Sebut saja namanya irasionalitas tak bernama, jika menyebutnya sebagai cinta justru menimbulkan kegaduhan. Cinta sebenarnya gampang dirasakan bagi mereka yang sedang di mabuk cinta. Mabuk mungkin pilihan kata yang tepat karena cinta seolah membawa korbannya berada di alam perpindahan antara alam kesadaran dan alam ketaksadaran. Antara waras dan jatuh pingsan.

Banyak teori yang hendak mendeskripsikannya. Siapapun pasti bisa. Lha bagaimana, siapapun tiap orang punya kisah cintanya sendiri, kisah yang saling berbeda satu sama lain dan tak bisa diduplikasikan. Karena itu kemudian tiap orang berhak mendeskripsikannya sendiri apa itu cinta. Tetapi jika tiap orang berhak mendefinisikan (siapa saja, tanpa dibatasi perbedaan kasta dan perbedaan antar kelas apapun), bukankah jadinya teori tentang cinta akan bubble, ia akan memenuhi pasar dan menggelembung besar serta lantas menjadi sesuatu yang rumit untuk diurai. Sedemikian rumit hingga perlu perjuangan tersendiri untuk memahami secara sederhana sebagaimana penonton sinetron yang dengan mudah menebak jalan cerita sinetron tersebut meski ratingnya tak kunjung turun juga.

Atau bagaimana jika dibalik saja. Bolehkah sesuatu yang sederhana kemudian bisa disebut cinta? Tanpa kerumitan alur cerita, tanpa kebetulan-kebetulan seperti dalam banyak kisah? Bolehkah mendeskripsikan cinta sebagai hal tanpa nilai, tanpa mempertimbangkan hal-hal yang justru memperkeruhnya?

Atau mengapa capek-capek mencari deskripsi cinta jika kita bisa menyebutnya sebagai irasionalitas tak bernama?

Tuhan yang tau
Betapa ku simpan rasaku
Meski ini tak mungkin
Ku bersamamu

Sejak ku putuskan
Menunggu dalam ketidakpastian
Itulah janji hati
Yang siap terluka

Jika cinta harus memilih
Jika jalanku penuh lirih
Aku mencintaimu
Lebih dari apa yang kau tau

Jika memang tak akan mungkin
Jiwa aku menentang takdir
Aku tak salah
Teguhkan niatku
Tuk setia menunggu

Ku setia menunggu

Sejak ku putuskan
Menunggu dalam ketidakpastian
Itulah janji hati
Yang siap terluka

Jika cinta harus memilih
Jika jalanku penuh lirih
Aku mencintaimu
Lebih dari apa yang kau tahu

Jika memang tak akan mungkin
Jiwa aku menentang takdir
Aku tak salah
Teguhkan niatku
Tuk setia menunggu

Aku tak salah
teguhkan niatku
Tuk setia menunggu

~Afgan – Setia Menunggu

Wahai pejuang cinta yang menunggu di garis batas irasionalitas tak bernama, bagaimana menurutmu? Perlukah kebahagiaan menyerah pada kebijakan? Tapi jangan tanya deskripsi kebahagiaan itu apa. Jika demikian, maka jadinya tulisan ini akan looping ke paragraf pertama di atas. Bagaimana bisa? Karena kebahagiaan pun mempunyai akar yang sama dengan cinta. Kebahagiaan adalah irasionalitas tak bernama yang berhak didefinisikan oleh siapa saja.

Tuh kan, tulisannya jadi looping seperti lagu Afgan yang diputer berulang-ulang malam ini. Lelah tapi tak hendak menyerah, begitu?

[kkpp, 11.11.2016]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s