“Kalau semua tak membawa berita sepertimu, besok kita mau terbit kosongan? Apa kata yang sudah berlangganan? Masak koran isinya iklan dan iklan … . ”
Suara mbak Rindang pecah cemprengnya membelah ruangan lantai empat dan membuat semua yang sudah pada sibuk di depan layar komputer masing-masing melongok sebentar mencari tahu siapa yang kena semprotan di sore itu.

Saya tertunduk malu dan merasa bersalah. Sepenuhnya memahami masalah yang dihadapinya.
“Yud, duwe tabungan?” Suara Mbak Rindang masih mendominasi ruangan. “Kosong, Mbak!” terdengar suara Mas Yudi tanpa beranjak dari depan komputernya. Dari suaranya sepertinya otak Mas Yudi penuh dengan banyak hal yang hendak diketikkan dan sedang tak ingin ke-distract hal lainnya.
“Biasanya dirimu duwe tabungan akeh. Sopo yo sing nduwe yo … Helppppp … aku butuh beritaaa … ,” kali ini mulai terdengar nada panik meski tetap cempreng.
“Aku ada, mbak.”
“Aku juga punya, mbak.”
Tensi ruangan kontan mulai mereda. Eki dan Novi cekikikan lihat aku seperti udang rebus dan mereka lantas tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Tabungan yang dimaksud adalah tabungan artikel. Trik ini biasanya dipakai untuk mensiasati saat tak ada peristiwa yang bisa diberitakan di hari sepi peristiwa. Seperti hari itu yang jadi hari sial pertamaku sebagai wartawan pemula.
Tabungan artikel itu biasanya dikumpulkan saat pas banyak berita yang tak semuanya bisa dimuat di koran kami yang sudah punya jatah jumlah halaman tertentu.
Trik usang ini yang rasanya akan saya pakai di Gerimis Bulan Desember ini setelah di Gerimis yang pertama kali saya ikuti di bulan Juni yang lalu, saya patah setelah hari kelima.
Akankah trik ini berhasil?
[kkpp, 05.12.2025]
Note: tulisan ini dibuat untuk Gerimis – Gerakan Rutin Menulis 30 Hari, edisi Desember 2025 hari pertama.

Tinggalkan komentar