
Setiap bayi dilahirkan tak bisa memilih tempat dan tanggal lahirnya. Begitupun ia tak bisa memilih siapa bapak-ibunya.
Dari kedua bapak-ibunyanya, selain diwarisi DNA, ia mendapatkan nama. Nama yang cantik, nama yang mengadung doa dan harapan, nama panggilan kesayangan, tapi ada juga bayi yang apes, ia menjadi tak bernama karena bapak-ibunya bukanlah manusia yang bermoral karena memilih untuk membuang sang bayi bahkan sesaat sejak dilahirkan.
Dari kedua bapak-ibunya pula, sang bayi kemudian otomatis memiliki agama dan kewarganegaraan.
Dari tanggal kelahiran, sang bayi kemudian terklasifikasi menjadi zodiak, shio dan weton tertentu. Ada yang percaya jika klasifikasi itu menjadi sifat yang melekat, jadi jalan keberuntungan pun jalan kehidupan. Tapi ada juga yang tak percaya pada hal begituan.
Dari tahun kelahiran, sang bayi akan tergolongkan menjadi generasi tertentu. Saat ini, mengikuti kategorisasi Mark McCrindel, secara umum terbagi menjadi: generasi sebelum Perang Dunia II, generasi baby-boomers yang dilahirkan sejak PD II hingga tahun 1964, generasi X yang dilahirkan tahun 1965-1979, generasi Y juga dikenal sebagai generasi milenial dilahirkan 1980-1994, generasi Z dilahirkan 1995-2009, generasi Alpha bagi yang dilahirkan 2010-2024, serta generasi Beta yang dilahirkan tahun 2025-2039.
Beda generasi, beda pula bagaimana memahami nama yang diberikan. Ada yang ganti nama karena ‘kabotan jeneng’, ada yang ganti nama karena sakit-sakitan, ada yang ganti nama sebagai bentuk perlawanan ideologis. Seperti Ki Hajar Dewantara yang mengganti nama bangsawannya. Ada yang ganti nama karena rezim Orde Baru tak suka nama China. Ada pula yang ganti nama karena salah ketik saat lahiran di rumah sakit ataupun di sekolah ketika daftar sekolah pertama. Ada yang pakai nama panggung berbeda dengan nama aslinya. Iwan Fals, Ebiet G Ade, misalnya.
Ebiet G Ade, G-nya apa?
[kkpp, 02.07.2026]
note: postingan ini pernah diposting di instagram untuk event #Gerimis_Jun26_01

Tinggalkan komentar