Tutup

Presiden Truk Gandeng

Pernah merasa gemas saat mengendarai kendaraan di jalur Jombang-Kertosono atau Nganjuk-Caruban, atau jalur setipe lainnya? Gemasnya dikarenakan ada truk gandeng beriringan tepat di depan kita. Besar dan lambat, sementara kita terpuruk di belakangnya. Bersama debu dan asap engine yang terengah.

Mau disalip kondisi tidak memungkinkan, mau disabar-sabarkan, kok ya kepikiran kapan sampainya jika terus menguntit di belakangnya. Sebagian besar kemudian memilih menyalip saja. Nunggu saat yang tepat, atau nekat melawan marka yang tak putus-putus. Bisa saja langsung bablas lancar jaya, atau bisa ketilang pak polisi di kawasan itu yang teliti mengamati marka, atau malah menjadi sumber kecelakaan.

Bandingkan dengan di luar negeri... (pic source: http://glamgirlcars.com/car-tuning/truck-tuning-ride-the-best-truck/)

Iseng-iseng saya mengamati catatan perjalanan di GPS saya. Untuk Surabaya-Madiun yang menempuh 160-an kilometer ditempuh kecepatan rata-rata 40 km/jam, padahal kecepatan maksimum yang tercatat adalah di atas 100-an km/jam (saya malu menuliskan kecepatan sebenarnya, hihihi). Sementara jika pas di belakang truk gandeng, bisa dapet 30 km/jam adalah sebuah kemewahan.

Saya maklum sih mengapa mereka lambat. Dimensi yang besar, ditambah dengan konfigurasi gandeng, pasti membutuhkan skill mengemudi tersendiri. Belum lagi dengan beban penuh yang dua kali beban truk biasa pasti menguras torsi mesinnya. Lebih-lebih ketika di tanjakan maupun tikungan.

Tetapi jangan lupa, lihat juga resikonya. Berapa banyak kecelakaan melibatkan truk gandeng. Di tahun ini saja, sudah banyak kejadian yang melibatkan truk gandeng. Tanggal 11 Juni yang lalu, terjadi kecelakaan yang melibatkan dua truk gandeng bernopol L dengan satunya bernopol B di jalan tol Slipi arah Tomang. Di hari yang sama, tapi di jalan raya Sukowati, Sragen, truk gandeng yang melintas ditabrak dua kendaraan MPV. Tiga hari sebelumnya, kecelakaan kali ini terjadi anatara truk gandeng yang memuat drum menabrak tru tangki air yang sedang mengganti ban, satu orang meninggal menjadi korban. Tanggal 24 Februari, kali ini di ruas tol Cawang. Sementara di penghujung tahun kemarin, tiga hari menjaelang pergantian tahun 2011, truk gandeng memuat tepung batu putih seberat 31 ton terguling di jalur Kudus-Pati. Sembilan hari kemudian, kecelakaan truk gandeng juga terjadi di Cengkareng. Begitu banyak cerita tentang itu yang bakal menghabiskan banyak alinea.

Saya jadi mikir, siapa sih yang punya ide bikin truk gandeng? Ide utamanya mungkin sekali jalan bisa memuat lebih banyak muatan. Lebih ekonomis daripada menggunakan dua unit truk biasa. Tetapi tidakkah itu kemudian banyak mengganggu banyak kepentingan bersama. Apalagi di negeri kita, infrastruktur masih belum menunjang pengoperasian truk gandeng. Seandainya saja, truk gandeng hanya digunakan dari sebuah kawasan industri ke pelabuhan melalui jalan tol khusus, mungkin nilai gunanya bisa terasakan.

***

Perasaan gemas di alinea pembuka, juga saya rasakan sekarang. Gemas terhadap kepemimpinan RI-1 saat ini. Dengan legitimasi yang digenggamnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tak cukup tangkas membawa  negeri ini. Agak-agak mirip sopir truk gandeng. Kendaraannya berat dan terseok melewati jalanan berliku dan mendaki. Nggereng tapi cuma menghasilkan asap yang mengepul menambah polusi.

Sang sopir enggan menurunkan muatan yang memberatinya. Lupa bahwa tujuan sebenarnya adalah segera sampai ke tempat tujuan dan tidak menghalangi kendaraan-kendaraan lain di belakangnya yang juga ingin segera sampai ke tempat tujuan.

Jadi Pak Sopir, segeralah bertindak! Minggir sejenak, buang muatan tak perlu untuk menyelamatkan muatan yang lebih berharga lainnya. Atau, ganti kendaraan saja yang lebih tangkas dan sesuai untuk kondisi negeri ini yang tertatih di jalanan berkelok dan mendaki. Daripada mogok di tengah jalan lho …

Atau kita bersiap mencari sopir yang lebih sesuai. Yang lebih trampil mengemudikan amanah berat dari rakyat …

[kkpp, 22.07.2011]

Lampu Merah

Menjelang pukul tiga dinihari, bersama seorang kawan dalam perjalanan pulang usai bermain bridge. Jalanan telah lengang. Padahal di pagi hingga malamnya, biasanya perempatan itu ramai, bahkan kadang menimbulkan ekor antrian yang lumayan mengular.

Karena keasyikan ngobrol dan didukung suasana yang telah lengang, kali itu saya melewatkan lampu merah. Sangat jarang lampu lalu lintas di atas jam sebelas malam di Surabaya masih berwarna merah. Biasanya tinggal si lampu kuning yang terjaga.

Tiba-tiba seorang polisi menyegat saya. Setelah berbasa-basi sesuai standar operasi yang terdiri rangkaian sapaan, menanyakan SIM maupun STNK, bapak polisi tadi berkata,” Pak, yang namanya lampu merah itu selama 24 jam artinya tetap sama. Berhenti.”

Saya tercenung. Pak Polisi itu benar adanya.

***

Ya, Pak Polisi itu benar. Meski sempat terselip prasangka: mengapa jam segitu masing nongkrongin lampu merah dan pelanggarnya. Seratus persen benar dan seratus persen malam itu saya yang salah.

Tanpa harus buka UU Lalulintas, siapa saja juga tahu bahwa lampu berwarna merah identik untuk berhenti (stop) dan yang hijau untuk berjalan (go), meski di China ide pokok tentang lampu lalu lintas ini sempat dimodif menjadi merah berarti jalan (go) tetapi tidak berhasil, sepertinya seluruh dunia mengakui ide Garrett Augustus Morgan bahwa, tujuan dari lampu lalu lintas tentu saja untuk kebaikan bersama. Meminimalkan kecelakaan, juga untuk mengatur perlintasan agar tidak saling serobot.

Tapi sayangnya, seringkali kita juga melihat keseharian betapa banyaknya pelanggaran terhadap aturan bersama itu. Kecelakaan-kecelakaan yang terjadi karena menerobos lampu merah tak bisa dihitung lagi. Begitu juga kemacetan-kemacetan yang malah menjadi karena ketidaksabaran kita menunggu datangnya lampu hijau berkedip.

Yang lebih ironis lagi, anak-anak kita di bangku sekolahan sejak play-group, taman kanak-kanak dan sekolah dasar, sudah diajarkan hal tersebut tetapi di keseharian mereka sering menemukan pelanggaran atas lampu merah. Sebagai orang tua, tidakkah kita mengelus dada, pendidikan macam apa yang hendak kita berikan kepada anak-anak kita jika di dunia nyata anak-anak kita menemukan kenyataan bahwa semua aturan yang diajarkan adalah dibuat untuk dilanggar?

Mungkin karena itu, korupsi di negeri ini sedemikian sulit dibasmi. Lha wong taat pada aturan lampu merah saja enggan…

[kkpp, 01.06.2011]

Keping terkait:

Sumber Bencono

Sila mampir juga ke:

Lampu Merah dengan Gue

Terpojok

Kadangkala jalanan kita ibarat rimba. Siapa kuat, dialah sang raja.

Pada sebuah ruas di pantura perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur, sebuah kendaraan roda tiga hasil modifikasian yang dioperasikan sebagai kendaraan umum, terpojok di antara kendaraan lain yang lebih besar dan kuasa.

(kkpp, 15.06.2010)

%d blogger menyukai ini: