Pada akhirnya inilah ajang pencarian bakat mencari penyanyi idola Indonesia.
Saya lupa quote tadi punya juri siapa yang pernah menyampaikan. Meski ajang Indonesia Idol berbasis vote (ada yang yakin beneran sistem voting itu berjalan apa adanya dan di sisi yang lain ada juga yang meyakini sistem voting tersebut sekedar gimmick), popularitas versus kualitas selalu menjadi perdebatan.
Apalagi kemudian ada unsur bumbu selera yang ditambahkan.

Kacamata juri yang memang teruji sebagai profesional di industri panggung penyanyi, mestinya bisa jadi alat kalibrasi bagi penonton untuk sekedar ikut menikmati ajang pencarian bakat sebagai penonton ‘an sich’ atau turut aktif mengirimkan vote dukungan atau malah ikut menjadi fanbase dari idola-idola baru.
Senin malam kemarin (9/2) Indonesian Idol Musim XIV (S14) memasuki episode 14 besar. Saya masih menyempatkan nonton, mungkin tak seantusias S12, tapi juga tak se-skeptis S13. Nonton juga lebih mudah bisa via aplikasi streaming. Bisa dari mana saja, termasuk episode itu saya tonton dari rumah sakit yang satu ruangan berbagi bed pun masih bisa dengan memasang headset.
Apa yang menyenangkan dari Indonesian Idol hingga harus ditengok? Tak lain dan tak bukan adalah melihat mimpi-mimpi talenta-talenta baru menemukan panggung serta etalase yang mengantarkan gemerlap realita yang sebelumnya tampak jauh tak terjangkau menjadi jalan kehidupan baru mereka.
Hal lainnya adalah meyakinkan negeri ini bahwa kita tak pernah kekurangan talenta baru yang menjamin musik Indonesia selalu menjadi tamu di rumahnya sendiri. Musik seharusnya menjadi salah satu industri yang memutar roda ekonomi Indonesia.
Mimpi-mimpi itu rasanya terwakili oleh theme song ciptaan Indonesian Idol ciptaan Andi Rianto dan Monty Tiwa.

Tadi malam saya mengira kalau saya ke-skip tertidur pas moment semua peserta menyanyikan lagu itu.
Sebagaimana tradisi musim-musim yang lalu, lagu itu selalu dinyanyikan semua kontestan secara live tiap episode.
Saya suka mengamati bagaimana lagu itu memancarkan aura tiap talenta menghayatinya, bagaimana mereka menempatkan diri membawakan part tertentu di lagu tersebut serta bagaimana perubahan ketika penyanyinya makin berkurang karena ada salah satu tersingkir di tiap episode.

Ternyata setelah membaca beberapa postingan di akun instagram indonesian idol, memang lagu itu tak ada. Karena durasi katanya. Menyedihkan bener.
Apalagi durasi ternyata terpakai oleh gimmick-gimmick berlebih. Seperti episode Top 14 S14, scene drama pendek para kontestan seolah menjadi etalase sinetronnya RCTI. Meski tak bisa dipungkiri ada alumni Indonesian Idol yang sukses jadi selebriti bukan sebagai penyanyi, tapi ini ajang mencari penyanyi loh bukan mencari bintang sinetron.
Kalau ditonton ulang di aplikasi RCTI+ total durasi episode Top14 S14 adalah tiga jam lima setengah menit bonus lebihan putus-putus dari servernya.
Selasa paginya (10/12), saya iseng membuka akun instagram masing-masing kontestan Indonesian Idol S14, kemudian mendapati:

Urutan tadi, berdasarkan penampilan Senin malam, dari paling akhir yang disebutkan pertama hingga ke penampil terdahulu.

Kalau diurut berdasarkan like instagram, yang berada di bottom three adalah: Arrul, Ozi dan Arcelly. Tapi berdasarkan sistem vote, yang di bottom three adalah Keenan, Ecky dan Arrul. Kemudian yang tersingkir adalah Arrul yang notabene justru paling banyak follower-nya di instagram: 307K!! Kontestan lain yang terbanyak follower di instagram setelah Arrul adalah Josh dari Manokwari sejumlah 45K hanya 15% follower-nya Arrul.
Kalau mengamati netizen, banyak dari penganut mazhab kualitas yang mempertanyakan Arrul kok bisa lolos ke Top15, rasanya bakal tak percaya Arrul cuma mencicipi dua episode spekta. Mereka banyak menduga bahwa kalau penyelenggara berusaha memanfaatkan keterkenalan Arrul sebagai content creator sebelum ikut Indonesian Idol 14 sebagai gimmick mendongkrak rating.
Bagaimana kalian? Ikut menjadi penonton Idol S14 ini?
Masih ada sebenarnya yang ingin saya tuliskan soal Indonesian Idol ini, tapi di nanti lain kesempatan.
[kkpp, 12.02.2026]

Tinggalkan komentar