KAAI: Hanya untuk Lima

Kawan, sebagai rangkaian dari berbagai rally diskusi yang telah dijalani sejak pergantian tahun, resmilah sudah Komite Aksi Alumni ITS (KAAI) merilis dukungan untuk mendukung secara penuh pasangan calon walikota – wakil walikota Surabaya 2010-2015 nomor urut 5, yaitu Fitradjaja Purnama – Naen Suryono.

Bertempat di Nen’s Corner Cafe & Resto, Jl. Indragiri no. 5 Surabaya, di hadapan puluhan wartawan media cetak dan media internet, berikut ini adalah pernyataan resmi dari KAAI:

***

” … jadi pejuang yang tak kan kenal letih, membangun negeri … ” (hymne ITS)

Keberadaan Komite Aksi Alumni ITS (KAAI), yang dilahirkan pada bulan Maret 1998, sebagai wahana bagi alumni ITS yang kritis terhadap kondisi bangsa dan negara pada waktu itu, hingga kini tetap eksis di bidang sosial, politik maupun ekonomi kerakyatan.

Bila memperbandingkan kondisi politik era kelahiran KAAI waktu itu, hingga 12 tahun kemudian, tentu saja banyak terjadi perubahan. Kebebasan berkumpul dan berpendapat lebih terjamin hingga mampu menumbuhsuburkan partai politik.

Sayangnya, keberadaan partai politik belum menjawab kepercayaan rakyat. Masih jauh panggang dari api. Nuansa jual-beli suara masih terasa di sana sini. Tidak saja di tataran elit partai, juga terasa pada saat elit partai berupaya mendapat dukungan dari rakyat. ”Persekongkolan” berdalih koalisi pun oposisi lebih banyak terjadi sebagai cara untuk menaikkan posisi tawar antara satu partai dengan yang partai lainnya dengan menafikkan apa yang sebenarnya diinginkan rakyat sebagai pemilihnya.

Begitu halnya harapan untuk melihat partai politik sebagai kawah candradimuka kepemimpinan nasional tak terjadi. Partai lebih banyak mempertimbangkan untung rugi dari sisi materiil dibandingkan mengedepankan proses pembinaan kader secara internal. Bahkan integritas seorang kader yang loyal dan baik ternyata kalah dengan fungsi kekerabatan. Tak jarang pula diberitakan, seorang kader partai tertentu berpindah ke partai lain atas hal-hal yang tidak prinsipil. Keinginan mendapatkan restu dari elit politik, yang kental nuansa orde baru, lebih mengemuka dibandingkan nuansa partai yang sehat karena mengedepankan upaya bottom up yang lebih merakyat.

Menjelang pelaksanaan pemilihan umum walikota Surabaya 2010-2015 ini, KPU telah menetapkan calon-calon kontestan yang memenuhi persyaratan dan bahkan telah melalui pemilihan nomor urut yang akan digunakan. Sebagian besar (tiga dari lima) di antara calon-calon walikota tersebut dekat dengan kami karena mereka adalah saudara kandung. Saudara kandung se-almamater ITS.

Meski demikian KAAI menyatakan dukungan penuh untuk pasangan nomor LIMA, pasangan Fitradjaja Purnama – Naen Suryono, berdasar kedekatan cita-cita historis kelahiran KAAI dengan visi dan misi yang diemban oleh pasangan nomor LIMA tersebut, yaitu pasangan calon walikota – wakil walikota yang diajukan dari jalur independen oleh Konsolidasi Arek Suroboyo.

Sebagai langkah awal, KAAI akan berinisiatif untuk membuka ”DOMPET untuk Fitradjaja-Naen”, sebagai bentuk konkret dukungan tersebut. Upaya ini sejalan dengan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, serta partisipasi aktif dari rakyat pemilik sesungguhnya kedaulatan negeri ini.

Dengan upaya ini diharapkan para alumni ITS (serta simpatisan pendukung calon independen) dapat menyalurkan dananya untuk maksud-maksud pemenangan secara bertanggungjawab. Bukan sebagaimana ke-salah-kaprah-an yang terjadi selama ini, bahwa calon eksekutif dan legislatif adalah mereka yang bisa membeli suara rakyat, serta ke-salah-kaprah-an pula anggapan bahwa siapapun yang tidak bergelimang uang tidak dapat dipilih menjadi pemimpin negeri ini. Padahal seharusnya: SUARA RAKYAT tidak dapat DIBELI!

”DOMPET untuk Fitradjaja-Naen” yang akan mulai digulirkan sejak pernyataan sikap ini, berupaya agar setiap rupiah yang akan dihimpun melalui rekening bank1 maupun penggunaannya akan dipertanggungjawabkan melalui media internet2 dan media cetak.

Semoga atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa dan dukungan rakyat, kemenangan pemilihan umum walikota Surabaya 2010-2015 adalah kemenangan rakyat sesungguhnya.

Surabaya, 6 April 2010.

***

(kkpp, 07.04.2010)

Inilah Nomor Urut Cawali pada Pemilukada 2010-2015

Bertempat di Kantor KPU Surabaya, Jl Adityawarman Surabaya, sebagaimana dijadwalkan, pada hari Sabtu, 3 Juni 2010, dilakukan pengundian nomor urut calon walikota Surabaya pada pemilukada 2010-2015.

Dengan dihadiri semua pasang, inilah hasil pengundian nomor urut:

pasangan no. 2
pasangan no. 2
pasangan no. 3
pasangan no. 3
pasangan no. 4
pasangan no. 4
lima untuk INDEPENDEN
lima untuk INDEPENDEN

SATU (1) :  BF Sutadi – Mazlan M (PKB-Gerindra)

DUA (2) :  Fandi Utom0 – Yulius Bustami (PKS, PDS, PPP, PKNU)

TIGA (3) : Arif Afandi – Adies Kadir (Demokrat-Golkar)

EMPAT (4) :  Trirismaharini – Bambang DH (PDIP)

LIMA (5) : Fitradjaja – Naen Suryono

Fitradjaja bersama pendukung: DEMOKRASI dari RAKYAT, oleh RAKYAT, dan untuk RAKYAT.
Fitradjaja bersama pendukung: DEMOKRASI dari RAKYAT, oleh RAKYAT, dan untuk RAKYAT.

(kkpp, 03.04.2010)

Lalui Tahapan Verifikasi, Fitra-Naen Bersiap Bersaing dengan Calon dari Parpol

Meski meyakini dengan sepenuh hati bahwa dukungan untuk kawan Fitra adalah dukungan yang tulus dari pendukungnya, saya sempat khawatir kalau akan terganjal di tahapan verifikasi.

Kekhawatiran saya bermuara dari beberapa pengamat politik di Surabaya yang sejak awal-awal tahun meyakini bahwa persyaratan yang harus dilalui calon independen cukup berat. Harus mengumpulkan sekurangnya 3% dari jumlah penduduk Surabaya, yaitu sekurangnya 88.090 dukungan.

Kekhawatiran yang lain disebabkan kemungkinan adanya “serbuan” dari pihak-pihak yang tidak menginginkan calon independen lolos, yang notabene lebih bermodal kapital. Plus media massa di beberapa hari terakhir turut berusaha menggembosi .

Saya masih berharap-harap cemas, Rabu malam kemarin (10/3). Kontak langsung dengan Sang  Calon, plus beberapa rekan yang tergabung di tim pemenangan, belum cukup menenangkan saya hingga media massa dan media online menerbitkan berita itu.

Alhamdulillah, pasangan Fitradjaja-Naen lolos dengan dukungan terverifikasi melebihi yang disyaratkan. Menurut Kompas, Ketua Kelompok Kerja Pencalonan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Surabaya Eko Waluyo Suwardyono mengatakan, hasil verifikasi faktual menunjukkan dukungan Fitra-Naen berjumlah 90.030 dukungan. Untuk bisa lolos verifikasi, pasangan bakal calon perseorangan harus didukung minimal 88.090 pemilih terdaftar di Surabaya. “Jumlah dukungan sudah memenuhi syarat,” ujarnya di Surabaya, Kamis (11/3).

Keberhasilan ini sekaligus mencatatkan sejarah di Surabaya sebagai satu-satunya calon perseorangan yang lolos pada pilkada walikota Surabaya 2010-2015. Sementara calon yang juga mengambil jalur perseorangan, Alisyahbana dan Chrisman Hadi yang juga pada awalnya meng-klaim mempunyai dukungan seperti yang disyaratkan ternyata gagal melewati kedua tahap verifikasi, administrasi dan faktual.

Dengan melewati proses ini, kini pasangan Fitra-Naen bersiap mengikuti tahapan selanjutnya. Melengkapi proses pendaftaran, tes kesehatan, dan sebagainya, sebagaimana calon-calon yang diusung partai politik: Arif Afandi – Adies Kadir (Demokrat, Golkar plus PAN), BF Sutadi – Maslan Mansyur  (PKB – Gerindra), Tri Risma – Bambang DH (PDIP), serta (mungkin) Fandi Utomo yang masih mencari dukungan resmi dari partai politik karena gagal mendapatkan dukungan dari partainya sendiri.

Mengutip suarasurabaya.net, Fitra yang dijumpai wartawan pasca tes kesehatan hari ini (Jumat, 12 Maret 2010) , menyampaikan bahwa dirinya optimis bersaing di pemilukada kali ini. ”Pertimbangannya, saat ini masyarakat Surabaya merindukan sosok pemimpin yang bukan diusung partai. Calon walikota independen bisa jadi alternatif pilihan,” tukasnya.

Terus berjuang, Kawan Fitra. Kami akan senantiasa ada.

(kkpp, 12.03.2010)