12 Foto Tahun 2012 Favorit Saya

Terinspirasi oleh postingan punya Bung Wira Nurmansyah a.k.a @wiranurmansyah (bisa baca di sini), saya jadi kepengin juga membuat hal yang serupa mumpung masih di minggu pertama tahun 2013.

Segera saya membongkar folder foto tahun 2012. Dari beberapa folder yang berserak, biasanya saya namai dengan format ‘tahun-bulan-jeniskamera’, saya mendapati 36 buah foto favorit saya. Favorit lho ya, bukan foto yang sempurna.

Tetapi memilih hanya 12 buah foto saja bukanlah semudah yang dibayangkan. (Saya jadi membayangkan betapa susahnya juri foto menilai siapa yang layak jadi pemenang). Lanjutkan membaca “12 Foto Tahun 2012 Favorit Saya”

Sumber Bencono

Di awal bulan Syawal 1431 Hijriah ini, sungguh mengagetkan ternyata terjadi peristiwa yang sungguh membuat miris. Sebuah bus dibakar massa sesaat setelah terjadinya kecelakaan yang menewaskan dua orang pengendara sepeda motor, Sabtu 11 September 2010 di Ngawi, Jawa Timur. Massa pun juga sempat merusak bus yang bernaung di perusahaan yang sama yang kebetulan juga melintas di lokasi. Tak ayal, penumpang bus kedua itu pun jadi berlarian ketakutan.

Bus Sumber Kencono yang dirusak massa saat melintas pada pembakaran bus Sumber Kencono yang lain (terlihat terbakar) di Ngawi, 11/9. Sumber: ruanghati.com

Sungguh miris. Di saat suasana lebaran yang seharusnya penuh dengan nuansa kelapangan dada, massa  tak lagi menyisakan maaf. Bisa jadi, tindakan pembakaran yang dilakukan oleh massa adalah muara kekesalan mereka terhadap perusahaan otobus itu.  Pada kesempatan yang lain, Kombes Sam Budigusdian, Dirlantas Polda Jatim, selama setahun sejak September 2009 hingga 2010, perusahaan otobus itu telah mengalami kecelakaan sebanyak 51 kali, dengan korban 129 orang, 36 di antaranya meninggal dunia. Data itu dihimpun dari Polres Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Madiun dan Ngawi. Belum termasuk kejadian yang terjadi sepanjang ruas jalan di wilayah Polda Jateng-DIY. Dan dari sejumlah kecelakaan itu, angka tertinggi terjadi di Ngawi, satu wilayah dengan lokasi pembakaran di Sabtu malam yang naas itu.

Sungguh miris pula, ternyata sehari sebelumnya, Jumat dinihari 10 September 2010, bus dari perusahaan yang sama menabrak penyeberang jalan di jalan Laksda Adisucipto, Yogyakarta. Korban juga meninggal dunia. Bahkan sehari sesudah kejadian pembakaran, hari Minggu di (12/9) Caruban, Madiun, korban Sujiono yang hendak menyalip mobil di depannya, terserempet bus dari perusahaan yang sama yang melintas berlawan dan kemudian tewas terlindas. Tak cukup dengan kejadian itu saja, dua hari sesudah kejadian pembakaran, hari Senin (13/9) di dekat jalan layang Trosobo, Sidoarjo, tiga orang sekeluarga tewas mengenaskan tertabrak bus yang melaju kencang menuju arah Krian.

***

Coba tanyakan kepada kaum komuter di jalur Surabaya-Yogyakarta. Pasti mereka mengenal bus yang berkombinasi warna silver dan biru, Sumber Kencono. Selain dominan karena jumlahnya paling banyak di antara bus yang lain (menurut Harian Surya (17/9) berjumlah 250 bus, tetapi sumber yang tidak resmi menyatakan jumlahnya sekitar 450), Sumber Kencono juga merupakan bus pilihan karena termasuk bus yang paling cepat sampai di tujuan.

Tetapi di sisi yang lain, bis-bis Sumber Kencono juga dikenal sebagai raja jalanan. Para pengendara yang lain, roda empat, roda dua, dan apalagi truk sering hanya menghela dada, melayani kemauan sang raja. Rambu, marka, lampu lalu lintas, bahkan pak polisi yang banyak berjaga di pos-pos yang bertebaran sepanjang lintasan Surabaya-Yogyakarta, hanyalah penyaksi kehebatan mereka di jalanan.

Sing waras ngalah,” demikian pikir para pengendara itu daripada melibatkan diri dengan kecelakaan yang seolah hanya menunggu waktu bila berada di dekat Sumber Kencono.

***

Siapa yang salah? Pengemudi memang adalah yang di balik kemudi saat kecelakaan itu terjadi. Tapi apakah memang semata salah para pengemudi itu?

Jika ditinjau dari kasus per kasus, bisa jadi kesalahan diakibatkan oleh pengendara lain, bukan semata pengemudi bus yang menabrak. Tahu sendiri kan, bagaimana perilaku mengemudi pengendara-pengendara kita. Tetapi, mari kita melihat dalam lingkup yang lebih luas, manakala kejadian demi kejadian berlalu sedemikian sering. Apakah memang nyawa itu sedemikian murah hingga kita tidak mencoba mencari akar masalahnya. Human error, senantiasa bisa diminimalkan seandainya ada regulasi sebagai turunan dari political will dari managemen.

Setiaki, pemilik PO Sumber Kencono (sumber: Harian Surya)

Setiaki, sang pemilik perusahaan Sumber Kencono yang telah menjalankan usahanya selama 27 tahun, menyampaikan melalui wawancaranya dengan Harian Surya (17/9), “Makanya mohon dengan kerendahan hati, berilah kami kesempatan untuk hidup dan memperbaiki. Karena kecelakaan yang terjadi tidak 100 persen kesalahan kami. Meski demikian, kami tidak akan banyak komentar, karena nyatanya masih banyak masyarakat yang naik bus Sumber Kencono”. Selanjutnya, Setiaki juga menyampaikan bahwa perusahaannya menggunakan sistem premi bukan setoran sebagaimana diduga banyak pihak bahwa para sopir yang berlomba saling berpacu di jalanan karena diduga mengejar setoran.

Lantas jika bukan karena menguber setoran, bagaimana dengan manajemen Sumber Kencono sendiri dalam penegakan guidance berkendara? Tampaknya, Setiaki tidak secara hitam putih menjawab, “Sebagai pimpinan, kalau kita memberi sanksi agak berat, perusahaan dianggap kejam dan salah. Kalau sanksinya ringan, juga ada salahnya karena bosnya dikira ngglembosi (setengah hati). Jadi, kalau Bapak-bapak ngasi satu job description, akan saya laksanakan. Monggo. Saya akan terima dengan hati terbuka dan tangan terbuka”.

***

Pada titik ini, bola kemudian terlempar kepada masyarakat dan pemerintah.

Pemerintah, berkaca dari beberapa kali kecelakaan yang terjadi di moda transportasi udara, kemudian turun tangan dengan menerbitkan sejumlah aturan dalam rangka meminimalkan kecelakaan. Bahkan, operator penerbangan yang sering terlibat kecelakaan, kini tidak ada lagi namanya.

Memang, mengatur transportasi udara lebih mudah karena jumlah operator jauh lebih sedikit dibandingkan moda transportasi lainnya. Keterkaitan antara operator dengan pemerintah pun lebih jelas, karena hanya ada satu perusahaan negara yang melayani operator-operator itu. Tetapi, sesulit apapun seharusnya bisa, karena tanggung jawab melindungi keselamatan rakyat adalah kewajiban negara.

Hampir menjadi rahasia umum, para petugas yang di lapangan, terlalu mudah untuk bersengkongkol dengan para kru bus. Saat melanggar, hampir dapat dipastikan, sang pelanggar akan mudah berlalu dari jeratan hukum. Jadi jangan salahkan masyarakat bila kemudian bertindak main hakim sendiri.

Mari sedikit menengok ke Tembagapura, Papua ataupun Batu Hijau, Sumbawa. Meski masih di wilayah Indonesia, hal-hal yang terkait dengan pengendaraan transportasi diatur sangat ketat oleh perusahaan. Upaya mendapatkan lisensi mengemudi, tidak segampang mencari SIM. Begitupun kalau sudah dapat, lisensi mengemudi jauh lebih mudah dicabut dibandingkan SIM (pernah dengar SIM yang dicabut?)

Akibatnya, pengendara benar-benar mengemudi dengan benar sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan. Tak ada cerita di jalan mereka berebut saling mendahului. Tak ada cerita mereka berani melanggar lampu lalu lintas ataupun marka jalan. Batas kecepatan adalah sesuatu yang mutlak dituruti.

***

Lalu, bagaimana dengan masyarakat?

Ungkapan sang pengusaha, bahwa jika perusahaannya salah mengapa masih banyak penumpang, juga benar adanya.

Seorang teman komuter jalur itu berkata, lebih enak naik bis Sumber Kencono karena lebih cepat sampai.

Tidak takut bila kecelakaan?

Ah, daripada pusing dan mual (karena selama perjalanan bis dikemudikan dengan serong kiri-serong kanan, rem pol gas pol), langsung tidur saja, tahu-tahu sudah nyampai Bungurasih, katanya sambil ketawa.

Seorang kawan komuter yang lain juga bercerita, kadang-kadang bila sang pengemudi mengemudi dengan sopan, banyak penumpang kemudian mengolok-olok sang sopir. Dikatainlah sang sopir dengan berbagai ejekan dan cemoohan yang menyebabkan sang sopir seperti seorang penakut dan pengecut bila menyetir dengan tertibnya.

Ah, susah juga kan. Bagaimanapun, masih banyak masyarakat yang merindukan transportasi yang murah dan cepat daripada yang selamat. Dan sayangnya, mereka tidak sadar bila kecepatan mereka sampai di tempat tujuan didapatkan dengan mendholimi pengguna jalan raya sepanjang perjalanan.

Semoga memang, kisah tentang Sumber Bencono ini tinggal menjadi legenda buat anak cucu kita. Bahwa, korban sia-sia di jalanan hanyalah dongeng masa lalu.

(kkpp, 19.09.2010)

*TERKAIT*

Tips Aman Berkendara


Tujuhbelas-an di Tembagapura

Mata saya terbuka dari tidur, saat roda pesawat MD82/83 Airfast menjejak landasan bandara internasional Mozes Kalangin pagi itu. Meski masih menyisakan kantuk, saya mencoba mengintip suasana di luar. Tetapi jendela pesawat penuh dengan butiran air. Rupanya gerimis membasahi bumi Timika, pada hari ketujuh Ramadhan tahun ini.

Saat sampai di bandara yang tak seberapa luas, jam digital yang terpasang di ruang pengambilan bagasi menunjukkan waktu pukul enam lebih duapuluh empat. Sebagian penumpang yang hendak melanjutkan perjalanan ke dataran tinggi (high land) via darat, tak perlu lagi sibuk memikirkan barang bagasinya, karena hanya mengumpulkan tiket ke petugas dan kemudian petugas akan mengurus barang-barang itu. Sementara yang punya tujuan lain, menunggu bagasinya masing-masing.

Saya dan Acil, kawan perjalanan dari kantor, termasuk golongan yang menunggu itu, karena rencananya kami akan melanjutkan ke high land menggunakan chopper (helicopter). Tak seberapa lama, terdengar suara adzan subuh dari layar televisi. Ah, langsung terasa beda jarak kami saat itu dengan televisi yang baru menyiarkan adzan subuh untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, sedangkan di tempat kami pagi telah menyapa.

***

Chopper-nya jam delapan,” kata Danny, officer guide kami yang telah menguruskan segala pernak-pernik terkait  kedatangan kami ke perusahaan tambang terbesar di negeri ini, menghampiri kami. “Mudah-mudahan cuacanya membaik sehingga tetap on schedule,” katanya sambil mengeluhkan kondisi gerimis dan kemungkinan kondisi berkabut di atas sana.

Sebelumnya Acil yang sudah beberapa kali ke sana, pernah berkisah bahwa sejak kejadian penembakan di beberapa ruas Timika-Tembagapura, penggunaan chopper adalah pilihan moda transportasi yang banyak dipilh dibandingkan menggunakan jalur darat. Tetapi bila berkabut, maka satu-satunya pilihan adalah menggunakan bus, tetapi dengan kawalan pihak keamanan.

Selain masalah safety, bila menggunakan chopper hanya menempuh waktu 15 menit, sedangkan pilihan menggunakan jalan darat bisa mencapai lebih dari empat jam, karena bakal berhenti beberapa kali menunggu pihak keamanan menyisir terlebih dahulu untuk memastikan jalur yang hendak dilalui.

Benar saja, ternyata kekhawatiran Danny  menjelma. Saat menunggu bersama puluhan calon penumpang chopper yang didominasi oleh warga ekspatriat, petugas mengumumkan bahwa hari itu penerbangan chopper dibatalkan. Segera kami mengurus bagasi yang sebagian besar adalah kelengkapan training yang akan kami gunakan nanti. Dari semula disiapkan untuk dibawa chopper, berpindah ke container. Petugas sempat mengatakan, biar semua barang di container saja agar penumpang lebih nyaman saat menggunakan bus.

Jangan dibayangkan bus yang dimaksud adalah sama seperti biasa kita temui di Jawa. Yang disebut bus disana adalah truck ber-cabin yang memang disiapkan untuk mengangkut penumpang. Yang kelihatan baru adalah Ivero Trekker, sedangkan yang lama adalah Western Star. Bus itu memang disiapkan untuk menempuh medan berat penuh tanjakan hingga dapat mencapai lokasi tambang yang berada di ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut.

Seperti cerita Acil, bus berangkat dalam iring-iringan konvoi yang dikawal Brimob yang bersenjata. Beberapa kali berhenti di beberapa post menanti petugas yang menyisir rute perjalanan. Katanya, sudah dilengkapi dengan pemindai panas. Konvoi nanti akan diikuti kurang lebih 9-10 bus penuh dengan kawalan. Pantas saja, hanya sebagian kecil ekspatriat yang bersedia melanjutkan perjalanan ke highland dengan moda seperti ini, begitu si petugas tadi mengabarkan bahwa chopper tak jadi berangkat.

***

“Hampir sampai kita,” kata Acil sambil menunjuk check post. Alhamdulillah. Setelah melalui perjalanan sejak pukul sembilan hingga hampir setengah dua, berhenti di beberapa mile post, sampai juga kami di Tembagapura. Sempat juga, bus yang kami tumpangi mogok di tengah jalan yang menanjak. Untung saja, dalam setiap konvoi, senantiasa ada satu bus cadangan, sehingga meski kondisi interiornya jauh berbeda dengan yang kami tumpangi tadi, sampai juga kami di tempat tujuan dengan tak kurang suatu apa.

Dalam hitungan menit dari check post itu, kami menginjakkan tanah di Tembagapura di antara gerimis. Menginjakkan kaki  di sebuah kota yang memang didesign sebagai salah satu pemukiman dari perusahaan tambang itu. Di kota itu, yang diplesetkan namanya jadi Purapuratembaga, fasilitas minimal untuk hidup layak sudah tersedia. Rumah sakit, sekolah, masjid dan gereja, fasilitas bank dan ATM, bahkan Hero pun ada di sana. Soal makan pun, semua sudah tersedia di mess, sesuai dengan tingkatan status ID card. Kalau bosan, ada juga rumah makan. Tetapi bila tanpa ID, kita bisa tak berarti apa-apa karena untuk mengakses mess, maupun fasilitas umum, harus menggunakan katu identitas yang dikenali dari barcode-nya.

Begitu turun dan mulai merasakan udara pegunungan, bergegas berdua kami menghampiri Danny yang tengah mengurus kedatangan kami beserta bagasi-bagasi yang diturunkan dari container. Setelah komplet, Danny menyapa seseorang yang hendak mengantarkan kami ke mess, “Sudah selesai upacaranya, Pak? Katanya jadi komandan?”

“Ada upacara apa, pak?” bisikku.

“ Tujuhbelasan lah. Ada tadi di atas …”

Baru teringat kalau hari ini bertanggal 17 Agustus. Aku meluaskan pandangan di antara kabut dan gerimis, ternyata memang ada umbul-umbul dan bendera merah putih di Tembagapura.

Berkibarlah Sang Saka di Tembagapura

Segera teringat ucapan Soe Hok-gie: “Mencintai Indonesia hanyalah dengan mengenalnya lebih dekat”.  Dan kali ini, saat tepat berusia enampuluh lima tahun sejak Soekarno Hatta memproklamirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, akhirnya aku menjejakkan diri di pulau Papua, setelah sebelumnya saya telah melalui Jawa, Bali, Kalimantan, Madura, Batam, Lombok, Sumbawa, Flores, Timor dan Sulawesi. Masih ribuan pulau belum tersinggahi, masih banyak cinta untuk Indonesia yang hendak disemikan di tahun-tahun yang menanti.

Dirgahayu Indonesia!

(kkpp, 21.08.2010)