Pada sebuah pemberhentian, seorang laki-laki menjelang usia kepala empat, membunuh waktu dengan secangkir kopi. Tak banyak orang di kedai itu. Dirinya, sekelompok bapak-bapak sepantaran serta sepasang suami istri dengan anak perempuannya yang beranjak dewasa. Sementara sepasang penjaga kedai menanti pengunjung dengan jemu.

Tanpa sadar, laki-laki menjelang usia kepala empat itu, menatap seorang pengepel lantai bergerak penuh irama menciptakan kilap di setiap langkahnya. Dilihatnya mata sang pengepel itu kosong. Menciptakan tarian tak bernyawa. Entah apa yang ada di benaknya.

Ah, bukan. Bukan mata sang pengepel yang kosong, tetapi mata laki-laki yang berhenti sambil menghabiskan secangkir kopi itulah yang kosong. Tak disadari kepalanya yang kosong itu segera dipenuhi suara.

Lihat dirimu, lelaki! Pengepel itu menikmati tiap petak lantai keramik hingga menciptakan kilap, dari ujung ke ujung, tanpa terlewatkan sepetakpun. Dirinya bekerja dengan cinta. Demi keluarga yang merelakan sang ayah bekerja di sebuah kedai kopi dalam balutan malam.

Lihat sekali lagi, ya lelaki penyuka kopi! Tidakkah tanpa ragu sang pengepel itu menari di hadapan sebuah keluarga dan di hadapan sekelompok lelaki dewasa yang bercengkerama tergelak membicarakan wanita-wanita muda. Serta di hadapan seorang laki-laki yang mampir sekedar menikmati secangkir kopi.

Tidakkah kau lihat, hai lelaki. Bagaimana mungkin sang pengepel itu menciptakan tarian yang menghadirkan kilap bila hasratnya tak ada di setiap tarikan batang pengepel? Lihatlah lebih cermat, mata yang kau anggap kosong itu. Tidakkah kau temukan binar penuh asa di sana?

Tegukan terakhir tetes kopi yang tersisa menyadarkan sang lelaki. Sementara sang pengepel telah menghilang entah kemana. Di sekelilingnya, kedai itu hanya meninggalkan sepasang penjaga yang jemu menanti pengunjung berikutnya. Dan, pahit kopi yang tersisa di bibir lelaki itu telah menciptakan sebuah tarian baru yang hendak dipentaskannya di panggung selanjutnya.

[kkpp, 14.05.10]

3 pemikiran pada “Tarian Sang Pengepel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s