roma mengulang keberhasilan mereka menggulung Barcelona segera merebak.

Sempurna di Eropa, LFC terseok di liga domestik. Imbang didapati atas Everton, West Bromwich Albion dan Stoke City, yang seharusnya di atas kertas gampang ditekuk. Gol yang biasanya gampang dipetik terasa seperti di musim kemarau.

Mei. Musim menjadi lebih panjang buat LFC karena LFC memastikan tampil di Kyiv, di puncak UEFA Champions League. Dua gol dari Radja Nainggolan tak cukup memaksakan perpanjangan waktu. Berbalik dengan leg pertama yang menang terasa kalah, di leg kedua, kalah tapi terasa menang.

thumb_64165_siteuploads_sitelargeimage

Georginio Wijnaldum (5), salah satu pencetak gol di Stadion Olimpico Roma

Di liga domestik, LFC memenangkan laga terakhir di Anfield dengan empat gol tanpa balas dan berakhir di posisi keempat, mengamankan jatah bermain di UEFA Champions League musim depan.

Final UEFA Champions League. Anti klimaks. Berhadapan dengan tim yang sangat berpengalaman dan tricky, Real Madrid yang menjuarai ajang ini di dua musim sebelumnya secara berturutan, LFC takluk dengan mudah pasca goal-getter-nya dipreteli dengan kasar dan dipaksa keluar lapangan karena cidera serta karena dua blunder kiper Karius. Sedih.

thumb_65961_default_news_size_5

Mo Salah, mendapat perawatan pasca dijatuhkan Sergio Ramos dengan teknik judo terlarang

***

Apa yang menarik dari musim ini? Final Champions salah satunya. Dengan tim alakadarnya, capaian final adalah prestasi tersendiri. Berharap menang iya, tetapi tim ini perlu waktu untuk tampil lebih solid.

Yang lebih menarik sebenarnya adalah ketajaman trio Sadio Mane, Roberto Firmino dan Mohamed Salah. Jika ketiganya pas on fire, maka gol-gol cantik hanyalah soal waktu belaka. Di ajang UEFA Champions League, ketiganya masing-masing mencetak 10 gol. Catatan ini membuat LFC sebagai tim pertama di ajang tersebut yang mempunyai trio yang masing-masing dari ketiganya mencetak gol lebih dari dua digit di satu musim.

Firmino hadir lebih dulu di LFC pada bulan Juli 2015. Sedangkan Sadio Mane datang semusim setelahnya, akhir Juni 2016. Keduanya menjadi trio setelah kedatangan Mo Salah di musim ini. Perpaduan ketiganya mendukung Salah memecahkan rekor gol liga Inggris, 32 gol, memecahkan rekor sebelumnya, 31 gol, yang dicatat secara bersama-sama oleh Alan Shearer (1995/1996), Christiano Ronaldo (2007/2008) dan Luis Suarez (2013/2014).

GettyImages-958072090

Tak semata golden boat shoes, Salah juga berlimpah pemecahan rekor lainnya. Salah satunya adalah sebagai pemain yang mencetak gol ke setiap 17 klub lain di satu musim kompetisi. Dalam kategori ini Salah bersama dengan Andrew Cole (1993/1994), Alan Shearer (1994/1995), Ian Wright (1996/1997), Robin van Persie (2011/2012).

Membahas Salah di musim ini mungkin tidak ada habisnya. Termasuk bahwa apa yang dilakukan Salah dengan 32 gol menjadikannya pemain pertama yang golnya lebih banyak dari tiga tim lain di liga Inggris!! West Brom hanya mencetak 31 gol sepanjang musim, begitupun Swansea dan Huddersfield Town yang sama-sama hanya mencetak 28 gol. Tetapi di akhir catatan saya atas musim yang mengesankan ini saya harus menulis dua nama: Trent Alexander-Arnold dan Andrew Robertson. Keduanya bernomer punggung dua digit yang berakhir 6. Trent 66, Andy 26. Keduanya bermain penuh di final UEFA Champions League. Trent yang dilahirkan oleh akademi, sedangkan Andy baru bergabung di awal musim ini dari tim yang terelegasi, Hull City. Musim ini bisa dikatakan yang gemilang buat keduanya.

Bukan musim yang sempurna, tetapi juga bukan musim yang pantas dilupakan. Mari kita rayakan, sebagaimana saya memotong rambut saya yang kesalah-salahan, dan mari kita songsong musim baru yang sepertinya bakal lebih baik dari musim sekarang dengan tambahan beberapa pemain baru yang datang. Bye, 2017/2018!!

[kkpp, 29.05.2018]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s