Ruang tengah di kantor kami adalah ruang terfavorit. Kami sibuk masing-masing dengan pekerjaan tetapi di saat yang sama bisa ter-connect satu sama lain.
Mestinya kami bisa bekerja di ruangan masing-masing, tetapi ruang tengah adalah pilihan bisa bekerja dengan melihat koi, mendengarkan suara gemericik air, sesekali melirik dinding-dinding penuh lukisan titipan kawan pelukis, serta sesekali mengintip layar smarttv yang kali ini menayangkan salah satu partai piala dunia.
“Kok bisa jelas gini pak TVRI-nya di sini?” tanya tamu di kantor kami sore itu.
“Pak A tuh, niat pasang antenanya. Tuh lihat … ,” si B kawan kantor saya menunjuk antena berpenguat booster yang terpasang di void di atas kolam koi.
“Njagoin siapa pak?” tanya sang tamu pada Pak A.
“Nggak ada. Senang-senangan aja,” kawan A yang sedang memeriksa dokumen menjawab pertanyaan sang tamu.
“Kalau Bapak, njagoin siapa pak?”
Tiba-tiba sang tamu melempar pertanyaan ke saya.
Kawan C di ujung meja besar menimpali sambil ketawa, “dhekne masih boikot pildun, ya kan.” Saya mengangguk tertawa. Si tamu kebingungan.
Tanpa memperdulikan kebingungan sang tamu kawan C melanjutkan bertanya kepada saya, “kalau Liverpool masih nonton?”
“Masih. Untung Slot sudah dipecat.” Saya tertawa kecut dari balik layar laptop.
Andai tak ada Liverpool sepertinya saya bakal tak menonton sepak bola lagi. Tragedi Kanjuruhan benar-benar seperti dementor yang mencecap kebahagiaan saya karena sepakbola. PSSI, FIFA, siapa saja, bgst betul kalian menganggap 135+ jiwa sekedar angka yang begitu saja bisa dilupakan.
Andai tak ada Liverpool mungkin saya sudah tak lagi menonton sepakbola.
Liverpool adalah anomali.
Dengan tragedi Heysel dan tragedi Hillsborough, Liverpool tak hanya memperingati mereka yang jadi korban, tetapi menjadikan ingatan kelam itu sebagai pelajaran buat peradaban. Liverpool tak bisa membiarkan yang lalu berlalu dengan gampang terlupakan malah terus membersamai fans yang menuntut keadilan. Liverpool tak hanya sekedar kemenangan dan deretan piala serta juara, tetapi juga tentang sebuah nilai, tentang sebuah cara menumbuhkan harapan.
Tanggal 3 Juli 2025, setahun yang lalu Liverpool kembali berduka.

Diogo Jose Teixeira da Silva aka Diogo Jota mengalami kecelakaan mobil saat berkendara dari Portugal hendak kembali ke Inggris via feri. Maksud hati bergegas ikut latihan pramusim, apa daya Lamborghini-nya kehilangan kontrol saat melintas Castilla y Leon di Spanyol, Jota dan adiknya, Andre Silva meninggal dunia karena kecelakaan itu.
Tragisnya, Jota baru saja menikah 10 hari sebelum kematiannya, serta ia baru saja menutup musim 2024/2025 dengan mempersembahkan gelar liga yang ke-20 buat Liverpool.
Selain sebuah kebetulan kalau nomer punggung Jota adalah 20, ia juga bergabung ke Liverpool pada tahun 2020.
Forever 20. Liverpool mengabadikan nomer 20 sebagai nomer abadi.
Tepat pada peringatan satu tahun meninggalnya Jota, Liverpool meresmikan monumen Forever 20.

Cara klub dan suporter menghadapi tragedi wafatnya Jota ini berkali-kali membuat jatuh hati. Tak hanya ucapan duka, seremonial saat kejadian tetapi juga setelahnya. Chant tiap menit ke-20 di tiap laga Liverpool, selebrasi gol ala Jota dari pemain dan mantan pemain, bahkan mantan pemain ada yang bikin tattoo dan mengganti nomer punggung, dan di Liverpool sendiri memarkir nomer 20 menjadi nomer abadi serta mendirikan monumen di Anfield, benar-benar bikin jatuh cinta berkali-kali lagi pada klub ini.
Namanya Diogo. Panggil saja Jota. Berkali bikin jatuh cinta. Saat dementor mencecap kebahagiaan menonton sepak bola, rasa cinta itu yang menjaga untuk tetap masih menonton Liverpool.
[kkpp, 05.07.2026]

Tinggalkan komentar