Pertama : KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA

Kedua : KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga : KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928

 

source: http://www.museumsumpahpemuda.go.id

 

Delapan puluh dua tahun yang berlalu, sekelompok pemuda mengikrarkan diri tentang satunya Indonesia. Berawal dari secarik kertas pada sesi terakhir kongres, ikrar yang dituliskan pemuda Muhammad Yamin itu kemudian menjadi peristiwa yang menurut Bung Hatta disebut dengan letusan sejarah. Letusan sejarah karena kemudian mengikatkan perbedaan-perbedaan yang ada menjadi Indonesia, yang memerdekakan diri 27 tahun setelah pernyataan itu.

Meski telah delapan puluh dua tahun, keinginan yang terpatri dalam ikrar yang selanjutnya dikenal sebagai Sumpah Pemuda itu, bukanlah sesuatu yang telah mencapai bentuk akhir. Mewujudkan sumpah itu adalah perjuangan tersendiri bagi tiap pemuda Indonesia pada tiap masanya.

Bertumpah darah yang satu, berbangsa yang satu, serta menjunjung bahasa persatuan adalah tiga hal yang masih relevan hingga kini. Bertumpah darah satu tanah air Indonesia, berarti ada kesediaan menumpahkan darah untuk tanah air tercinta. Berbangsa satu berarti meski Indonesia terdiri dari berbeda-beda suku, agama, adat istiadat serta kebiasaan, bingkai kita adalah satu bangsa . Menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia hakekatnya adalah meletakkan bahasa keindonesiaan kita di atas bahasa daerah, meletakkan kepentingan keindonesiaan di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Ya, mewujudkan sumpah itu adalah perjuangan tersendiri bagi tiap pemuda Indonesia pada tiap masanya. Berbagai cara dilakukan dan diupayakan untuk itu. Tiap masa dan tiap generasi berbeda cara. Dari upacara, lomba, serta berbagai kegiatan. Jaman pergerakan mahasiswa 1998-an, Sumpah Pemuda itu kemudian ‘diplesetkan’ menjadi bertanah air tanpa penindasan, berbangsa yang gandrung akan keadilan, dan berbahasa kebenaran. dan kini, ada yang menggelar kongres digital melalui situs jejaring sosial! Sungguh, rangkaian acara yang tidak terbayangkan oleh pemuda Soegondo Djojopoespito, pemuda Muhammad Yamin, serta ratusan pemuda yang mengikuti kongres waktu itu.

Jadi, masihkah kita meragukan keinginan pemuda terhadap sumpahnya untuk keindonesian? Bahkan dari para muda generasi sekarang kemudian kita belajar tentang: indONEsia (baca: Indonesia bakal tidak bisa tanpa ONE).

Ayo, Pemuda! Rekatkan kembali sumpah kita! Terlebih saat berbagai bencana mendera indONEsia kita …

[kkpp, 28.10.2010]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s