Kepingan Koratkarit Paling Pojok

"musuh kita adalah waktu yang tak ragu bergerak maju, dan senyummu itu, tertinggal di masa lalu"

Raja Linglung

Ini kisah tentang Raja yang linglung. Di sekelilingnya para punggawa yang congkak dan para cerdik cendekia pintar memuji membuat Raja merasa digdaya.

Sering dalam pidatonya, dengan penuh kegeraman ia menuding rakyatnya sebagai antek-antek asing yang disusupkan untuk menggerogoti kedaulatan kerajaan.

“Wahai rakyatku, kalau ada yang bilang kerajaan kita ini tak peduli kalian, itu pasti antek-antek asing. Bukankah kalian bisa makan gratis bersama di kerajaan ini?” Punggawa dan cerdik cendekia bertepuk tangan bersorak menimpali pidato itu.

Raja Linglung lupa, semua kekayaan kerajaan, dari tambang hingga data rakyatnya, telah digadaikan semua ke Raja Adikuasa yang lalim. Bagaimana tidak lalim, Raja Lalim menutup mata bahwa kaki tangan Raja Lalim telah membinasakan Gaza baik seluruh warga, wanita dan anak-anaknya rata dengan tanah, lantas Raja Lalim meminta Raja Linglung membayar upeti berdalih upeti itu untuk membangun kembali Gaza yang damai.

Raja Linglung lupa bahwa Raja Lalim suka menculik raja lainnya yang tak ia suka. Raja Maduro, misalnya, tetangga yang tak mau memberinya minyak, diculik tanpa perlawanan. Raja Ali juga misalnya, dianggap berbahaya karena tak pernah takut pada Raja Lalim, Raja Lalim pun sambil berpesta mengirimkan rudal penjemput nyawa Raja Ali setelah sebelumnya salah satu rudal mengenai bangunan sekolahan.

Raja Linglung sebenarnya tak lupa. Ia cuma tak sepemberani raja pendiri kerajaan yang pernah menulis buku dua jilid berjudul “Di Bawah Bendera Revolusi”. Baginya, lebih baik hidup mulya di bawah ketiak kelaliman dengan sorak sorai para punggawa, cerdik cendekia, dan para panglima perang yang tak pernah berani berperang. Jangankan melawan Raja Lalim, kepada Kepala Bhayangkaranya sendiri saja Raja Linglung tak punya nyali.

Raja Linglung hanya berpura-pura linglung demi menikmati sorak sorai yang mengelukannya sebagai seorang Raja. Ia tak sadar, sorak sorai itu semua hanyalah kefanaan.

[kkpp, 01.03.2026]

Tinggalkan komentar