Indonesiana, Politik

Teruslah Kritis, Mahasiswa Indonesia!

Linimasa yang saya ikuti tetiba ramai dengan kartu kuning, padahal tak ada kejadian kartu kuning di pertandingan sepakbola sesungguhnya belakangan ini yang pantas diperbincangkan sedemikian hebohnya. Usut punya usut, rupanya, kemarin (2/2) ada kejadian Presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Universitas Indonesia memberikan kartu kuning kepada Presiden Republik Indonesia. Hal biasa saja tetapi kemudian ramai sedemikian rupa dengan segala bumbu apa saja dari segala penjuru.

Apa yang aneh dengan mahasiswa mendemo Presiden Indonesia?

Di salah satu grup whatsapp kemudian saya ikutan nimbrung begini: Baca lebih lanjut

Standar
Indonesiana

Pilih Apa, eh, Siapa …

Hajatan demokrasi kali ini, tanggal 9 April 2014 hanya menunggu jam. Di kompleks perumahan saya, terop sudah terpasang di┬átempat yang sudah direncanakan sejak sehari sebelumnya. Undangan pun sudah sampai. Akankah saya datang untuk mencelupkan jari dengan tinta? Rasanya iya, meski harus diakui saya belum mempunyai referensi untuk semua hak yang didapat besok:┬ámemilih anggota DPD, DPR RI, DPRD Propinsi, dan DPRD Kabupaten. Ya bukan nol puthul sih, tapi setidaknya fifty-fifty lah … Sudah ada yang terang benderang, tetapi sebagian masih gelap gulita. Baca lebih lanjut

Standar
Indonesiana

Pesta Siapa?

April Dua Ribu Sembilan. Hari kesembilan. Sebuah titik bagi demokrasi Indonesia telah berlalu. Rakyat Indonesia sebagai pemilik kedaulatan tertinggi memberikan kedaulatannya untuk Pemilihan Legislatif di semua tingkat untuk periode 2009-2014. Sebuah warna tersendiri.

suasana di tps di sidoarjo

Hiruk pikuk kegaduhan untuk memenangkan hati rakyat, dengan banyaknya baliho, poster, bendera dan aneka media promosi lainnya, -yang didukung dari berbagai warna partai, dengan sejumlah jargon plus tampang manis ribuan caleg kini berganti kegaduhan pasca hari kesembilan itu. Bermodalkan klaim sekian persen dukungan rakyat, elit partai sibuk mencari kawan baru. Di sisi yang lain, sang penyelenggara kian menunjukkan kinerja yang bisa dikatakan buruk. Sorotan media cetak dan televisi seolah tak cukup berarti. Padahal hal yang paling mendasar justru terlupakan. Dimana hak rakyat sebenarnya?

Ternyata hak rakyat untuk menentukan pilihan dikebiri oleh carut marutnya DPT. Penggelembungan dan manipulasi suara adalah khianat terhadap pemilik pesta seharusnya: rakyat. Buat apa capek-capek mencelupkan jari dengan tinta penanda bila kemudian hasil akhir telah direkayasa. Buat apa kemudian diliburkan bila rakyat hanya menikmati libur sehari dua tanpa dapat menikmati hasil akhir yang berpengaruh untuk lima tahun mendatang. Buat apa kemajuan teknologi IT justru tak meningkatkan kinerja penyelenggara. Buat apa sekian trilyun rupiah terbuang, bila hasil akhir tidak mencerminkan keinginan rakyat sesungguhnya.

Pada hari kesembilan bulan April Dua Ribu Sembilan itu, rakyat memang berkuasa untuk memilih caleg pilihannya tanpa khawatir bila pilihannya itu ada pada nomer buncit. Tapi rakyat sungguh tak kuasa bila para elit partai caleg pilihannya itu memilih berkasak kusuk dengan partai sebelah yang sungguh tak diharapkannya. Mengapa sang elit tidak mempromosikan sedari awal bahwa mereka bakal berkoalisi dengan partai A ataupun partai Z. Atau mengapa mereka tidak bergabung saja sejak awal. Partai lebih sedikit. Biaya lebih sedikit. Rakyat lebih jernih memilih. Tapi mereka (sungguh) pusing tak kebagian pesta.

Ah, siapa yang peduli itu semua?

kkpp # 05 Mei 2009

Standar