Tutup

Multitasking

komputerKonsep multitasking dipahami sebagai melaksanakan beberapa fungsi dalam suatu kurun waktu yang sama. Di dunia komputer, konsep ini dikenalkan oleh IBM pada tahun medio 1960-an. Karenanya pada saat ini, sekian dekade setelahnya, kita bisa menyiapkan sebuah dokumen presentasi, bersamaan dengan mengunduh file, sekaligus sambil mendengarkan musik, ketiganya dilakukan oleh komputer pada saat bersamaan dengan menjalankan berbagai program yang dibutuhkan.

Bagaimana dengan manusia? Apakah bisa melakukan fungsi multitasking ini? Baca Selengkapnya

Presiden Truk Gandeng

Pernah merasa gemas saat mengendarai kendaraan di jalur Jombang-Kertosono atau Nganjuk-Caruban, atau jalur setipe lainnya? Gemasnya dikarenakan ada truk gandeng beriringan tepat di depan kita. Besar dan lambat, sementara kita terpuruk di belakangnya. Bersama debu dan asap engine yang terengah.

Mau disalip kondisi tidak memungkinkan, mau disabar-sabarkan, kok ya kepikiran kapan sampainya jika terus menguntit di belakangnya. Sebagian besar kemudian memilih menyalip saja. Nunggu saat yang tepat, atau nekat melawan marka yang tak putus-putus. Bisa saja langsung bablas lancar jaya, atau bisa ketilang pak polisi di kawasan itu yang teliti mengamati marka, atau malah menjadi sumber kecelakaan.

Bandingkan dengan di luar negeri... (pic source: http://glamgirlcars.com/car-tuning/truck-tuning-ride-the-best-truck/)

Iseng-iseng saya mengamati catatan perjalanan di GPS saya. Untuk Surabaya-Madiun yang menempuh 160-an kilometer ditempuh kecepatan rata-rata 40 km/jam, padahal kecepatan maksimum yang tercatat adalah di atas 100-an km/jam (saya malu menuliskan kecepatan sebenarnya, hihihi). Sementara jika pas di belakang truk gandeng, bisa dapet 30 km/jam adalah sebuah kemewahan.

Saya maklum sih mengapa mereka lambat. Dimensi yang besar, ditambah dengan konfigurasi gandeng, pasti membutuhkan skill mengemudi tersendiri. Belum lagi dengan beban penuh yang dua kali beban truk biasa pasti menguras torsi mesinnya. Lebih-lebih ketika di tanjakan maupun tikungan.

Tetapi jangan lupa, lihat juga resikonya. Berapa banyak kecelakaan melibatkan truk gandeng. Di tahun ini saja, sudah banyak kejadian yang melibatkan truk gandeng. Tanggal 11 Juni yang lalu, terjadi kecelakaan yang melibatkan dua truk gandeng bernopol L dengan satunya bernopol B di jalan tol Slipi arah Tomang. Di hari yang sama, tapi di jalan raya Sukowati, Sragen, truk gandeng yang melintas ditabrak dua kendaraan MPV. Tiga hari sebelumnya, kecelakaan kali ini terjadi anatara truk gandeng yang memuat drum menabrak tru tangki air yang sedang mengganti ban, satu orang meninggal menjadi korban. Tanggal 24 Februari, kali ini di ruas tol Cawang. Sementara di penghujung tahun kemarin, tiga hari menjaelang pergantian tahun 2011, truk gandeng memuat tepung batu putih seberat 31 ton terguling di jalur Kudus-Pati. Sembilan hari kemudian, kecelakaan truk gandeng juga terjadi di Cengkareng. Begitu banyak cerita tentang itu yang bakal menghabiskan banyak alinea.

Saya jadi mikir, siapa sih yang punya ide bikin truk gandeng? Ide utamanya mungkin sekali jalan bisa memuat lebih banyak muatan. Lebih ekonomis daripada menggunakan dua unit truk biasa. Tetapi tidakkah itu kemudian banyak mengganggu banyak kepentingan bersama. Apalagi di negeri kita, infrastruktur masih belum menunjang pengoperasian truk gandeng. Seandainya saja, truk gandeng hanya digunakan dari sebuah kawasan industri ke pelabuhan melalui jalan tol khusus, mungkin nilai gunanya bisa terasakan.

***

Perasaan gemas di alinea pembuka, juga saya rasakan sekarang. Gemas terhadap kepemimpinan RI-1 saat ini. Dengan legitimasi yang digenggamnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tak cukup tangkas membawa  negeri ini. Agak-agak mirip sopir truk gandeng. Kendaraannya berat dan terseok melewati jalanan berliku dan mendaki. Nggereng tapi cuma menghasilkan asap yang mengepul menambah polusi.

Sang sopir enggan menurunkan muatan yang memberatinya. Lupa bahwa tujuan sebenarnya adalah segera sampai ke tempat tujuan dan tidak menghalangi kendaraan-kendaraan lain di belakangnya yang juga ingin segera sampai ke tempat tujuan.

Jadi Pak Sopir, segeralah bertindak! Minggir sejenak, buang muatan tak perlu untuk menyelamatkan muatan yang lebih berharga lainnya. Atau, ganti kendaraan saja yang lebih tangkas dan sesuai untuk kondisi negeri ini yang tertatih di jalanan berkelok dan mendaki. Daripada mogok di tengah jalan lho …

Atau kita bersiap mencari sopir yang lebih sesuai. Yang lebih trampil mengemudikan amanah berat dari rakyat …

[kkpp, 22.07.2011]

Tips Aman Berkendara

Alhamdulillah, si Igago, Avanza silver yang menemani saya selama dua setengah tahun terakhir, seminggu yang  lalu telah melewati 100.000 km dan sepanjang itu pula tidak ada kecelakaan yang berarti. Hihihihi, masak kecelakaan berarti sih? Maksudnya, sepanjang itu si Igago sama sekali tidak sambang asuransi. Rugi dong bayar premi? Gak juga. Dibanding pengalaman terdahulu bersama Pak Jayus, kijang kapsul putih edisi terakhir sebelum Toyota launching varian kijang innova, yang menemani saya bertahun-tahun sebelum bersama si Igago, capaian zero insurance claim si Igago perlu saya syukuri. Bersama Pak Jayus, setidaknya beberapa kali saya harus claim ke asuransi sepanjang penggunaan 225.000 km, termasuk diantaranya dua kali claim yang lumayan besar. Baca Selengkapnya

%d blogger menyukai ini: