Plengkung dan Taman Nasional Alas Purwo (3)

kkpp11Antara Rowobendo dan Pancur, dua resort di area Taman Nasional Alas Purwo dimana masing-masing terdapat pos penjagaan (baca di sini dan sini), sebenarnya hanya terpisah lima kilometer saja. Tetapi di perjalanan kami banyak mampirnya. Walhasil jarak yang tak seberapa itu kami tempuh lebih dari dua jam.

Pura Giri Saloka, adalah salah satu spot antara Rowobendo dan Pancur. Umumnya menjadi tujuan dari peziarah religius umat Hindu. Beberapa mobil ber-plat mobil ‘DK’ tampak beriringan bersama kami siang itu (20/10).

Indahnya pemandangan alam berpadu dengan keindahan sosial, manakala mobil four wheel drive penuh dengan pecalang sengaja berhenti, memisahkan diri dari rombongan hanya untuk menolong kendaraan  lainnya yang tengah kesusahan karena ban bocor. Lanjutkan membaca “Plengkung dan Taman Nasional Alas Purwo (3)”

Pesona Penanggungan

Pada suatu kesempatan, saya bersama tamu dari Singapura yang hendak melakukan kunjungan bisnis melintas jalur tol Porong-Waru sebelum jalur itu hilang terlindas lumpur Lapindo. Sang tamu berulang kali menggumam tentang gunung Fuji (3.776 mdpl) sambil menatap pemandangan yang terhampar di sebelah kanan.

What did you say? Fuji?” sergah saya.

“Ya, Gunung Fuji. Mirip.”

“Jauh lebih kecil, bukan?” saya tak percaya.

“Benar. Ini miniaturnya Fuji. Coba lihat bentuk dan warna birunya. Suatu saat, datanglah ke Jepang dan bandingkan,” kata sang tamu mencoba meyakinkan saya.

“Apa namanya?” tanyanya kemudian.

“Penanggungan,” saya menjawab singkat sambil membatin, dasar Singaporean, gak pernah punya gunung, bisa-bisanya takjub dengan gunung yang sering saya lewati saat pulang balik Surabaya-Malang itu. Angan saya berkelana saat obrolan jadi senyap. Pikir saya, ya, jauhlah dengan pesona Semeru (3.676 mdpl),  gunung tertinggi di pulau Jawa yang terletak di sebelah timur kota Malang, yang senantiasa saya kagumi setiap berangkat ke sekolah menengah dulu. Tetapi keseriusan sang tamu mengamati Penanggungan membuat saya ikut memperhatikan gunung itu secara seksama.

Rupanya dia benar. Gunung Penanggungan pagi itu tampak biru cerah mempesona meski terlihat mungil dibandingkan dengan dua gunung yang mengitarinya: gunung Arjuno dan gunung Welirang. Bandingkan saja, gunung Arjuno setinggi 3.339 mdpl, gunung Welirang setinggi 3.156 mdpl, sedangkan Penanggungan hanya setinggi 1.653 mdpl.

Penanggungan | dari arah jalan raya Trawas-Mojosari (2011)
Penanggungan | dari arah Porong (2010)
Penanggungan | di kala senja, dari arah Pandaan (2011)

Tetapi Penanggungan-lah, gunung terdekat bagi warga Surabaya untuk plesir. Tretes, Trawas, Prigen, adalah beberapa lokasi yang tak jauh dari gunung itu. Di gunung itu pula, banyak terdapat artefak peninggalan Majapahit. Berbeda dengan ibukota Trowulan, yang dimaksudkan peninggalan di sini kebanyakan berupa punden berundak, petirtaan, serta gua atau ceruk yang konon biasa digunakan sebagai pertapaan. Dari beberapa candrasengkala yang ditemukan, menunjukkan peninggalan-peninggalan tersebut dibangun di masa akhir Majapahit. Sementara di Negarakertagama, gunung ini disebut dengan Pawitra, salah satu gunung suci bagi Majapahit.

Saya sendiri belum sempat berkunjung situs-situs itu dari dekat. Katanya sih ada puluhan situs yang bisa dikunjungi. Tetapi setelah mengunjungi Trowulan beberapa waktu yang lalu (baca di sini), saya jadi ingin menjelajahnya dari dekat.

Sementara saya hanya bisa memandangnya dari jauh. Setiap pagi sambil membuka pintu pagar sebelum berangkat ngantor.

[kkpp, 22.07.2011]

Keping terkait

Bersepeda ke Lapindo

Sila mampir juga ke

Millenarisme di Gunung Penanggungan

Ratusan Candi di Gunung Penanggungan

 

 

Berkunjung ke Ibukota Masa Lalu (1)

Saat ini Trowulan bisa jadi hanyalah sebuah kecamatan dari Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Tetapi berabad-abad yang lalu, kota ini pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan besar di masanya. Majapahit, Hayam Wuruk, dan Gadjah Mada, adalah nama-nama yang terkorelasi dengan nama Trowulan dan melegenda hingga sekarang.

Di kecamatan ini terdapat beberapa petilasan yang sering dikunjungi. Meski terletak tak jauh dari jalan utama yang menghubungkan Surabaya-Yogyakarta, menurut catatan di pemerintah kabupaten setempat, pada tahun 2009 situs Trowulan ini kalah jumlah pengunjungnya dari pengunjung daerah wisata kawasan Pacet-Trawas dan sekitarnya. Itu pun didominasi oleh anak-anak (mungkin pelajar), hampir sebesar 87.5% atau mendekati 50 ribu pengunjung dalam tahun itu. Angka kasar untuk pengunjung wisata di kabupaten Mojokerto, dari 4 pengunjung, 1 orang mengunjungi Trowulan.

Bila diingat, saya sendiri pun meski berkali-kali melewati ruas jalan Surabaya-Yogyakarta itu, hanya sekali pernah ke Trowulan. Itupun jaman masih pelajar SMP dulu. Karenanya, tak ada salahnya kali ini saya mengiyakan ajakan seorang kawan untuk hunting menghabiskan shutter-count ke sana, sekaligus mulai mengenalkan sejarah bangsa ke para junior.

***

Kami berusaha berangkat pagi-pagi. Menurut informasi, di Trowulan terdapat banyak tempat yang bisa dikunjungi dan tempatnya terpisah-pisah. Bila harus bertemu dengan terik, kami khawatir, para junior nanti jadi tidak menikmati perjalanan sejarah ini. Jadilah kami berangkat beriringan dengan kawan yang sudah menunggu dengan keluarganya di resto cepat saji di daerah Waru, Sidoarjo. Bila jalan lancar, paling hanya membutuhkan satu jam perjalanan dari bundaran Waru.

Tujuan pertama kali adalah Gapura Wringin Lawang, karena letaknya paling dekat dari arah Surabaya. Di sebelah kiri jalan pula, jadi tak harus pakai putar balik segala.

Saat kami sampai di parkiran, hanya ada satu mobil yang telah parkir. Bertiga dengan kami.

Gapura Wringin Lawang ini sendiri telah dipugar, terdiri dari dua bangunan kembar saling berkebalikan. Pada awalnya, hanya satu yang masih utuh, sedang yang satunya sudah dalam keadaan rusak. Menurut pak Seger, petugas penjaga candi sejak 1995 itu, biasanya di Gapura Wringin Lawang ini masih sering dilakukan ritual desa yang kali ini jatuh pada hari Minggu depan (10/7). Ah, sayang banget melewatkan momen tradisi desa setempat. Katanya, paginya ada acara arak-arakan tumpeng, malamnya ada pagelaran wayang kulit.

Gapura Wringin Lawang

Oia, Gapura Wringin Lawang juga dikenal sebagai Gapura Jatipasar, sebagaimana ditulis Raffles tahun 1815, merujuk pada nama desa lokasi gapura ini. Terbuat dari batu merah, berbentuk candi bentar, yaitu gapura tanpa atap yang fungsinya sebagai jalan masuk menuju kompleks bangunan tertentu di masa Majapahit itu. Setinggi 15,5 meter, dengan pondasi berukuran 11,5×13 meter. Sayangnya hingga kini kompleks bangunan apa tidak diketahui dengan pasti. Yang pasti, kompleks Gapura Wringin Lawang ini cukup luas. Bersebelahan dengan penduduk, juga dengan kebun tebu. Bersih, terawat, dan jangan khawatir, tersedia toilet…

***

Dari Wringin Lawang, kami melanjutkan perjalanan dengan ditemani pak Seger. Bersama pak Seger, kami mereka-reka kemana saja nantinya. Arahan kami sih, lokasi yang letaknya berurutan, serta objek yang biasanya disukai para fotografer.

Jadilah, kami ke merencanakan ke Gapura Bajang Ratu, Candi Tikus, Museum Trowulan, serta Candi Brahu dengan mampir terlebih dahulu ke Maha Vihara Majapahit, yang terdapat patung raksasa Buddha tidur.

Nuha dan Lula, yang segera akrab menjelajah sejarah

Suasana cukup cerah, dan alhamdulillah, anak-anak tampak menikmatinya.

***

Bajang Ratu, di Malang, tempat kelahiran saya dan menyelesaikan sekolah dasar dan menengah, dikenal sebagai nama jalan. Tepatnya Jalan Candi Bajang Ratu, di kawasan Blimbing, di sebuah kawasan yang nama jalan-jalannya menggunakan berbagai nama candi. Teman saya tinggal di jalan itu.

Ternyata saya baru sadar. Bajang Ratu bukanlah candi, tetapi gapura. Bedanya dengan Wringin Lawang yang terletak 3,5 km-an, gapura ini menggunakan atap serta lebih kaya pahatan.

Gapura Bajang Ratu

Beda yang lain, jika nama Wringin Lawang disematkan karena konon ditemukan pohon beringin (wringin = beringin, dalam bahasa Jawa) di sekitar gapura tersebut, sementara Bajang Ratu adalah merujuk pada sosok Jayanegara, raja kedua Majapahit, anak dari Raden Wijaya si pendiri Majapahit bergelar Kertarajasa Jayawardana, yang naik tahta pada saat kanak-kanak (bajang=anak-anak, ratu=raja).

Diperkirakan gapura yang didirikan seumuran dengan Candi Jago di Tumpang, Malang, serta mempunyai banyak kesamaan bentuk dan desain dengan Candi Penataran di Blitar ini, berfungsi sebagai penghormatan pada Jayanegara yang wafat pada tahun 1328. Juga ada yang menduga bahwa gapura ini adalah salah satu gapura menuju kedaton Majapahit.

Gapura Bajang Ratu, setinggi 16,1 meter
Terik di atas Bajang Ratu

Tak salah, kunjungan kami ke Trowulan (mungkin berasal dari kata Antarawulan, sebagaimana disebut di kitab Pararaton) dua-duanya dimulai dari dua gapura: Gapura Wringin Lawang dan Gapura Bajang Ratu. Setelahnya baru kami melanjutkan ke candi sebenarnya: Candi Tikus. (bersambung)

[kkpp, 04.07.2011]

Sila mampir juga ke:

– Mencari Jejak