Berlomba dalam Kebajikan

Semalam (4/8), penceramah sholat tarawih menyampaikan bahwasanya jelang akhir Ramadhan semacam tadi malam ada dua bahasan yang sering dijadikan topik: pertama soal malam Qadr dan yang kedua adalah tentang zakat.

Tentang hal yang pertama, beliau menyampaikan pertama bahwasanya tak perlu lagi mempermasalahkan kapan tepatnya malam Qadr akan jatuh: pada malam genap atau ganjil. Apalagi pada Ramadhan 1434 ini ganjil-genap menjadi tidak relevan lagi. Sebagian ada yang meyakini jika malam ini adalah genap sementara yang lain meyakini malam ini adalah malam ganjil. Baca selebihnya »

Siang Dipendam Malam Balas Dendam

amild1“Siang dipendam malam balas dendam”. Demikian tag line yang saya baca kemarin di sebuah media iklan yang membentang sebelum jalan layang mayangkara yang melintasi pelintasan kereta api di Wonokromo, Surabaya. Iklan ini sungguh menarik. Tulisan berada di atas, sedangkan di bawahnya tergambar sejumlah mangkok, piring, gelas yang terbuat dari kaca tampak kosong. Tapi itu dapat ditemui saat saya melintasinya di siang hari. Waktu malam harinya saya kembali melewati media iklan tersebut, tampak berbagai mangkok dan piring tersebut penuh dengan berbagai makanan yang menggiurkan.

Soal kreativitas sang pembuat iklan juga dibahas di sini.

Kita lantas mengasosiasikan tagline itu dengan suasana puasa ramadhan 1428 H ini. Tagline itu menyindir kita yang tengah berpuasa di siang hari tapi sering malah berpesta pora di malam harinya, dengan alasan balas dendam. Mudah-mudahan sih, mereka yang tersindir kemudian malah menemukan jalan hakekat puasa dan bukan malah menyerang dan merusak perusahaan iklan yang terkait. Keriuh-rendahan akan keberadaan iklan tersebut bisa juga ditemui di sini.

Sejujurnya, iklan-iklan dari perusahaan yang terkait dengan iklan itu selalu menarik. Iklan dari rokok yang mengusung bendera “bukan basa-basi” dan “tanya kenapa” ini sejak dahulu tampil konsisten dengan tagline yang tajam menyindir dan mudah diasosiasikan oleh pembaca iklannya. Entah berapa persentase pembaca iklan yang terpengaruh oleh iklan ini dan berapa pula yang terkonversi menjadi pembeli bahkan menjadi customer loyal seperti halnya saya.

Sependek ingatan saya, iklan ini diasosiasikan dengan Sampoerna A Mild, salah satu varian produk dari HM Sampoerna Tbk, perusahaan rokok dari Surabaya yang kini telah dimiliki oleh Philip Morris International. Awal saya merokok rokok ini harganya masih di bawah seribu rupiah dan kini telah berlipat lebih dari sepuluh kalinya. Cukainya pun senilai 40 persen. Tinggal hitung saja berapa rupiah yang sudah disisihkan ke negara. Sementara di kios rokok yang ada di Orchard Road Singapore, sekotak dijual seharga hampir 12 SGD. Enam-tujuh kali lipat dibandingkan harga di negara asalnya.

Bagi perusahaan rokok yang kian lama kian dimusuhi oleh publik, penampilan iklan semacam yang ditampilkan Sampoerna A Mild ini secara konsisten sejak bertahun-tahun yang lalu dan hingga sekarang saat berganti kepemilikan pun, akan tampil menyegarkan dan cerdas.

Bayangkan, di masa depan manakala iklan rokok tidak boleh tampil di publik lagi, orang akan senantiasa ingat akan iklan itu. Orang akan senantiasa ingat bahwa masih ada segelintir orang cerdas dan kreatif yang senantiasa mengingatkan rakyat negerinya bahwa kita sering berperilaku keliru. Berbeda dengan produk rokok lain, yang lebih menonjolkan keperkasaan, kegantengan, bahkan sebagai gaya hidup.

***

“Siang dipendam malam balas dendam”. Sindiran tagline ini sebenarnya tidak saja bagi pelaku puasa yang belum menemukan jalan hakekat puasa. Sindiran ini juga berlaku bagi masyarakat kita yang banyak berperilaku dua topeng. Saat bertemu muka berbaik muka. Saat tak ada di muka, kita lebih suka mengomel di belakang, bahkan mengambil jalan hitam yang culas, jahat dan penuh aroma balas dendam.

Semoga puasa kita yang sepenuh hati akan mengantarkan kita menjadi manusia yang bermanfaat dan bermartabat. Amin.

[kkpp, 21.09.07]