April Dua Ribu Sembilan. Hari kesembilan. Sebuah titik bagi demokrasi Indonesia telah berlalu. Rakyat Indonesia sebagai pemilik kedaulatan tertinggi memberikan kedaulatannya untuk Pemilihan Legislatif di semua tingkat untuk periode 2009-2014. Sebuah warna tersendiri.

suasana di tps di sidoarjo

Hiruk pikuk kegaduhan untuk memenangkan hati rakyat, dengan banyaknya baliho, poster, bendera dan aneka media promosi lainnya, -yang didukung dari berbagai warna partai, dengan sejumlah jargon plus tampang manis ribuan caleg kini berganti kegaduhan pasca hari kesembilan itu. Bermodalkan klaim sekian persen dukungan rakyat, elit partai sibuk mencari kawan baru. Di sisi yang lain, sang penyelenggara kian menunjukkan kinerja yang bisa dikatakan buruk. Sorotan media cetak dan televisi seolah tak cukup berarti. Padahal hal yang paling mendasar justru terlupakan. Dimana hak rakyat sebenarnya?

Ternyata hak rakyat untuk menentukan pilihan dikebiri oleh carut marutnya DPT. Penggelembungan dan manipulasi suara adalah khianat terhadap pemilik pesta seharusnya: rakyat. Buat apa capek-capek mencelupkan jari dengan tinta penanda bila kemudian hasil akhir telah direkayasa. Buat apa kemudian diliburkan bila rakyat hanya menikmati libur sehari dua tanpa dapat menikmati hasil akhir yang berpengaruh untuk lima tahun mendatang. Buat apa kemajuan teknologi IT justru tak meningkatkan kinerja penyelenggara. Buat apa sekian trilyun rupiah terbuang, bila hasil akhir tidak mencerminkan keinginan rakyat sesungguhnya.

Pada hari kesembilan bulan April Dua Ribu Sembilan itu, rakyat memang berkuasa untuk memilih caleg pilihannya tanpa khawatir bila pilihannya itu ada pada nomer buncit. Tapi rakyat sungguh tak kuasa bila para elit partai caleg pilihannya itu memilih berkasak kusuk dengan partai sebelah yang sungguh tak diharapkannya. Mengapa sang elit tidak mempromosikan sedari awal bahwa mereka bakal berkoalisi dengan partai A ataupun partai Z. Atau mengapa mereka tidak bergabung saja sejak awal. Partai lebih sedikit. Biaya lebih sedikit. Rakyat lebih jernih memilih. Tapi mereka (sungguh) pusing tak kebagian pesta.

Ah, siapa yang peduli itu semua?

kkpp # 05 Mei 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s