Sedia payung sebelum hujan. Antisisapi kalau pakai bahasa Srimulatan. Plesetan dari antisipasi. Sebuah upaya dini bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dari sebuah kejadian.
Meski merepotkan, tapi efek negatif dari hujan telah diminimalkan dengan persiapan yang telah direncanakan. Kalau hujan saja sudah diantisipasi, apalagi badai siklon. Mestinya persiapannya tak semata ribuan payung.
Meski kita punya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang secara rutin melakukan pengamatan, peringatan dan prakiraan cuaca, namun tak semua memanfaatkannya. Yang rajin paling otorita bandara dan pelabuhan. Yang cuek jauh lebih banyak. Kalaupun hujan dan tak bawa payung, bukannya masih bisa berteduh bukan?
Sebelum kejadian bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang visualnya sungguh menyayat hati, BMKG telah merilis peringatan badai siklon delapan hari sebelum kejadian. BMKG sudah bekerja, tapi payung apa yang bisa kita sediakan kalau ternyata daya dukung alam sudah kita rusak dan kita lalai? Apa yang kita bisa lakukan dalam delapan hari untuk mengembalikan pohon-pohon raksasa melindungi tanah dan air untuk meredam hujan ekstrem?
Kita sungguh terlalu. Ada yang rajin mengingatkan malah kemudian distempel macam-macam. Ya wahabi-lingkungan-lah, ya antek-asing-lah. Ada yang rajin memprotes pengrusakan alam malah dikriminalkan dan tak ada yang membela. Diam kita sungguh keterlaluan.
Kalau bencana kemudian membuat kehilangan nyawa, kehilangan anak, istri, suami, keluarga, kerabat, ternak, sawah, mata pencaharian, bahkan kehilangan kampung halaman, salah siapa?
Mereka yang mati tak lagi bisa protes. Mereka yang survivor akan menjalani hidup dengan trauma dan luka yang membekas.
Mestinya kita bisa berpayung pada negara. Tapi kita lalai karena membiarkan sampah yang tak kompeten menjadi pengelola negara.
[kkpp, 29.12.2025]
Note: tulisan ini pernah diposting di akun instagram @tattock_ untuk Gerimis 30 Hari (Gerakan Rutin Menulis 30 Hari berturut-turut) untuk tulisan hari ke-6.

Tinggalkan komentar