Kepingan Koratkarit Paling Pojok

"musuh kita adalah waktu yang tak ragu bergerak maju, dan senyummu itu, tertinggal di masa lalu"

Di Balik Udang Ada Batu

Di sebuah kedai kopi, sambil membunuh waktu menunggu ke jam janjian meeting berikutnya, saya memperhatikan sekelompok orang yang memenuhi kedai yang tak seberapa luas itu.

Meski berbeda meja, ada tokoh yang menjadi irisan meja-meja kedai kopi. Sang tokoh menjadi center of gravity dari keriuhan kedai. Hanya meja saya dan meja di ujung yang menjadi minoritas kesendirian. Kami yang masing-masing sendiri, bersembunyi di layar laptop dan ruang dengar yang seolah ditutup rapat-rapat oleh headset.

Di satu meja, sang tokoh mengkoordinasikan beberapa hal dengan teamnya. Menanyakan satu dua pertanyaan dan melanjutkan dengan beberapa arahan.

Beralih di meja yang lain, sepasang suami istri menunggu sang tokoh untuk membicarakan beberapa urusan perdagangan. Sepasang anak di meja yang lain, diperkenalkan kemudian ke sang tokoh. Dengan memuji-muji sang tokoh, pak suami meminta petunjuk agar sang anak kelak bisa sukses sebagaimana sang tokoh.

“Mumpung ketemu di sini, katanya tadi kalian pengin menanyakan sesuatu ke Pak Andi.”

Si bapak keluarga pengusaha itu mengambil inisiatif membangun jembatan antara sang anak dan sang tokoh yang memang layak dikagumi. Sang tokoh masih muda, ganteng, tampilannya sederhana, bicaranya bisa berubah dengan cepat. Di meja yang satu ia seperti anak metropolis ibukota. Di meja satunya, logat daerah asalnya tak disembunyikan seperti di meja satunya.

Saya menyimak obrolan mereka dari ujung kedai dengan headset yang hanya menutup telinga tapi tak ada suara yang dikeluarkan.

“Penting buat kalian, tetapkan dulu 1 M pertama kalian akan dicapai kapan? Jangan buru-buru ganti gadget, beli mobil terbaru jika 1 M kalian tak bisa didapat. Kalau ternyata bisa, naikin targetnya jadi 10 M. Tetep fokus. Kalau bisa tercapai, naikin lagi 100 M. Mengapa begitu? Ngomong bisnis dengan orang yang pegang 1 M tentu beda dengan yang pegang 10 M. Apalagi yang pegang 100 M dan malah yang sudah T.”

Ucapan sang tokoh terdengar menarik. Niat memainkan playlist di hp biar bisa didengar via headset pun batal. Saya lanjut menyimak.

Sang tokoh melanjutkan sesi mentoring bisnisnya yang didapuk dadakan siang itu.

Di luar hujan penghujung musim deras sekali. Ada beberapa pengunjung baru yang silih berganti datang memutuskan untuk ‘take away’ setelah melihat kedai terisi penuh.

“Tiap ada masalah, itu berarti cuan.”

Sang tokoh melanjutkan, “kalau kalian bisa solve itu masalah, cuan akan mengalir. Apalagi kalau hanya kalian yang bisa solve masalahnya, ya cuan-nya akan jadi sumber yang tak habis-habis.”

Iya benar juga. Namanya seni membaca peluang alias opportunity.  Kalau saja Nadiem Makarim tak membaca peluang bahwa ada masalah transportasi yang dihadapi warga Jakarta yang  bisa dijawab oleh ojek tetapi ojek itu haruslah aman dengan kepastian harga tanpa proses tawar-menawar seperti sebelumnya, tentu hari ini kita tak mengenal ojek online.

Demikian halnya dengan Ibu Mutiara Siti Fatimah  Djokosoetono yang awalnya berbisnis telur kemudian beralih ke taksi yang dipesan melalui telepon berbekal dua mobil hadiah mobil yang ditinggalkan almarhum suaminya di tahun 1965. Ada peluang mengingat semasa itu tak banyak masyarakat Jakarta yang menggunakan mobil pribadi.  Di tahun 1972, perizinan Bluebird diraih hingga bisa bertahan di hari ini dengan meninggalkan beberapa kompetitor yang tinggal nama. Sekali lagi, kemampuan membaca peluang terbukti menghasilkan sumber cuan.

Di mana ada masalah, di situ ada cuan.

Tanpa perlu diajari di mentoring bisnis atau kuliah kewirausahaan, Indonesia sebenarnya jago.

Orang malas berbelanja kepanasan dengan harga tak pasti, jadilah gerai Alfamart dan Indomaret merajalela. Tak semata beli ini itu, masalah ngadem menjadi cuan.

Meski parkir sudah ditulis gratis, pembeli Alfamart dan Indomaret rela memberi uang parkir ala kadarnya ke juru parkir dadakan asal kendaraannya aman ada yang nungguin ketika ditinggal sebentar ke dalam.

Ketika pulang, di pertigaan, putar balik, perempatan yang susah diatur, relawan supeltas melihat peluang. Meski entah jadi mengurai kemacetan atau malah jadi biang kemacetan, antara kasihan dan terima kasih, pengguna jalan memberi tip ke relawan pengatur lalu lintas. Maklum dulu ketika ujian SIM pengguna jalan lebih suka jalan pintas daripada mengulang ujian SIM yang ribet, jadilah the power of ordal sumber pemasukan buat percaloan SIM.

Ya harap maklum juga, ujian masuk menjadi aparat pun dianggap sumber masalah ternyata bisa menjadi cuan buat mereka yang kreatif. Demikian halnya untuk masuk perguruan tinggi negeri yang menjadi masalah buat yang tak mampu secara kemampuan akademik tapi bisa diselesaikan jika punya cuan. Ada mafia joki. Kalaupun tak tembus, ada jalur mandiri. Suatu ketika, ada rektor PTN yang ditangkap KPK karena dianggap mendulang cuan dari penerimaan mahasiswa barunya.

Kreatif benar memang kita melihat masalah sebagai sumber cuan.

Apa itu kompas moral. Apa itu kepatutan. Selama itu menjadi cuan toh … 

Andai saja. Ah sudahlah. Hujan sudah reda, saya harus lanjut meeting berikutnya demi cuan.

[kkpp, 15.05.2026]

Tinggalkan komentar