Di sebuah artikel yang berkembang dari milis ke milis, khususnya yang terkait dengan motivasi, pengembangan diri, dan sebangsanya, sebuah cerita menghubungkan antara pasir, batu, air dan gelas. Cerita itu memberikan ilustrasi bagaimana caranya mengisi gelas dengan pasir, batu dan air tanpa meninggalkan tumpahan-tumpahan yang tidak diperlukan.

Caranya sederhana ternyata. Batu dimasukkan terlebih dahulu, kemudian diisikan pasir yang akan mengisi rongga-rongga yang disisakan batu, dan terakhir baru dimasukkan air yang mengisi ruang gelas tersisa, ruang yang diberikan oleh batu dan pasir. Jangan mencobanya dengan urutan terbalik, karena bongkahan batu yang dimasukkan terakhir malah akan menghasilkan tumpahan yang tercecer melewati bibir gelas.

Cerita yang menarik meski saya sendiri tidak pernah mencoba secara langsung. Cerita itu menitipkan pesan bahwa gelas adalah ibarat ruang waktu yang terbatas yang kita punyai. Sedangkan batu, pasir dan air adalah pemisalan atas aktivitas-aktivitas yang kita jalani dalam ruang waktu tertentu. Bila kita salah mengisi sang gelas, maka kita hanya menemui tumpahan-tumpahan yang tercecer manakala gelas telah terlanjur terisi. Kita harus menempatkan batu, pasir dan air sebagaimana proporsinya.

Di kehidupan nyata, batu, pasir dan air itu adalah prioritas peruntukan sang waktu untuk apa. Bisa jadi berarti keluarga, pekerjaan, kegemaran, kecenderungan bermasyarakat dan bernegara, serta waktu untuk pribadi. Sedangkan sang gelas adalah 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 52 minggu dalam setahun. Sang gelas bagi semua orang tentu saja berukuran sama, tetapi bagaimana kita memasukkan batu, pasir, air dan apa saja yang ingin dimasukkan ke dalamnya bisa jadi berbeda dan memproduksi hal yang berbeda. Sebagian orang memetik keberhasilan atas gelas-gelasnya, sedangkan sebagian yang lain menyesali gelas-gelas yang tumpah.

Semoga kita tidak salah memilih benda apa yang akan kita masukkan ke dalam gelas, dan dengan urutan yang seperti apa. Tiada guna kita menyesali tumpahan terjadi manakala bibir gelas telah penuh.

***

Waktu memang berlalu sedemikian cepat. Tak terasa 24 jam kita hamburkan untuk apa. Tak terasa pula penanggalan telah berganti sedemikian rupa. Managemen waktu secara sederhana adalah bagaimana kita memilah benda yang hendak kita isikan ke dalam gelas dan dengan urutan yang seperti apa. Kesadaran atas hal ini jauh lebih penting dibandingkan alat bantu yang biasa digunakan: PDA, agenda, penanggalan, bahkan kehadiran sekretaris pribadi sekalipun.

Berusaha untuk terus tersadar adalah jauh lebih penting. Saya pun  menuliskan artikel ini sebagai upaya untuk tetap tersadar karena meski gelas-gelas telah bertumpahan, tetapi kita akan tetap memiliki gelas-gelas kosong yang harus kita isi.

[kkpp, 08.02.2008]

2 pemikiran pada “Gelas dan Waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s