Sampai hari ini masih berbangga. SIM A didapat dari ujian. Bukan calo.

Padahal sempet ngeper lihat mobil ujian adalah Suzuki APV yang belum pernah pegang sebelumnya.
Peserta ujian praktek sebelumnya pada gagal. Begitu saya lulus langsung bisa ujian praktek yang dilihat banyak orang, yang lain pada nanya: “sudah ikut berapa kali pak?”
“Sekali ini pak.”
Kata yang nanya, “Saya sudah sembilan kali.”
“Tapi, saya salut sama Bapak, sembilan kali gagal, masih tidak tergoda bujukan calo yang terkutuk.”
***
Ujian SIM memang rentan praktek percaloan. Selama memang yang tampak di publik kelihatan dipersulit dan mengada-ada, dan fenomena ‘back door’ yang selalu terbuka meski tak kasat mata. Problemnya, penegakan hukum buat penyedia ‘back door’ tak pernah bisa dijangkau hukum. Lha bagaimana, pelakunya ya aparat penegak hukum sendiri. Yakin bahwa aliran uang percaloan SIM tidak dinikmati para penjahat berseragam?
Sudah sewaktunya ujian SIM diselenggarakan oleh sekolah keprofesian yang bisa diaudit dan diakreditasi. Semacam sekolah pilot buat penerbang dan sekolah profesi lainnya. Pelanggaran atau kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan oleh pemegang SIM, maka nilai akreditasi penyelenggara/penerbit SIM bisa dikurangi dan atau dibekukan.
#RESETINDONESIA.
[kkpp, 18.09.2025]

Tinggalkan komentar