Agatha Retnosari: Politik Jalan Sunyi

Seumur-umur nge-blog, belum sekalipun saya membuat postingan yang bersifat wawancara. Baru kepikiran sekarang.Itu pun bukan wawancara bertemu empat mata, melainkan wawancara dengan memanfaatkan fasilitas chatting via WhatsApp. Meskipun secara teknis mudah, yang agak sulit adalah menyesuaikan waktu karena bagi saya wawancara sebaiknya sejak awal telah dikondisikan pada suatu waktu yang diperjanjikan dan subyek wawancara sudah memahami bahwa chatting tersebut akan saya publish di blog ini.

Untuk wawancara yang pertama ini, adalah seorang kawan, Agatha Eka Puspita Retnosari, nama lengkapnya. Iik, begitu kami biasa memangilnya, dan ia menuliskan namanya sebagai calon legislatif DPRD Jatim, daerah pemilihan (dapil) Surabaya-Sidoarjo, dari Partai PDI Perjuangan (PDIP) nomer urut 3, dengan menggunakan nama yang lebih singkat: Agatha Retnosari. Continue reading “Agatha Retnosari: Politik Jalan Sunyi”

In Memoriam: Ir. Soetjipto

Tokoh, salah satu orang kuat (di/dari) Jawa Timur. Sebagai politisi dia punya sikap dan setia pada pilihan. Sebagai wirausahawan dia berilmu dan ‘utun’. –Fitradjaja Purnama

Insinyur yang berpolitik dan melawan. Mungkin itulah gambaran sosok Pak Tjip, yang tak berbeda dengan tokoh yang ia kagumi, Bung Karno. Selamat jalan Pak Tjip. –detik.com

Pak Tjip, begitu beliau lebih akrab dipanggil, adalah sosok politikus yang dikenal meletakkan dasar-dasar partai PDI Perjuangan. Di awal kelahirannya, PDI-P, memang tidak bisa dipisahkan dari sosok pria kelahiran Trenggalek, enampuluh enam tahun yang lalu itu. Pada masa itu, alumni ITS jurusan Teknik Sipil angkatan kedelapan (S8), memimpin DPD PDI Jawa Timur Pro Megawati melawan kepengurusan PDI hasil campur tangan rezim Orde Baru, Latief Pudjosakti. Karenanya, bagi mereka penentang rezim Orde Baru di Jawa Timur, pastilah mengakrabi istilah ‘posko pandegiling’, yaitu salah satu kawasan di Surabaya dimana pak Tjip berkantor sebagai wirausahawan di bidang konstruksi yang kemudian digunakan sebagai posko menggalang kekuatan rakyat melawan rezim.

Di Posko Pandegiling itulah, saya pertama kali bertemu beliau secara langsung. Waktu itu, saya dan seorang kawan, mewawancarai beliau untuk salah satu artikel yang akan kami terbitkan di media pers mahasiswa, “1/2 tiang”, di medio 1998. Wawancara antara mahasiswa dengan kakak seniornya, walau kami terpisah usia yang cukup jauh. Di sela-sela kesibukan eskalasi dunia politik Indonesia yang tengah bergejolak pada waktu itu, beliau tetap menyempatkan waktu untuk wawancara yang ternyata banyak berisi pesan agar mahasiswa seharusnya senantiasa setia pada peran agen perubahan.

***

Ir. Soetjipto, yang meninggal hari Kamis (24/11) kemarin sore di RS Darmo Surabaya dan dimakamkan di TPU Keputih Surabaya dengan sederhana keesokan harinya, adalah termasuk salah satu dari sedikit alumni ITS yang berkiprah di dunia politik. Bahkan dari yang sedikit itu, bisa dikatakan beliaulah yang terbaik. Meniti karir di PDI-P, beliau sempat menjabat sebagai Sekjen DPP PDI-P periode 2000-2005, kemudian dipercaya menjadi Wakil Ketua MPR RI pada periode 1999-2004, dan sempat mencalonkan diri pada pemilihan kepala daerah Jawa Timur 2009.

Meski beliau lebih dikenal karena karir politiknya, di profesinya di dunia konstruksi beliau juga mencatatkan prestasi menemukan teknologi pondasi sarang laba-laba bersama Ir. Ryantori. Atas temuannya ini, pak Tjip mendapatkan penghargaan Upakarti.

Sungguh, sebuah keteladanan bagi kita semua. Tentang keberpihakan, tentang kesetiaan pada pilihan, tentang profesionalitas.

Selamat jalan, Pak Tjip!

[kkpp, 25.11.2011]

Sila mampir juga ke:

In Memoriam Ir Sutjipto (Pak Tjip)