Hari ini lumayan ngakak kecut, sewaktu baca postingan status seorang kawan. Kira-kira bunyinya seperti ini:

jika Anda bosan dengan pertanyaan yang menderu dari para tetua saat menghadiri acara pernikahan, yaitu “Kapan giliran Anda?” (karena Anda masih jomblo), maka cobalah menyampaikan pertanyaan yang sama kepada mereka yang bertanya itu pertanyaan sejenis saat bertemu mereka pada suatu acara pemakaman, “Kapan giliran Bapak/Ibu/Om/Tante/Pakde/Budhe/Mas/Mbak/Paman/Abang/etc*?” *coret yang tidak perlu

Deg! Asli, baru kepikir hal cerdas itu!

Kadang tanpa kita sadari bahwa biasanya kita terlalu meyakini, pertanyaan yang bisa jadi adalah sebuah bentuk kasih sayang, pun perhatian atau sekedar basa-basi, dari mereka yang menginginkan seseorang untuk segera menikah, ternyata adalah sebuah bentuk kekurangajaran terselubung.

Logikanya, mari kita ajukan dengan pertanyaan yang sejenis yang disampaikan pada acara pemakaman. Bukankah lebih terasa nuansa kekurangajarannya dibandingkan sebagai sebuah bentuk kasih sayang, pun perhatian, atau sebuah tauziyah bagi mereka untuk bersiap menghadapi sebuah kematian?

Pernahkah mendapati kawan pun sanak kerabat yang jomblo-ers merasa tersudut bila mendapatkan pertanyaan itu dan kemudian minder dengan berusaha menghindari acara pernikahan bila hanya datang seorang diri?

Di sisi yang lain, sebenarnya banyak yang menyadari bahwa jodoh (yang terkait dengan pernikahan) dan mati (yang terkait dengan pemakaman) adalah rahasia Sang Pemilik Alam. Dalam konteks ini, tak perlu lagi bertanya mengapa telat kawin ataupun mati muda. Semua adalah rahasia-Nya.

Yang bisa kita lakukan adalah saling menyemangati untuk menghadapi keduanya jalan rahasia-Nya tadi dengan lebih bijaksana, bukan dengan saling menyudutkan.

***

Ya, sebagai sebuah basa-basi, seringkali lidah kita dengan entengnya melafalkan pertanyaan itu pada acara pernikahan dan terasa berat mengatakannya saat acara pemakaman, tanpa menyadari bahwa bisa jadi efek pertanyaan sejenis itu adalah kongruen, sama dan sejenis.

Jadi jomblo-ers, bila masih ada lidah yang dengan mudah bertanya hal yang membuat Anda selama ini menghindari untuk menghadiri acara pernikahan, cobalah anjuran ini. Siapa tau, lidah itu kemudian jadi kelu.

[kkpp, 16.07.2010]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s