Hari ini setahun kurang seminggu sejak kejadian pendaratan di Hamori (bisa baca di sini). Hari ini pula adalah hari kesembilan sejak operasi keempat. Alhamdulillah, sudah bisa jalan agak jauhan, meski seperti lagu Kotak: “pelan-pelan saja … .”

Tangan kiri masih memerlukan mitella. Perban masih terpasang. Jahitan belum dibuka. Lantas kenapa jadi pengaruh ke jalan yang jadi pelan-pelan? Karena di operasi keempat ada sebagian tulang panggul yang harus dicangkokkan ke si humerus yang belum nyambung.
Efek pengambilan tulang untuk cangkok itu yang menyebabkan kaki kiri masih terasa sakit dan belum bisa bertumpu satu kaki. Pas baru kembali ke ruang rawat inap sesaat setelah operasi, saya malah nggak ngeh kalau sebenarnya tidak bisa berdiri sendiri.
Saya memaksa berdiri tapi jadinya malah bangun-bangun sudah di lantai dengan kehebohan di seluruh ruangan. Sampai ada 2 sekuriti segala untuk membantu mengangkat saya.
Pas kapan hari H+5 operasi keempat, sudah di rumah, nyoba jalan seperti biasanya. Dapat 10-15 meter pasti berhenti dulu. Sesampai di blok seberang, pas berhenti, didatangi seorang bapak. Pertama kali bertemu. Ngobrol-ngobrol, ternyata beliau punya rumah tersebut tapi tinggal day to day-nya di perumahan tetangga bukan di rumah yang saya berhenti itu.
Beliau mengulurkan tangan, “Oia pak, nama saya RIDWAN.”
Saya tertawa, teringat kisah imajiner di #30haribercerita yang masih menggantung akhir ceritanya.
Beberapa kali saya mendengar pertanyaan, yang kira-kira begini: kok lama ya sembuhnya? Atau, kapan sembuhnya?
Pertanyaan-pertanyaan semacam tersebut sering saya terima, begitu pun terdengar dari pasien-pasien lain ketika barengan dalam antrian kontrol dokter orthopaedi. Baik dari pasien ke pasien lainnya. Atau juga dari pasien ke tenaga kesehatan.
Para tenaga kesehatan pun, meski itu adalah pekerjaan utamanya yang banyak bertemu kasus serupa, untuk jawaban dari pertanyaan tersebut juga bukanlah hal mudah.
Tak jarang cerita keberhasilan Si A di sana yang datang ke pengobatan alternatif atau Si B yang sehat kembali berkat tangan dingin Pak X yang punya kemampuan, atau Si C yang apalah apalah sering terdengar. Saya dengarkan dan disenyumin saja.
Bisa dipahami sih, tiap orang pengin lekas sembuh dan kembali ke kehidupan sebelum sakit. Saya juga begitu. Pengin lekas main tenis lagi, pengin bisa nyetir lagi, pengin bisa motoran lagi. Tapi semua hal bukan simsalabim. Sejauh on track, bismillah, kesabaran adalah teman terbaik menuju kesembuhan.
[kkpp, 15.02.2026]

Tinggalkan komentar