Belakangan ini media massa nasional banyak mengeluhkan kondisi Jakarta yang kian macet. Kemacetan yang dulu menjadi menu harian, kini makin menumpuk sejak pembangunan busway yang mulai merambah berbagai arah.

Saya yang hanya menyambangi Jakarta beberapa kali dalam setahun, bisa membayangkan bagaimana kemacetan itu. Bayangan itu pula yang menyebabkan saya akhir-akhir ini harus berpikir ulang untuk menerima tawaran untuk kembali bekerja di sana. Meski di Surabaya pun punya potensi yang sama untuk mengalami kemacetan. Namun setidaknya titik kemacetannya bisa dihitung, berapa lama dan di mananya pun bisa dikalkulasikan. Beda banget dengan di Jakarta.

Ya saya khawatir dengan kondisi kemacetan itu. Hitunglah berapa waktu yang terbuang di jalan. Meski ada teknologi yang kian canggih, rasanya kualitas pertemuan langsung dengan keluarga pun juga ikatan silaturahmi dengan kawan-kawan, jadi berkurang karena kita terjebak kemacetan. Energi positif yang memenuhi nadi dan saraf kita, jadi lebih mudah terbakar manakala kita berada dalam antrian yang kelihatan tidak bakal berkesudahan.

Hitunglah pula berapa BBM yang kita bakar percuma di ruang bakar kendaraan roda dua serta roda empat kita tanpa dikonversikan menjadi torsi yang menggerakkan roda. Padahal di luar sana, semua ribut mengkhawatirkan harga BBM yang nyaris mencapai titik psikologis di kisaran 100 USD perbarrel.

Banyak teori dan wacana telah disampaikan oleh pakar, ahli bahkan opini dan komentar dari penikmat macet harian. Bisa jadi betul dan mungkin solusinya adalah seperti yang mereka utarakan. Tapi adakah yang bergerak untuk menyelesaikannya?

Pada titik ini, upaya pemerintah DKI menggerakkan ide busway adalah layak dan diperlukan. Daripada bengong menunggu kapan kemacetan menguap dengan sendirinya, lebih baik bergerak, bekerja melakukan apa yang bisa.

Setidaknya seperti saya. Daripada saya pindah ke Jakarta, mendapatkan fasilitas kendaraan dinas seperti yang saya nikmati sekarang, bukankah lebih baik saya tidak ke sana di saat seperti sekarang. Bila banyak orang yang berpikir seperti saya, cukuplah kendaraan di Jakarta seperti saat ini, tak perlu ada penambahan kendaraan yang justru hanya menambah padat antrian kemacetan.

Sayang, saya tak punya banyak kawan yang berpikir senada.

[kkpp, 21/11/07]

3 pemikiran pada “Macet

  1. Wul, yang kaya gitu memang, ironis, ramainya mobilitas manusia di jalan berarti terjadi aktivitas kehidupan atau paling tidak survival, tapi kalau kejadiannya seperti itu, banyak orang sama-sama bergerak yang muncul adalah macet, artinya aktivitas justru berhenti pada saat orang-orang bergerak, jadi yang saya lihat adalah saat ini orang-orang di Jakarta bergerak untuk macet, dan lanjutannya macet beraktivitas, artinya: sama dengan nyaris tidak melakukan apa-apa. Sama-sama tidak melakukan apa-apa mending nulis, dan kasih comment kaya gini..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s