Plengkung dan Taman Nasional Alas Purwo (2)

kkpp01Pancur. Jelang pukul 14 siang itu (20/10), sampai juga kami di pemberhentian terakhir menuju Plengkung. Kelegaan kami membuncah  sesampainya di sana. Bagaimana tidak, perjalanan dengan kendaraan sendiri sejak pagi tadi dari Ketapang, akhirnya berakhir. Kini kami harus berganti dengan kendaraan four-wheel drive yang ditetapkan oleh Taman Nasional untuk menuju Plengkung. Mungkin alasan yang sama, sebagaimana yang diterapkan oleh Taman Nasional Bromo yang membatasi kendaraan untuk memasuki area taman nasional. Baca selengkapnya

Plengkung dan Taman Nasional Alas Purwo (1)

Saban pagi, biasanya saya kecipratan merdunya kicauan burung-burung berkicau. Saya memang termasuk beruntung. Merdunya kicauan itu saya nikmati secara gratis, tanpa harus keluar biaya memelihara burung-burung berkicau itu. Para tetangga yang mempunyai kegemaran memelihara burung-burung itu pun juga sungguh berbaik hati dengan tak pernah mengirimkan tagihan atas kenikmatan itu.

Tetapi ada yang berbeda dengan pagi di hari Minggu (21/10) itu. Kali ini, merdunya kicauan burung itu saya nikmati dari burung-burung liar. Bukan yang beterbangan di sekitar rumah, tetapi langsung dari tepian Taman Nasional Alas Purwo. Tepat di semenanjung Blambangan, semenanjung yang berada di sisi tenggara Pulau Jawa. Baca selengkapnya

Berkunjung ke Ibukota Masa lalu (2)

Di tulisan terdahulu, kami mengawali perjalanan ke Trowulan terlebih dahulu ke Gapura Wringin Lawang dan Gapura Bajang Ratu. Masih di sisi selatan jalan raya Surabaya-Yogyakarta, kami melanjutkan ke Candi Tikus yang tak jauh dari Bajang Ratu.

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini sudah banyak mobil yang parkir di pinggir jalan. Bahkan ada rombongan yang menggunakan mobil kelinci (istilah kami untuk mobil yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga memungkinkan memuat lebih banyak penumpang, dengan di sisi kiri dan kanan terbuka, di sisi luar penuh dengan gambar yang memikat anak-anak).

Candi Tikus berbentuk sebagaimana kolam dengan beberapa bangunan di dalamnya, dengan ukuran 29,5 x 28,25 meter, dan menariknya terletak 3,5 meter lebih rendah dari tanah permukaan sekeliling. Karena berbentuk kolam itu, maka pada awal penemuannya pada tahun 1914, candi ini terpendam tanah di sebuah pekuburan rakyat. Awalnya hanya dikira sebagai sebuah miniatur candi, tetapi setelah dilakukan pemugaran secara menyeluruh pada tahun 1983-1985, jadilah sebagaimana foto di atas, sebagaimana yang bisa kita saksikan saat ini.

Di sisi utara, terdapat tangga turun selebar 3,5 meter. Juga terdapat selasar yang memungkinkan untuk mengelilingi bangunan candi. Anak-anak pasti menyukai situs ini karena ada selasar dan tangga-tangga, serta ikan-ikan, tapi tetap awas karena jika lengah bisa kecemplung kolam yang dalamnya 1,5 meter.

Bayangan menara yang menyerupai Mahameru

Ada yang menduga bahwa kolam ini berkenaan dengan sistem penampungan air yang digunakan penduduk ibukota Majapahit, tetapi mengingat adanya bentuk “meru” pada menara yang mirip dengan konsep Mahameru di India sehingga dugaan lainnya lebih kuat yaitu sebagai petirtaan yang terkait dengan pemujaan. Atas dugaan ini, maka bangunan ini layak mendapatkan sebutan sebagai sebuah candi yang sebenarnya.

Soal nama “tikus”, semata merujuk pada saat penemuan situs ini dimana masyarakat setempat banyak menemukan tikus. Mirip-mirip penamaan Gapura Wringin Lawang, yang dinamakan “wringin” karena pada saat itu ditemukan pohon beringin di sekitarnya.

Jika sampai di sini, sempatkan sejenak untuk mengisi buku tamu, membaca keterangan singkat tentang candi yang tertera pada kantor depan, dan … berpose!! Hehehe.

Berpose 1 - Pakai handphone pun jadi ...
Berpose 2 - Selasar merah bata
Berpose 3 - Biar panas, tak mati gaya ...

Oia, menurut informasi, di sekitar Candi Tikus ini akan dibangun sebuah tempat peribadatan Hindu, tetapi belum dapat terealisasikan karena sesuatu hal.

Hari kian panas, maka kami melanjutkan ke Museum Trowulan.

***

Museum Trowulan, atau yang sejak 2008 dikenal sebagai Pusat Informasi Majapahit, juga terletak di sisi selatan jalan raya Surabaya-Yogyakarta. Setelah berpanas-panas, berturut-turut dari Wringin Lawang, Bajang Ratu, dan Candi Tikus, di sini bisa sedikit ngadem. Tentunya sambil menikmati koleksi-koleksi yang telah diketemukan sejak jaman penjajahan (sambil mikir, berapa ya yang sudah dikirim ke Leiden sana).

Parkiran cukup luas. Seperti siang itu, ada beberapa bus pariwisata serta beberapa kendaraan roda empat yang telah parkir mendahului kami. Juga tersedia masjid bagi yang hendak melakukan kewajiban.

Hanya bisa foto di luar museum

Sayangnya keasyikan ngintip viewfinder harus terhenti di pintu masuk museum. Ada larangan untuk mengambil foto di area museum. Meski ada beberapa pengunjung yang nekat, saya yang tak sibuk dengan kamera malah banyak melamun, membayangkan suasana Majapahit dari artefak, benda-benda peninggalan, serta keterangan-keterangan yang diberikan oleh pihak pengelola museum (saat ini dikelola oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala -BP3- Jawa Timur).

Di museum juga memuat banner-banner berisi keterangan tentang candi-candi yang terkait dengan Majapahit. Tiga lokasi terdahulu juga ada disebutkan. Tak salah, beberapa rombongan memilih untuk datang lebih dahulu ke museum, baru kemudian menjelajah beberapa situs terkait. Sementara kami, memilih berdasarkan urutan kemudahan akses geografis.

Jangan khawatir, jika belum sempat membaca-baca literatur tentang Majapahit, di museum sudah memberikan keterangan yang diperlukan. Termasuk silsilah raja-raja Majapahit.

Puas mengitari museum, kami melanjutkan perjalanan dengan tidak mampir ke beberapa situs di Trowulan. Misalnya, Kolam Segaran,  Makam Troloyo, Makam Putri Campa, Candi Kedaton. Bisa di kemudian hari. Kali ini, karena telah siang, kami bermaksud menuju dua objek selanjutnya, yang berada di sisi utara jalan raya Surabaya-Yogyakarta. (bersambung)

[kkpp, 07.07.2011]

Sila mampir juga ke:

Situs Arkeologi Indonesia Terjadul

Memory of Majapahit

Memaknai Akhir Pekan

Akhir pekan (weekend) adalah suatu masa yang dinanti oleh banyak orang karena merupakan masa untuk mengistirahatkan diri setelah rutinitas larut dalam pekerjaan selama semingguan. Ada yang berlangsung selama dua hari dan ada pula yang hanya satu hari.

Sepertinya tradisi akhir pekan berakar dari keinginan baik untuk memberikan kesempatan pada para pekerja untuk beristirahat pun untuk beribadah. Henry Ford, pendiri Ford Motor Company, yang juga tokoh industrialis Amerika, pada tahun 1926 memulai kebiasaan akhir pekan ini dengan mematikan pabrik otomotifnya di hari Sabtu dan Minggu. Tiga tahun kemudian, asosiasi pekerja pakaian di Amerika juga menuntut hak untuk libur, dan sejak itu akhir pekan menjadi kebijakan di seantero Amerika dan dunia meski berbeda hari kapan akhir pekannya. Tahukah Anda, ada beberapa negara yang berakhir pekan pada hari Jumat dan Sabtu?

Sungguh, bersyukurlah Anda bila masih sempat mempunyai suatu hari yang disebut dengan akhir pekan. Karena ada sebagian orang yang merasakan tak ada beda antara hari itu dengan lima atau enam hari yang lain. Bagi mereka, semua hari adalah rutinitas yang sama. Bahkan, seandainya tak ada nama hari, pastilah tak ada beda antara hari ini, esok atau lusa. Tiap hari adalah perjuangan untuk kelangsungan hidup.

Bersyukur pulalah Anda, bila Anda termasuk orang yang bisa kapan saja meliburkan diri, orang yang merdeka  untuk menentukan kapan bekerja dan kapan beristirahat tanpa terikat aturan akhir pekan.

Meski demikian, apapun posisi Anda, apakah termasuk sebagai pekerja yang terikat kebijakan akhir pekan, atau orang yang merdeka dalam menentukan waktu bekerja, mengistirahatkan diri dari rutinitas adalah penyegar  jiwa yang memberikan efek peningkatan kinerja di kemudian hari. Banyak kajian akademis yang membuktikan hal tersebut.

Tinggal bagaimana Anda memilih aktivitas di akhir pekan itu serta bagaimana pula Anda memaknainya. Tak ada yang tahu model aktivitas apa yang paling cocok Anda lakukan di akhir pekan selain Anda sendiri.

Ada yang suka berlama-lama di tempat tidur. Ada yang bepergian ke tempat wisata serta bepergian mengunjungi keluarga (atas alasan ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla waktu itu sempat mengusulkan dan menerapkan kebijakan menggeser hari libur nasional menjadi berdekatan dengan masa akhir pekan terdekat, sehingga masa akhir pekan menjadi lebih lama, dikenal sebagai long weekend, sehingga memacu masyarakat untuk bepergian). Ada yang menghabiskannya  dengan melakukan hobby. Ada yang memanfaatkannya untuk aktivitas sosial dengan berkumpul bersama keluarga ataupun komunitasnya.

Memang, banyak pilihan aktivitas di akhir pekan.  Mana yang Anda suka?

***

Jauh sebelum saya mendapatkan sebuah pertanyaan yang menghenyakkan di suatu Sabtu pagi, (baca juga: Celoteh Nuha: Belajar Memilih), saya menyadari bahwa waktu akhir pekan adalah sepenuhnya family day. Hari untuk keluarga.

Karenanya, mohon maaf bila seringkali saya menolak ajakan teman dan kawan untuk berkegiatan di hari Sabtu dan Minggu. Hanya beberapa kegiatan saja yang menjadi pengecualian: (i) bermain tenis bersama kawan kantor, (ii) menghadiri undangan pernikahan dan khitanan, yang biasanya memang dirancang  jatuh pada hari Sabtu dan Minggu, (iii) nonton bareng Liverpool FC bersama kawan-kawan BIGREDS Surabaya, selama jatuhnya jadwal pertandingan bisa dikompromikan dengan jadwal Nuha, (iv) bertanding di kejuaraan bridge, (v) aktivitas tetangga dan keluarga besar.

Jadi, bila ingin mengajak saya untuk  menikmati secangkir kopi atau ber-cangkruk-ria, ngobrol dan berdiskusi ngalor ngidul, saya sepenuhnya terbuka di lima hari yang lain setelah jam kantor hingga (bahkan) subuh menjelang. Pokoknya, asal bukan sewaktu akhir pekan. Hehehe.

(kkpp, 14.10.2010)

 

Catatan tentang “The Kop Comes to Asia 2009” (1)

You’ll Never Walk Alone.

Bagi kami bukanlah semata sebuah jargon, bisa jadi adalah pegangan hidup, penanda pengikat kebersamaan kami, pengingat manakala kami down serta sebuah ikrar tentang optimisme dan kesetiaan.

Saat kemudian terdengar rumor bahwa Liverpool FC (LFC) merencanakan tur ke Asia, rasanya, siapa sih yang tak ingin mengikuti panggilan janji di hati tuk menemani kemana pun LFC pergi. Apalagi tak perlu jauh-jauh ke Anfield. Cukup ke Bangkok atau Singapura yang hanya sekejapan mata. Menunggu datang ke Jakarta pun malah Surabaya, entah kapan bisa terlaksana.

Sempat memendam keinginan itu, karena ada beberapa hal yang perlu didiskusikan dengan Bundanya Alvaro. Eh, ternyata malah Bundanya Alvaro yang menawari di suatu pagi akhir April. “Yah, tadi ada berita kalo Liverpool maen ke Asia Tenggara, apa Ayah ndak berangkat?”.

Ah, masih nyusun rencana gimana ngomongnya, eh, malah dapat lampu hijau duluan. I love you full, dah …

Serta merta, langsung mendaftarkan diri di thread forum. Nyari tiket, saking terburunya malah gak sempat mbanding-mbandingin, tau-tau tiket air asia jakarta-singapura pp, dah ke klik ok. Padahal di kemudian hari, nyesel juga. Satu, ada yang lebih murah lagi, dan yang lebih penting, tampaknya lebih banyak anak Bigreds yang ngambil jalur yang lain. Padahal salah satu alasan ngambil Jakarta-Singapura adalah supaya lebih banyak interaksi dengan Bigreds, maklum event Gathernas Jogja akhir tahun lalu, tidak bisa ikutan karena pas jadi suami siaga.

Lantas, woro-woro ke sekretaris dan kolega kantor buat jadi person in charge waktu ditinggal cuti ntar. “Emang kapan cuti, Kap?”

“Akhir Juli”

“Ya, ntar aja kalo sudah dekat. Masih tiga bulan lagi lho.” Alamak, bodohnya …

Sebulan kemudian, datanglah berita awal kekacauan itu. Acara kantor yang seharusnya diadakan akhir Juni, harus digeser ke akhir Juli karena ngikutin si Prancis yang bisanya datang ke Indonesia akhir Juli. Dan acara yang di Surabaya, jadinya pas tanggal 28. Sehari pas dengan tiket balik Singapura-Jakarta yang sudah di tangan. Alamak, terancam gagal berangkat deh. Walhasil, woro-woro yang penuh kebodohan beberapa waktu yang lalu, malah jadi senjata.

Pokoknya tetep cuti, kan dah jauh hari bilangnya, kataku.

Gak papa sih, asal semua beres sebelum ditinggal cuti, kata mereka.

Yee…

Terpaksa seminggu sebelum keberangkatan, harus membereskan beberapa detil acara. Saking fokusnya, jangankan forum yang hanya diintip sesekali, tiket Surabaya-Jakarta pp malah lupa kalo belum punya. Ternyata kemudian banyak kemudahan. Jumat pagi tanggal 24 yang seharusnya sudah dihitung cuti, ternyata masih harus ke kantor buat serah terima kerjaan dengan para person in charge. Tiket Surabaya-Jakarta pp, yang awalnya keliatan bakal berburu go show langsung di bandara, malah klir karena diurusi sekretarisnya bos.

Nyampai di Cengkareng, iseng ngontak bro uda Havid, salah satu anak Bigreds yang sempat dinas di Surabaya. (Oia, sempet kasak-kusuk sebelumnya, tidak banyak anak Bigreds Surabaya yang berangkat. Ada bro Anand, tapi sama keluarga, serta bro Ucha yang belum jelas jadi apa ndak). Untung ga jadi nyasar ke terminal 3 ternyata malah dapat info kalo anak-anak Bigreds yang pake Tiger Air lagi ngumpul di terminal 2E. Untung yang kedua, meski belum ketemu ama bro Havid, ternyata Bro Rizal, salah satu pentolan BigReds, masih mengingatku padahal cuma ketemu sekali pas nobar Champion versus Madrid leg 1 waktu dines Jakarta tempo hari, dan padahal saat itu aku masih pakai baju kantoran belum sempat ber-merah-ria. Untung yang ketiga, dikenalin bro Rizal dengan para ‘kaum tersesat’ yang naik air asia. Bro Ihsan dan bro Syarief. Ah, bener-bener You’ll Never Walk Alone, dah…

ihsan dan syarief: gak jadi alone, dah ...

Ganti baju, tukar SGD seperlunya lantas bertiga menuju keberangkatan Air Asia. (to be continued)

(kkpp, 03/08/2009)